Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
ROMANTIS SEKALI


__ADS_3

Sudah hampir tiga minggu Daffin memperlakukan Aileen dengan manis, ia kadang mengantar jemput Aileen juga, terkadang memberi Aileen ruang ketika ingin sendiri.


Daffin tak patah arang meski waktu hampir sebulan itu, Aileen masih belum menyukainya bahkan masih acuh saja, ia berharap Aileen perlahan melupakan kekasih yang telah tiada, dan mengingat.


"Siapa aku sebenarnya, aku pernah ada di kehidupan awal sebelum Aileen dengan Kay, meski sedikit, setidaknya Daffin yakin, jika Aileen itu jodohnya." tutur Daffin.


Sementara Di Kantor.


"Aileen, apa benar kamu akan resign?" tanya Angel.


Aileen sebentar diam, dan membenarkan jika ia akan resign. Dan mengurus perusahan ayahnya kembali.


"Aku kembali dibutuhkan oleh ayahku, memimpin usaha Bizard, usaha keluarga." senyum Aileen menjelaskan.


"Benarkah, bukan karena kamu akan menjadi nyonya Daffin."


Cih!


Aileen pun menatap Angel dan berbisik.


"Kenapa kamu tahu soal itu. Bahkan aku ga mengharapkannya. Aneh sungguh rumit aku tidak mencintainya Angel, hanya karena keluargaku dan dia sefrekuensi dan terjalin bisnis, ah! aku rumit akan pengusaha yang tidak membebaskan kehidupan asmara anak anaknya, semuanya diatur."


"Kamu yakin, jangan gegabah dengan perkataan Ai, bisa jadi semua akan berbalik. Banyak wanita yang ingin mendapat hati pak Daffin yang cool meski kaku begitu, meski dari kalangan seleb dan anak investor lain mendekati, terlihat ia manis dan berubah jika bersamamu."


"Kamu tau sejarah percintaan Daffin?"


"Iya, aku tahu nanti aku kasih beberapa link ke wechat mu ya Ai, bahkan skandal kakak adik itu selalu cinta dengan wanita yang sama." jelas Angel, membuat Aileen terdiam.


Aileen pun hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaan. Dua hari ini ia aman, tak bertemu Daffin di kantor, karena ia pergi ke luar negeri. Meski ia sesekali menatap ponsel, biasanya ia akan memberikan kabar melalui pesan.


'Eh... aku kenapa ya, mengapa jadi khawatir padanya?' batin Aileen, pun memulai kembali pekerjaannya.


Satu minggu kemudian, Aileen yang sudah ada dirumahnya berniat akan keluar mencari apartment baru, Lani akan menikah. Otomatis ia akan sendiri, tanpa teman bicara, hingga ia pun bersiap.


Satu jam ia makan di cafe dekat dengan kantor, dihari libur. Ia terkejut menatap Deva, tiba tiba datang menemuinya.


"Hai, gimana kabarmu Ai?" Aileen pun tersenyum.


"Mas Deva, bagaimana kesehatanmu sudah pulih lebih baik?"


"Seperti yang kamu lihat Ai, aku sangat baik. Mangkanya aku ke tempat kamu, rindu sama kamu."


Eh! Aileen.

__ADS_1


Hingga mereka pun makan bersama dan suasana cair, mereka tertawa, bahkan menceritakan film romance yang membuatnya tertawa terpingkal pingkal.


"Kamu sepertinya bahagia jika dekat mengobrol dengan ku Aileen?" tanya Deva.


"Ia mas Deva, entahlah aku merasa nyaman dan seperti tak ada beban yang mengikat, tak seperti bersama orang yang satu lagi." cetusnya membuat Aileen begitu saja celos bicara.


Saat Aileen mengemil kentang, terdengar suara didekatnya dan duduk bergabung.


"Satu orang yang satu lagi siapa Sayang?"


tutur Daffin.


Bahkan ia sudah ada didekatnya. Deva dan Aileen menoleh dan memutar mata, saking terkejutnya. Karena Daffin hadir dengan tatapan begitu tajam.


"Daffin .." lirih Aileen tak enak hati.


"Deva, ingat akan perjanjian kita yang telah sepakat, Aileen tunangan ku. Kamu tak berhak mendekatinya." ancam Daffin, membuat Aileen menutup mata, dan Deva menatap Daffin, hingga berlalu pergi kesal, Deva malas berdebat, pamit pada Aileen.


"Sampai ketemu lagi Ai." lirih Deva, dan ia pamit.


"Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku Ai, apa tidak ada sedikit harapan mencintaiku?"


