Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
AKHIRNYA BERTEMU


__ADS_3

"Selamat sore."


Daffin ketika sampai di depan rumah Betrand, sang paman dari Aileen.


"Ya, sore cari siapa?"


"Maaf apa benar ini rumah paman Betrand, perkenalkan saya Daffin. Tunangan Aileen, apa Aileen nya ada?"


Dengan tersenyum Daffin, berharap ia akan bertemu.


"Kamu Daffin, masuklah Alexi tadi, sudah menghubungi uncle. Tapi empat jam lalu Aileen sudah kembali ke paris."


Mendengar perkataan itu, wajah Daffin lemas kesal. Meski ini salahnya yang tak menghubungi lebih awal, karena niat Daffin adalah surprise namun akhirnya gagal.


"Oh .. baiklah paman kalau begitu Daffin tak lama, akan kembali saja karena Aileen tak ada."


"Tunggu Daffin, cuaca tidak baik kamu lelah bukan, makan dulu." namun Daffin menolak karena tujuan nya adalah bertemu kekasih hati.


"Baiklah kalau begitu paman tak bisa memaksa."


Ketika Daffin pamit, ia terasa lelah namun saat kakinya melangkah dalam hitungan dua puluh detik. Seseorang telah berdiri di hadapannya.


"Hai kamu menyusul ku?"


Aileen menatapnya, begitupun mood booster Daffin naik, Ia bahkan tersenyum lebar dan menghampiri Aileen. Daffin kilat tanpa malu malu, memeluk erat dan berkata.


"Aku rindu padamu, maafkan aku. Aku mohon jangan pergi lagi!"


Paman Betrand, pun tersenyum dan tutup mata, ia masuk meninggalkan Aileen dan sang kekasih. Sementara Aileen masih terdiam kaku karena mendapat peluk oleh Daffin.


"Aku sudah disini Daffin, aku sesak dengan kamu seperti ini amat erat." tutur Aileen, dan Daffin menatap, ia mengecup pucuk rambut Aileen dan menggenggam tangan Aileen.


"Aku kira, aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi Ail," ucapan Daffin membuat hati Aileen luluh, ia mengurungkan kembali ke paris. Saat Alexi menjelaskan semuanya.


Jika Daffin telah lama menunggu di rumah, dan berusaha menyusul Aileen tanpa telepon, Aileen menatap Daffin yang berjuang untuknya. Meski perasaan Aileen ragu. Apakah ia telah jatuh cinta mendalam pada Daffin.


Aileen pun memegang erat tangan Daffin, ia menghampiri kediaman uncle dan berbincang bersama dengan santai. Hingga tiba Aileen memesan tiket kembali meski penerbangan malam.


"Paman terimakasih, Aileen dan Daffin pamit."


"Oke .. kalian jaga kesehatan dan tetap hati hati!"


"Ok paman."

__ADS_1


Hingga sampailah mereka dalam bandara penerbangan, Aileen menunggu Daffin, ia meniup segelas coffe, ia pun memberikan pada Daffin untuk mencicipinya.


"Segelas berdua?" tanya Daffin.


Aileen pun tersenyum.


"Iya, kamu ga mau .. aku habiskan. Tadi mau pesan, aku bingung enggak tahu kamu suka apa. Mau kembali aku mager, lihat saja antriannya!"


"Eh .. siapa bilang aku mau jika gelas ini adalah wanita penyinar hatiku."


Gombalnya, dan mereka pun mengobrol santai.


Setengah jam berlalu, penerbangan menuju paris delay! mengubah jadwal karena cuaca tidak baik. Aileen berada di bandara pukul sembilan malam, sedang penerbangan di tunda esok hari pukul sebelas siang.


"Hah, bagaimana ini, kita tak mungkin kembali ke rumah paman, aku tidak enak Daffin?"


"Aku ada ide, ayo ikut!"


Aileen mengekor hingga beberapa puluh menit.


"Untuk apa kita kesini, ini terlalu berlebihan dan menghamburkan uangmu, kita kembali ke rumah paman Betrand saja!"


"Aileen, aku mohon padamu jarak kita ke paman satu jam lebih, jika di hotel ini hanya dua puluh menit, kita tak akan terlambat, percaya padaku!"


Aileen menatap pria di hadapannya, ia pun memilih untuk menurut, karena sudah lelah dan mengantuk.


