Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
SALAH PAHAM


__ADS_3

Hingga beberapa langkah, dimana pandangan Aileen benar benar tidak terkendali, setelah kehilangan benar saja Aileen merasa rindu pada Daffin.


Aileen memutar mata, pandangannya sirna ketika yang dilihat adalah Deva.


"Kamu benar gak apa apa Ail?"


"Aku, gpp mas Deva, terimakasih sudah menolongku."


Hingga beberapa jam kemudian, saat Aileen menepi pulang.


Berada di apartment Deva. Aileen membuang tas ke atas sofa dan bersandar. Ia memijit kening dengan segala beban tumpuan, ia membuka laptop nya dan mengirim email pada Alexi serta Danu, karena beban tagihan yang menumpuk, terpaksa ia harus menerima tawaran sewa tempat tinggal, ketimbang menginap di hotel.


Dengan secepat kilat ia mengirim file Klien, tak lama Deva memberikan secangkir coklat hangat dan duduk disampingnya. Deva membantu menginput data Klien hasil kerja samanya dan membantu Aileen mengerjakan segala hal yang di perlukan.


"Thanks mas Deva, owh ya selamat atas hasil cangkok operasi jantung mas Deva, telah berhasil ya."


"Ya, benar Ail. Akan lebih membaik lagi jika mas Deva menikahi wanita yang di cintai." balas Deva.


Aileen terdiam, ia tak berani melanjutkan perkataan yang tidak mungkin ia tahu, jika perasaan Deva pernah mencintainya.


Bagaimanapun sisa nyawa Kay! ada di tubuh mas Deva.


"Tapi, mas Deva sadar. Tubuh ini tidak asli, tidak ada yang menerima mas Deva dengan tulus Ail, jadi lebih baik sendiri." cerocosnya.


Aileen menatap Deva, ia memberikan pujian. Jika tidak semua wanita menerima kekurangan pria tidak tulus. Namun pandangannya berubah seketika, ia menatap Daffin di hadapannya. Tak sadar Aileen mengusap pipi Daffin, yang ia rindukan yang jelas jelas itu adalah Deva.


"Kemana saja dirimu, aku rindu Daffin." lirihnya.


Nafasnya tak beraturan. Aileen menatap wajah Daffin amat dekat. Merasa mendapat respon Deva tersenyum mendekati wajah Aileen, ia tidak perduli jika fantasi Aileen adalah adiknya, Deva yakin cinta Aileen akan pudar pada Daffin.


"Apa kau mau menikah denganku Aileen?"


"Ya, kenapa kamu tanyakan lagi." balas Aileen.


Aileen tak sadar akan perkataan itu, dimata nya ia melihat Daffin. Tak sadar aksi Deva mendekati ranum Aileen dan saling menyatu, bahkan mereka saling memejamkan mata dan membiarkan berkas bercampur, berserakan di bawah meja dan sofa.

__ADS_1


Lima belas menit, Aileen merasa tak sadar sudah berada di bawah kungkungan dan ia menatap sempurna, membuka matanya.


"Apa yang aku lakukan, Hah .. mas Deva?" ia melirik jendela tirai yang menampakan kilat dan hujan, bahkan ia menyentuh bibir yang basah.


Deva ikut membuka mata dan saling menatap lepas.


"Aileen terimakasih. Aku akan menikahimu segera. Kamu membalas perasaanku tadi, jadi aku mendekatimu dan aku pikir tadi...?


"A-apa, sepertinya ini salah paham."


Kepergian Daffin yang sudah berbulan bulan, ia memang kembali dekat dengan Deva karena bisnis. Tapi Aileen tak menyangka bisa sampai sejauh ini. Kenapa aku bodoh. Bahkan tadi itu aku menatap wajah Daffin bukan mas Deva.


'Setelah ini aku harus bicara apa?' batin Aileen memicik senyum diam, ia membangunkan tubuh Deva yang menahan sakit dan kembali duduk.


"Aku pakai toilet nya dulu ya mas Deva!"


Deva tersenyum, ia menarik ponsel dan menghubungi EO. Ia berharap pernikahannya tidak gagal, meski ia tau sang adik Daffin masih dinyatakan menghilang. Tapi ia dan kedua orangtua merasakan jika Daffin tidak selamat jatuh ke dalam jurang. Merasa Aileen tak menolak, ia sadar akan jawaban.


"Aileen aku pasti akan membahagiakanmu!"


"Ya ampun, kak Aileen kalau kakak berterus terang. Kalau mas Deva anfal gimana. Ga ada salahnya kak Aileen membuka diri. Lagi pula kak Daffin sudah tak ada, ini sudah hampir setengah tahun. Kak Aileen lupa ya, ingat umur lho?"


