Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
BISAKAH MENCINTAIKU


__ADS_3

Pagi telah menyambut dengan cerah, Aileen yang masih terlelap dalam mimpi.


"Non .. Aileen, ayo bangun!"


"Sepagi ini, ada apa bi?"


"Non, percaya sama bibi kan, ayo bersiap mandi! bibi bantu, sebentar lagi ada perias datang."


"Apa .. perias?"


Dengan membulat Aileen merengek, namun ayah Anton masuk ke kamar, memberi butiran kata yang memaksa.


"Nak, bersiaplah demi kebaikanmu dan kebahagian papa, pagi ini kamu bertunangan dengan pria pilihan ayah!"


Aileen menatap ayah, ia sangat lemah jika menyangkut dengan nama ayah, andai ibu masih ada, Aileen pasti akan dibela dan semua paksaan ini tak akan terjadi.


"Baiklah Ayah, Aileen bersiap dan akan cepat turun."


"Ayah tunggu nak!"


Beberapa jam kemudian, Aileen telah dirias dengan balutan kebaya peach, ia menatap Alexi adiknya ikut menyambar dan mendekatinya.


"Ka, sukses ya di lamar pria ganteng. Alexi suka lho sama tuan Daffin itu, dewasa, cool. Pokoknya manis banget."


"Alexi, kalau gitu kita tukeran tempat mau gak, kamu aja yang tunangan sama Daffin gimana dik?"


"Owh mau aja sih, tapi untuk kali ini maaf ka Aileen. Alexi ga bisa bantu. Alexi hanya mengagumi saja, sudahlah ka Aileen menurut saja, sudah tradisi kan. Jangan jadi anak durhaka."


Alexi pun pergi dari kamar Aileen, kala itu karena takut akan hal aneh yang dilakukan Aileen, belum lagi ia takut oleh ayah.


"Enak aja aku gantikan, bisa - bisa uang bulanan ku distop, kredit card aku disita jika membantu ide kak Aileen, belum lagi dibuang dari rumah ini, tidak boleh." Alexi menggelengkan kepalanya tak ingin membayangkan hal buruk terjadi padanya.


Setelah lama, Aileen pun ikut duduk di ruang tamu yang telah dihias. Aileen terkagum akan ruangan yang telah cantik dihias. Ia bingung karena semalam masih belum siap.


Para hadirin menyusuri ruang tamu yang telah ada kerabat dan partner kawan ayah dan mama yang telah datang, tak lupa Daffin telah menunggu, yang memandangnya. Sungguh gadis yang menawan, cantik dan anggun.


"Sudah non, insyallah non Aileen bahagia dunia akhirat. Lagi pula ini baru tunangan pasrahkan saja, toh dengan ini ayah non akan bahagia."


"Ayah bahagia, tapi aku? andai aku masih diberi kesempatan bertemu pria yang aku cintai bukan perjodohan."


Dua jam berlalu acara pun khidmat, Aileen sakin gugupnya, ia gemetar menatap Daffin. Daffin memasangkan cincin pertunangan di jari Aileen, begitupun juga sebaliknya memakaikan nya dengan pelan. Tak terasa bulir air mata dimana ia teringat Kay.

__ADS_1


"Harusnya kamu Kay, saat itu kita harusnya seperti ini bukan pria lain." batin Aileen, merasa takut.


Aileen bahkan tak berani melihat Daffin, dimana gemetar dan tak menatap pria itu, namun Daffin terus saja memandang, dan bahagia. Ia mendekat dan mengajak Aileen ke tepi balkon.


Seluruh yang hadir menjamu makanan, Daffin menarik tangan Aileen, setelah memberikan minuman dan pudding.


"Aku lapar, bisakah kita ikut makan?"


"Ayo ikut aku!"


"Mau kemana?"


Aileen yang ditarik oleh Daffin, ia dengan lembut mereka pun berada di tepi ujung lantai atas. Rooftop yang memang Aileen tak pernah injak. Terakhir kalinya ia bersama Kay saat sekolah. Tapi semua dihias cantik


dengan satu meja dan bunga serta hidangan makan untuk berdua di tengah tengahnya, seolah memang disiapkan untuknya.


"Semua ini kamu yang buat Daffin?"


"Heuum. Gimana kamu suka Ail?"


Aileen pun kembali diam, tak ingin wibawa nya turun dengan makan mewah meski dirumah.


"Kita makan disini, agar tidak canggung dan ramai dibawah. Lagi pula, ide orangtua kita menyiapkan seperti ini." jelas Daffin, yang menarik kursi untuk Aileen.


"Sudah selesai makasih, ayo kita kebawah!"


Daffin pun menurut. Ketika berjalan kebawah gaun Aileen terinjak oleh Daffin, hingga kilat Daffin, menahan.