"Aku tau dirimu sudah amat lelah Ail?"


Dan ketika Daffin, memesan dua kamar. Seorang kasir berkata, jika hanya tersisa satu kamar, karena full dan menyisakan satu kamar dengan sofa bed besar.


"Apa?"


Aileen menatap tak setuju. Tapi karena sudah malas berdebat dan lelah dengan adu debat. Mereka pun mengambilnya. Setelah pelayan mengantar ke depan ruang kamar hotel.


Daffin membuka dengan kunci card nya, berbeda dengan Aileen yang berdegub ketika akan tidur satu kamar.


"Ail, ayo masuk!"


Aileen hanya membulat dan menatap kearah samping, dan didalam ruangan kamar itu.


"Kita berdua saja Daffin?" tanyanya, namun Daffin tersenyum dan menarik Aileen, hingga ia jatuh ke pelukan Daffin.


"Kita berdua memang mau apa lagi, bukankah kita akan menikah. Kita sudah bertunangan." bisik Daffin, pada telinga Aileen menggoda.

__ADS_1


"Dasar pria kriminal."


Aileen pun menghindar dan segera masuk untuk membersihkan diri. Hal tujuan utama adalah ia pergi ke kamar mandi, berganti baju dan tidur. Tapi Daffin hanya tersenyum menatap sang pujaan hati, yang sudah mengeraskan keran air.


"Aku mandi dulu, kamu jangan ke kamar ya!"


"Baiklah, aku akan di sofa."


Hingga beberapa jam kemudian. Daffin menatap Aileen yang telah terlelap, ia pun menyelimuti Aileen dan merebahkan di sofa bed menatap Aileen. Daffin kembali dan mengeteh dari balkon, ia masuk kembali ke kamar.


Membiarkan Aileen yang telah lebih dulu istirahat, baginya ia telah bertemu dengan Aileen adalah kebahagian. Ia pun menatap ponsel, diam-diam Daffin mengambil gambar saat Aileen yang sedang tertidur.


Aileen yang telah terlelap pun terbangun,


ia merasa sedikit kering dan haus. Tapi ketika Aileen terbangun, ia mengambil segelas minuman, namun matanya melirik dimana keberadaan Daffin.


Sehingga ia pun menoleh ke arah samping, terlihat jendela balkon terbuka dengan tebasan sedikit angin. Saat itu Aileen tak sengaja menumpahkan wadah air ke bajunya, hingga, ia terpaksa mengganti piyama terusan, piyama putih diatas lutut.


"Aku lupa, piyama ku beberapa baju di koperku telah masuk, di bagasi pesawat. Hanya tersisa ini, apa ini tidak terlalu mencolok. Jika Daffin melihat apa aku terkesan menggoda. Dari pada aku masuk angin, pakai saja lah." gerutu Aileen bicara sendiri.


Saat Aileen membuka pintu kamar mandi ia berteriak, karena Daffin tak memakai baju.


"Ah .. Daffin, cepat pakai bajumu!" teriak Aileen yang baru saja keluar, dari pintu ujung.


"Aku hanya ganti baju."


Daffin hanya berniat mengganti kaos, namun nahas hanya ada singlet tanpa lengan. Karena beberapa baju ada di koper pesawat.


"Mereka saling memandang, apa kamu ingin tidur dengan pakaian seperti itu?" ucap Aileen.


"Ya, baju ku di koper semua Ail?"


"Lalu kenapa kamu ganti?"


Aileen menjawab karena basah tertumpah air dan hanya ini.


Mereka saling memandang, Aileen pun salah tingkah ketika menatap tubuh Daffin yang terlihat jelas. Terlihat belahan roti sobek yang membuat Aileen keringat dingin tak menentu.


"Sial apa aku telah tergoda oleh pria kriminal ini! Aku kenapa jadi seperti ini?" batin Aileen salah tingkah, yang menoleh ke arah samping, tak berani menatap Daffin merebahkan diri di sofa.


Aileen pun segera menarik selimut dan menutupi wajahnya. Ia tersenyum sendiri dengan rasa yang tidak masuk akal, mengapa ia membayangkan Daffin dan ingin lebih, apakah karena mereka berdua saja di tempat ini.


TBC.

__ADS_1


Sambil Tunggu Up! Yuks mampir ke temen litersi Author.



__ADS_2