Aileen terdiam, ia mematikan ponsel dan berusaha untuk memperbaiki keadaan. Dengan membuat Deva bahagia adalah tujuan terakhirnya. Ia tak perduli cinta atau tidak, baginya cinta terakhirnya hanya pada Daffin. Tapi kesalahan membuatnya harus meluruskan dan mempertanggung jawabkan.


Beberapa minggu kemudian.


Livi membantu Deva, mengatur dua perusahaan yang semakin padat, ia menatap Aileen datang ke ruangan Deva dimana dahulu Daffin berada di ruangan itu. Semua mata menatap Aileen, tak sedikit mencibir jika tak ada tuan Daffin ternyata undangan pernikahan di lanjutan dengan mempelai wanita yang sama. Sehingga semua tahu jika perusahaan J group mencintai satu wanita yang sama, tak sedikit berbisik jika Aileen tak setia mudah berpaling, menggunjing Aileen.


Aileen duduk di taman, ia menatap undangan yang akan digelar. meski kedua orangtua sepakat saling menerima, tapi ia tak bisa menerimanya dan ingin menjelaskan yang sebenarnya.


"Mas Deva, aku harus bicara agar pernikahan ini gagal!"


Nona Aileen? Livi, melangkah dan menghentikan.


"Ya, ada apa. Sejak kapan anda di sini?"

__ADS_1


"Sudah lama saya berdiri, ingin mengantar berkas meminta tanda tanganmu dengan Klien penting. Tapi perkataan tadi anda berbicara apa benar...?"


Aileen terdiam berpura pura menyangkal.


"Perkataan yang mana Livi. Aku tak berkata apapun, lagi pula jika benar apa akan mengantarkan Daffin kembali dan merubah semuanya, lagi pula aku anak yang harus patuh bukan? Aku butuh Daffin bukan mas Deva, tapi karena takut anfal, semua salah aku, sikap dan bicara aku mengatakannya karena menatap Daffin bukan Deva. Baiklah ini sudah selesai! Lupakan kata kataku tadi!"


Aileen menghapus air mata dan berlalu. Bahkan Livi terdiam, menatap Aileen melangkah pergi. Mata yang merah ia paham. Jika cinta Aileen pada Daffin, tapi jika sudah serumit ini. Jujur pun akan menimbulkan masalah kedepannya.


Hingga Beberapa Jam Kemudian.


Aileen berada dalam mobil bersama Deva, ia tak menyadari dan melewati pemandangan yang tak biasa, ia menatap Livi dengan mengangkat ponsel. Tak lama ia menatap seseorang dibalik pundak yang mirip dengan Daffin.


'Tidak, aku pasti menghalu lagi. Dia sudah pergi. Aku harus merelakan, kini di sampingku pria yang harus ku bahagiakan adalah mas Deva.'


Deva menatap senyuman, sesekali menyentuh pipi Aileen yang putih merona berwarna pink, tak lama ia terhenti di satu butik, tak menyangka ia telah sampai untuk fitting mengukur baju pengantin.


"Ayo Aileen, kita sudah sampai!"


Deva membuka pintu dan membawa Aileen masuk kedalam butik, bagai putri dongeng diperlakukan dengan manis tapi tetap saja.


Aileen memikirkan Daffin. Kegilaannya bahkan ia yakin jika Daffin, masih hadir dan kembali. Hingga beberapa jam selesai.


Deva memutar arah mobil menuju kediaman rumahnya. Sudah ada keluarga Aileen dan keluarganya yang berunding akad pernikahan dua hari lagi tiba, yang digelar di rumah. Meski kali ini tak bisa melaksanakan di kediaman Aileen, mengingat kesehatan Deva tak baik dalam penerbangan. Sehingga mengharuskan segalanya di kediaman mansion Deva.


Menjelang sore, Aileen bersandar pada ibu. Ia menceritakan segalanya tentangnya di kamar tamu. Mengapa pernikahan terjadi, sulit mengatakan yang sebenarnya pada Deva jika yang ia lihat kala itu adalah Deva.


"Aileen, aku datang kembali, Apa kamu mengharapkan ku kembali. Aku sudah datang sayang, lihat aku!"


Seseorang berbicara dibelakangnya, suara yang tak asing. Membuat Aileen menoleh dan berdiri tegap. Bahkan Aileen terkejut apa yang ia lihat adalah benar nyata.


'Tidak bu, Aileen pasti halu lagi kan. Ini tidak nyata lagi kan.' batin Aileen yang berderai air mata.


"Dia benar Daffin sayang." lirih ibu, terharu dan keluar menyisakan putrinya bersama Daffin.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2