
"Ka, kamu sedang apa disini?" tutur Aileen, ia menoleh dan menatap Daffin ada di sampingnya.
"Sudah pulang Ai, sibuk sekali ya kamu?ternyata putri dari om Anton ya?"
"Kenapa kamu bisa tau?" balas Aileen.
Dan Daffin, menjelaskan jika."Om Anton adalah teman baik semasa sekolah papaku, aku tidak sangka akan di jodohkan oleh kamu." lirihnya.
Aileen pun meninggalkan Daffin, dan masuk ke dalam rumah, karena tidak percaya.
Tak lama Aileen masuk, dan disambut oleh ayah serta terkejut, karena ada tamu, ia adalah orangtua dari Daffin.
Aileen pernah sekali bertemu dengan tante Tere, karena mas Deva. Aileen pun menyapa dan ikut duduk bersama, sehingga mereka mengobrol santai di ruang tamu, Aileen duduk dekat dengan mama sambungnya, dengan hati berdebar.
"Mah, apa maksud semua ini?" bisik Aileen.
Mama sambung pun menjelaskan, jika semua ini nanti kamu tahu, dan tanyakan langsung pada ayah. Ayah Anton dan om Alber menjelaskan soal perusahaan, dan bertanya akan Aileen hari ini kemana.
"Kamu selarut ini kemana Aileen?" tanya Anton.
"Ke Bizard, terkait banyak audit.'
Aileen pun menjelaskan, jika ia sedang audit dadakan, dan mampir ke pabrik bersama Danu.
"Ayah, Aileen ke kamar dulu ya, Aileen gerah, mau bersih bersih dulu."
Dengan hati berdebar, Anton menatap putrinya, ia paham jika ingin menghindar.
"Sebentar nak, ayah ingin mengenalkan jika tuan Alber dan nyonya Tere, orangtua Daffin. Dan ia adalah teman lama ayah dulu, masih di sekolah. Itu pun ayah tak menyangka, jika saat itu Daffin dan siapa Livi asistennya, datang bertamu belum lama ini."
Sehingga Aileen, menatap bulat mata dengan jelas, dan ia mengatur nafas amat dalam.
"Baiklah, ayah lalu bisakah ayah menjelaskan inti nya saja karena, Aileen lelah hari ini. Ingin langsung istirahat, bolehkan."
__ADS_1
Ayah pun menatap Aileen tajam. Ia menunduk dan meminta maaf. Dengan perlahan Ayah menjelaskan.
"Nak, Ayah ingin kamu bahagia perlahan. Ini sudah saatnya, maafkan ayah jarang berbicara padamu, tapi ayah mohon terimalah. Kedatangan tamu istimewa ini demi masa depanmu!"
"Maksud ayah?"
"Ayah berusaha menjodohkan kamu dengan putra teman ayah, yaitu Daffin!"
Jreng.
Aileen diam kaku, membulatkan mulutnya. Tubuhnya tak bisa di gerakan. Menatap Daffin, om Alber dan tante Tere, ia menatapnya seolah ingin mendengar ucapan balasan dariku.
"Jadi, aku dan pak Daffin, atasanku bekerja, a-ku ja-di aku dan Daffin harus menikah yah?"
"Iya sayang putri ayah, tepat sekali bagaimana, bukan kah kalian sering bertemu dan mengenal kan?" ayah menatap Aileen dengan wajah pucat lemas.
Hah.
"Aku dan bos krim..."
Belum ia menjawab jika Daffin adalah bos kriminal, yang ia tidak sukai. Aileen menjatuhkan diri dan ia pun pingsan.
Sehingga semua berteriak dan kaget. Daffin refleks, ia membantu dan membopong Aileen ke kamarnya,
Anton pun, menenangkan mungkin putrinya lelah karena hari ini ia sibuk dan penat.
Sehingga mereka semua kembali makan malam, dan beristirahat tanpa menunggu Aileen.
"Maafkan mungkin, Aileen terkejut, karena ini sedikit surprise membuatnya sedikit syok." ucap Anton.
Hanya Daffin, yang menunggu Aileen di depan kamar dan mengompres, serta memberikan minyak oles, ditemani bi Ratih.
"Bi, apa sebelumnya Aileen pernah pingsan?" tutur Daffin.
__ADS_1
"Sudah lama enggak pernah, kecuali kalau ada berita yang membuatnya panik, itu reflek dari trauma beratnya Den. Sebelumnya non Aileen, berjanji enggak mau menikah, karena takut kehilangan. Bahkan sempat dia bilang, kalau mau adopsi anak biar ga kesepian, tapi enggak mau nikah."
Deg.
Daffin tertegun, ia salah datang diwaktu yang tidak tepat.
'Apa Aileen masih belum melupakan kejadian, ketika aku salah menangkap Caty, pedendam sekali kamu wanita. Aku tak seperti yang kamu pikirkan.' batin Daffin.
Dua puluh menit berlalu, Aileen siuman dan menatap memeluk bi Ratih, jika ia tak ingin dijodohkan dan belum sanggup menikah.
Tapi jika menatap umur nona Aileen, bi Ratih sudah yakin jika itu cukup, karena Nona Aileen sudah umur hampir 30.
"Bagaimana jika saran bi Ratih. Non Aileen mengenal pendekatan lebih dulu."
Aileen pun menatap bi Ratih, yang seperti orangtuanya itu, memeluk erat dan tak lama Daffin mengetuk pintu kamar Aileen, yang jelas ia sudah mendengar pembicaraan di balik pintu tersebut.
Aileen menatap penuh dalam, Daffin meminta maaf karena kedatangannya mendadak, dan membuat perjodohan orangtuanya tiba tiba. Sementara Aileen masih menunduk, ketika bibi keluar, dan Daffin ikut keluar dari kamar, menunggu di teras ruang tamu.
"Kenapa kamu yang datang. Bukan mas Deva, kenapa dia ga ikut, dimana mas Deva? kenapa kamu yang dijodohkan denganku. Apa kamu tahu sebelumnya?"
"Aku hanya tahu, ini yang terbaik. Dan aku punya perasaan lebih padamu, ketimbang Deva. Aileen."
Terdiam Aileen, hal itu membuat Aileen bingung tak bisa menjawab.
"Aku rasa, kamu harus membatalkannya, Daffin. Karena aku tidak mau menikah."
"Tapi aku tidak akan pernah membatalkannya, dan akan menunggumu tanpa berhenti." lirih Daffin, membuat Aileen menggelengkan kepalanya.
TBC.
Sambil tunggu Up! yuks, mampir lagi ke temen litersi Author.
__ADS_1