
Pencarian pun telah pupus dilakukan Daffin, sehingga. Empat tahun kemudian, Aileen dan Rani berhasil merintis Coffe eatry. Meski memiliki lima karyawan diawal, kini sudah bertambah 15 orang. Mereka bahagia karena bisa berhasil.
Bali terbilang cocok untuk kuliner cafe. Tak sedikit para bule yang selalu memesan dan membooking untuk pesta dan acara keluarga penting.
Coffe Airs. Terlihat jelas nama gerai mereka dengan dua pemilik, yaitu Aileen dan Rani. Dengan dua gambar, dua perempuan dan balita kecil ditengah menjadi daya tarik mereka.
"Kamu ga rindu sama Ayahmu Aileen?"
Rani, aku bingung mulai dari mana. Meski aku menyuruh seseorang. Kamu tau kan Danu, adik dari Kay kekasihku dulu. Aku selalu mendapat kabar dari mereka, merekapun senang mendapat kabar dan berita keadaanku. Hanya saja aku belum siap memberitahu kondisi dan tempat tinggal kita saat ini.
"Baiklah, itu sudah keputusanmu. Oh ya biar aku aja yang jemput si handsome Rivan oke?"
"Ya thanks ya Rani! "
Nama pangeran Aileen adalah Rivan. Ia sengaja tak memakai nama dari keluarga Daffin, ia masih malu dan tak menginginkan bertatap pada Daffin. Perjanjian yang tak Aileen harapkan, meski begitu kematian Deva adalah kesengajaan karena ulah Daffin.
Bagaimana bisa Livi, saksi tapi diam saja. Mungkin aku saja yang bodoh, karena rasa cintaku tak bisa mengungkap kebenaran. Atau aku memang bodoh dasarnya! benak Aileen.
"Miss, Nona.. hei gimana?" Aileen terdiam dan sadar.
"Ya, ada apa ya. Maaf saya tidak konsen. Biar karyawan saya akan melayani anda!"
Aileen memanggil seseorang, tapi tangannya ditepis. Pria itu membuat onar dan mengganggu Aileen, ia mencoba melepas dari genggaman pria bule nakal itu, tapi nahas entah apa yang terjadi membuatnya kesal. Seluruh karyawan berkumpul dan membawa palu. Sehingga satu pria asing yang mengganggu kini terdiam dan kabur.
"Nyonya bos gak apa, maaf kami lupa. Bawa security pak Tor, cuti sakit."
"Ya tak apa, jika boleh carikan satu security untuk pengamanan ya. Cafe kita membutuhkan itu!"
"Baik nyonya bos."
Aileen menarik nafas, ia tak lupa menatap jam.
"Kalian jaga gerai dengan baik ya!" titah Aileen. Ia ingin berjalan sebentar menghirup udara pantai, tiba saja ia menatap satu kapal turun ditengah tengah, membuat para wanita berbikini bersorak.
"Maaf, disana ramai sekali ada apa ya?" tanya Aileen.
"Oh.. di sana adalah pemilik resort Nona. Baru saja membeli pantai disebelah sana, sepertinya untuk mansion pribadi keluarganya kelak."
Mansion, tempat tinggal, baru kali ini pantai bisa dibeli, apa samudra dan gunung juga bisa di beli? Cih, dasar sok kaya.
Tak lama, Rani dan Rivan tiba. Aileen mendekati dan memeluk cium sang anak.
__ADS_1
"Thanks ya aunty best seller, udah jemput Rivan?"
"Iya dong, Aunty kan langka. Jadi seneng jemput kamu tuh handsome banget."
"Aileen, ada apa sih disana?" tanya Rani.
Aileen bahkan menggeleng, entahlah seseorang membeli pantai untuk tempat tinggal. "Apa, hah yang benar aja, serius?"
"Heuuump.. mungkin cucu atau generasi putri duyung. Kaya raya banget ya?" Rani dan Aileen tertawa membayangkan, sementara Rivan terdiam menatap seseorang yang membuatnya tak berkedip.
Aileen menatap sang anak, ia jongkok mengimbangi sang anak."Handsome, kamu liat apa sih?"
Aileen menoleh dan menatap pria yang turun dari kapal heli, dengan setelan jas mahal dan rompi. Pria itu membuka kacamatanya dan diselipkan di jasnya. Dia disana berjalan dan melingkar tangan sehingga rompi jas nya tersapu angin.
"Aileen, dia.. ?"