"Ah...saat ingin terjatuh."


Daffin menarik tangan dan rangkul hingga tubuhnya berpeluk. Sebuah pipi dan ranum Aileen menempel, mereka pun terkesiap diam saling terpana. Mata mereka saling menatap diam dalam lima menit, detak jantung mereka benar benar tidak terkondisikan.


Aileen terdiam tangan nya terkunci rapat oleh genggaman Daffin, entah mengapa ia sulit untuk bergerak. Perasaan syok akan terjatuh, jadi kaku ketika mendapat pelukan.


Daffin yang terbawa suasana, ia menggeser bibir Aileen yang menempel di pipinya, hingga


ia menyentuh ranum bibir Aileen, ketika Aileen terpejam diam, merasa tak ada penolakan jika Daffin menyentuh ke arah lebih dalam.


Daffin memainkan nya, dan Aileen menyambutnya dengan membukanya semakin haus, perasaan itu membuat mereka hanyut.


Lima menit mereka terbawa suasana dengan angin yang semilir. Daffin yang merangkul tubuh pinggang Aileen dengan erat. Ia pun semakin terbawa suasana. Namun ketika semakin jauh tangan Daffin berada di punggung dan tungku leher Aileen, dan menyentuh kebawah, semakin erat dan panas terasa sesuatu yang hangat. Aileen tersadar dan melepas kecupan itu.

__ADS_1


"Hah.. apa yang baru saja kita lakukan tadi, kamu pria kriminal mengambil kesempatan!" Aileen memukul pundak Daffin.


"Bukan nya tadi kau juga menerima ya? Aku mabuk tidak sadar." teriaknya, gemas Daffin menggoda.


Aileen yang malu meninggalkan dan kebawah tangga lebih dulu, ia merapihkan rambut dan segala hal. Perasaan degub kencang tak beraturan ini membuat Aileen aneh, dan memegang bibirnya sesekali.


Hingga dimana, Aileen kembali dimana keluarga berkumpul. Ia pun meminum segelas minuman cherry agar gugupnya pulih. Tak lama Daffin, sudah ada disampingnya sehingga ia tersedak kaget.


"Uhuuk. Uhuuk."


"Minumlah air putih ini, tidak hati hati!" lirih Daffin, memberikan sebotol air mineral.


'Sial pria ini mengekor selalu. Ah jika tak ada ayah dia pasti sudah habis aku injak kaki dan wajahnya.' gerutu batin Aileen.


"Akhirnya frans acara selesai juga, selamat untuk kalian Daffin dan Aileen. Om ucapkan kalian bahagia selalu, dan dua bulan ke depan om harap awal pendekatan kalian dimulai, dan secepatnya menikah!"


Menikah! raut wajah Daffin seolah senyum dan santai.


Aileen menatap paman Alber dan ayahnya semakin intim, saat berdampingan dengan Daffin, duduk dekat dengannya bersebelahan membuat Aileen tak karuan, perasaan cinta itu belum tumbuh.


"Aileen, keluar cari angin lagi mau?" ajak Daffin, dengan memegang tangan Aileen, namun Aileen melepasnya dengan lembut. Ketika Aileen ingin menolak, sorot ayah Anton, membuat Aileen takut. Maka Aileen pun menurut dan mengekor kemana Daffin mengajaknya pergi.


"Bunga anggrek lily ini kesayanganmu ya Ai?"


Aileen yang terdiam duduk di bangku taman. Daffin memulai pembicaraan dan mendekati, ia pun memeluk Aileen dengan paksa.


Daffin paham perasaan Aileen saat ini, meski Aileen menolak tapi tubuh Daffin amat kuat dan ia bicara.


"Aileen, beri aku waktu untuk membuatmu jatuh cinta padaku, jika aku gagal aku siap melepas mu."


Mendengar hal ucapan Daffin, Aileen menaikan wajah nya tepat saling memandang.


"Kenapa kamu melakukan ini Daffin?" ucap Aileen.


"Bersandarlah, aku ingin kita saling nyaman, kelak kamu akan tahu sendiri. Percayalah padaku!" mode memeluk, dan saat wajah Daffin menyamping, leher seputih susu itu terlihat jelas.


Aileen mendongak ke wajah Daffin, sehingga Daffin nampak tak sabar menginginkan sentuhan Aileen, wajah yang cantik, kulit yang seputih susu membuat Daffin bergairah on.


Daffin berdiri, melepas eratan Aileen, karena dirinya merasa gerah.


"Sebaiknya kita ke dalam!" ujar Daffin, yang pergi masuk kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


"Hah, dasar bos kriminal yang aneh, tadi dia yang ajak kesini, sekarang ke dalam." bingung Aileen.


TBC.


__ADS_2