Daffin bagai pengemis, yang meminta jawaban pada Aileen.


Aileen merasa tidak tega, ia sebenarnya ingin mengatakan jika saat Daffin tak ada, Aileen berusaha melirik ponsel menunggu Daffin. Namun ia belum yakin jika itu cinta atau bentuk perhatian saja.


"Kenapa apartemen mu, kamu ga berniat macam macam kan?"


"Hahaha, untuk apa aku macam macam, karena sebentar lagi kita akan sah kan?"


Aileen sadar, akan sikap yang tak membalas, berkali kali ia mengirim bunga selalu ia tinggalkan, abaikan dan dibuang. Daffin pun melihatnya, tapi dia tak marah. Hingga tiba di Apartment baru, dimana Aileen mengikuti Daffin, ia membuka dengan id cardnya.


Hingga mereka duduk di kitchen room, Daffin membuatkan makanan dan minuman. Dengan ahli memasak, ia menghidangkan sesuatu. Aileen yang masih menatap sisi ruangan, menatap hanya ada satu kamar.


"Kok satu kamar?"


Daffin, pun menjawab karena pemilik aku sendiri, saat itu aku membeli apartment ini bukan untuk berkeluarga, tapi untuk istirahat dimana aku lelah.


"Ai, kemarilah ayo makan bersama!" ajak Daffin, karena sebelum menjemput Aileen, ia memasak dan mudah di hangatkan.


Aileen pun menghampiri, dan mencicipinya. Ia bahkan terkejut karena rasanya enak, luar biasa hingga dengan lahap ia memakannya.


"Pelan - pelan jika kamu kurang, ambillah di piringku." Aileen amat malu ketika Daffin berbicara seperti itu.

__ADS_1


"Kamu pandai masak ya, aku salut."


Hanya lontaran pujian dari Aileen, membuat senyuman Daffin amat senang. Benar saja menjadi diri sendiri, cara memperlakukan adalah hal mula yang baik.


Satu jam berlalu mereka menonton film romance, namun tak sengaja dipertengahan


mereka melihat adegan kiss.


Aileen terkesiap panas dingin, hanya menelan saliva. Aileen pun mengambil alih dan berlalu ingin pergi. Namun cekatan tangan Daffin menariknya hingga tubuhnya berada disofa dan ada dibawah posisi kungkungannya.


"Izinkan aku mencintai dan memilikimu, meski diakhir kamu akan menolak ku Ai, setidaknya aku pernah mencintaimu dengan dalam."


Aileen mendengar perkataan itu amat tidak tega. Ia hanya belum yakin apa benar ini cinta.


Tak terasa Daffin, memeluk dan mencium ranum Aileen yang ingin bicara, namun sudah ditutup paksa. Aileen tidak menolak, membiarkannya, mungkin dengan ini Daffin paham jika aku telah menerimanya.


Daffin pun tak kalah ia mengeksplore segala hal bibir manis Aileen, karena ia bahagia akan dirinya yang mengetahui jika Aileen menerima dan menyukainya. Rengkuh bibir itu saling menyatu, dengan diam Daffin menatap Aileen.


"Aku tidak menolak mu Daffin, tapi aku tidak yakin apa ini cinta atau perhatian. Maaf jika aku selalu menyakitimu. Terimakasih sudah bersabar." ucap Aileen.


Daffin pun bahagia, ia pun kembali mengecup dan menelusuri ranum Aileen, yang membuatnya candu. Jari jemari Daffin bahkan, merengkuh helain rambut Aileen.


Sehingga dua sejoli itu melupakan pertengkaran, dan perdebatan di awal kisah mereka. Aileen hanya menyadari dan ingin membuka hati lebih kembali, untuk pria pilihan Ayah.


Saat mereka semakin menyatu, Aileen meminta jeda nafas, hembusan deru nafas mereka saling menatap.


"Jangan menyentuhku berlebihan, jika tidak aku tidak segan untuk me- nendang-mu." lirih Aileen pada Daffin.


"Baiklah, lagi pula jika kita membuatnya sekarang, bukankah itu wajar?"


"Ide bodoh! singkirkan dirimu, aku ingin ke .."


Hup!


Benar saja, Aileen dibuat kesal, ketika Daffin benar benar bagai singa, meski mereka tak melakukan hal lain, tetap saja kiss kesekian kalinya, seolah membuat Aileen sedang berguru untuk persiapan malam pertama.


Ting Nong.


Tak lama bell berbunyi mereka pun terdiam.


dan menatap arah pintu.


TBC.

__ADS_1


Sambil tunggu Up! yuks mampir ke temen litersi Author.



__ADS_2