"Rani, dia juga pasti ngenalin kamu."
Aileen dan Rani bertatap muka. Tak membutuhkan lama, Aileen segera berjalan berusaha menghindar, Rivan yang tak ingin beranjak merasa sulit, Aileen pun benar benar menggendongnya.
"Bunda, aku mau disana. Turunkan aku!"
"Tidak sayang, lain kali aja. Anginnya ga bagus untuk kamu nak."
"Rivan ga boleh tahu, jika dia adalah ayahnya, Ayah rivan sudah tiada. Aku ga akan biarin dia mempunyai ayah pembunuh!"
Livi, lakukan tugasmu!
Baik balasnya, Sementara wanita berbikini bersorak, sorot mata tajam Daffin terarah pada cafe Airs. Apa ada hal yang tak bisa aku lakukan, cafe itu menghalangi View untuk mansion yang akan kita buat bukan?
"Maksud anda, kita harus menyuruh pemiliknya pindah?" tanya Livi. lalu Daffin mendeheum dan menaikan alis tanda Ya.
Suara langkah pantopel mengiringi dering menakutkan, karyawan Rani menatap tak percaya. Baru kali ini tamu datang memesan coffe dengan tampilan wah.
"Aduh bu, ini sih namanya Sultan yang beli. bukan raja lagi ya?"
Sina adalah kasir, berbicara pada Bos Rani.
"Kalian layani ya, tiba aja kepala bu bos pusing nih, mau pulang. Kalau udah sepi kabarin!"
Rani segera mengambil tas, dan keluar dari pintu belakang dengan topi hitam dan kacamata hitam. Rani takut Daffin melihat dan menanyakan Aileen kelak jika bertemu.
__ADS_1
"Idih bu bos, bukannya seneng malah kabur. Bukannya kali aja ada jodohnya ibu disana." celetug Sina.
"Kamu udah pulang Ran, tumben?" tanya Aileen kebingungan.
Rani duduk di sofa dengan memijit kening,
"Hah, kamu tahu ga Ail, masalah mulai. Hah aku seperti menyembunyikan istri orang saja, selama lamanya kita bersembunyi. Selama itu pula perang cinta dimulai lagi. Daffin dan kurcaci hitam datang ke cafe. Full satu lantai di booking!"
Serius, Hah ya ampun. Maaf ya buat kamu pusing, dan bakal terlibat. Aku yakin dia hanya sekali untuk berkunjung dan tak bertemu kamu kan di cafe?
"Aku harap begitu, sudahlah kamu temani Rivan dikamar. Aku juga mau istirahat hari ini lelah." balas Rani yang menguap, mengulat dan memejamkan mata bersandar di sofa.
Sementara Di Tempat Lain.
"Apa dua pemilik, jadi bos kalian dua cewe. Jadi yang bener yang mana nih nomornya?" tanya Livi.
"Maaf nyonya om, jika tidak nyambung ke bu Lien, ke bu Ran aja." jawab Sina, bingung karena secara model pria tapi suara perempuan.
Ia menyodorkan kartu nama dan memang selama ini, Aileen dan Rani mengenalkan nama singkat agar aman.
Livi segera memencet ponsel, namun tak ada jawaban dan di luar jangkauan. Tak lama Daffin mengambil kartu nama itu, ia memencet nomor bernama Lien.
Aileen terdiam, kenapa nomor panggilan masuk tak dikenal tiba. Ia keluar kamar tak asing, sudah pasti Rani jika tidur mematikan ponselnya. Alhasil ia mengangkatnya.
"Halo, ya selamat siang. Dengan siapa?"
Daffin terdiam, ia masih mengenal suara itu. sudah lama ia tak mendengar suara lembut dan merdu ketika bicara, meski lewat sambungan ponsel, Daffin terdiam tak berkata sepatah katapun.
Halo .. halo, Hah orang ini pasti usil.
"Bunda Rivan mau susu!"
"Oke nak. Sebentar bunda selesaikan telepon dulu ya, Rivan naik ke kursi biar bunda buatkan oke!"
Daffin masih mendengar suara perempuan dan anak kecil itu! ia segera meminta kasir Cafe untuk meminta data alamat pemilik rumahnya.
Namun tanggapan karyawan cafe berkata tidak tahu, dan itu melanggar kode etik privasi sang bos.
TBC.
Sambil tunggu Aileen Up, yuks mampir all ke temen litersi Author.
__ADS_1