
Sesak Aileen di dalam mobil masih bercerita, tanpa sadar sapu tangan yang mirip itu membuat Aileen menatap Daffin.
"Jika tidak kuat bercerita lagi, kita pulang saja."
Akan tetapi Aileen menggeleng, ia mengelap air mata dan kembali bercerita, setelah ada di rumah sakit, ingatan itu tidak sepenuhnya langsung ia ingat, karena kecelakaan membuat Aileen terbaring selama beberapa hari.
Dan Daffin, jadi ingat kata kata asisten Livi, jika Aileen adalah wanita yang satu satunya ada di ruangan sama, kala Deva mendapat donor dari seseorang.
"Dia itu kekasih pasien, yang sama dengan Tuan Deva! tetapi saya juga tidak tahu pasti apakah salah satunya akan di donor! sebab prosedur menimang kecocokan." ujar dokter Mata, yang kala itu di hentikan Livi asisten Daffin, ketika melihat wanita stress yang aneh.
"Hanya di tinggal nikah saja, apakah dengan frustasi itu." lirih Daffin, dengan egoisnya, membuat Livi sang asisten menatap dokter yang kembali pamit pergi.
"Maafkan bos saya, mari dok "
Sementara di berbeda tempat Aileen, masih ingat jelas kemarin malam. Ia berdiri di balik kaca besar rumah sakit, membayangkan kata kata dan bayangan Kay! dengan amat jelas, atau itu hanya halusinasinya yang tidak kuat di tinggalkan.
"Kamu bicara apa sih Kay? seperti sedang ingin pergi jauh saja, apa kamu akan ke luar kota lagi. Kamu tak berniat mengajak ku? begitukah, caramu pada calon istrimu?" tambah Aileen, seolah ia berbicara sendiri dengan tatapan kosong.
Kay, pun tersenyum, ia langsung memeluk sang kekasih, dan berbisik. "Aku pasti akan selalu membawamu pergi kemanapun.
tapi ... ?"
"Tapi apa .. Kay?"
"Eum ...tapi jika nanti kamu adalah istriku yang sah, aku akan selalu berbagi padamu, untuk saat ini biar aku pendam agar dirimu penasaran sayang." bisik jahil Kay saat itu.
Aileen hanya memajukan bibirnya karena kesal. Hingga tiba ia telah berada didepan rumahnya. Ia pun segera melambaikan tangan pada sang kekasih dan berlanjut di kamar dengan video tatap muka melalui ponsel.
"Aileen ..ini coba gaun untuk esok. Kita kembaran lho !" ucap mama.
Aileen pun mengangguk tersenyum dan mengambil kebaya indah itu untuk acara esok.
Tiba dimana hari bahagia itu tiba, Aileen dengan kebaya abu- abunya telah siap dilamar di sebuah gedung berbintang. Terlihat juga notif pesan, dari Kay! mengabarkan dari sambungan ponsel, ia menunggu di depan gerbang Green Ho, yang akan ada mobil mewah yang menjemput berwarna hitam.
[ Baiklah kekasih tunggulah aku akan tiba. ]
Aileen pun duduk didampingi mama. Sementara Ayah mengurus berkas dan laporan di mobil yang sama.
Setengah jam berlalu ia menaiki mobil yang menjemputnya. Ayah turun di kafe untuk membelikan coffe dan sandwich di Bintang coffe. Hingga menunggu lama, Aileen berusaha menghampiri Ayahnya, mama Taya pun ikut menemani karena berada di mobil itu tak nyaman jika ia sendiri.
"Biar ibu temani nak." mengejar Aileen.
__ADS_1
Ayah menoleh, meminta anak dan istrinya bergegas lebih dulu, karena ingin menjawab panggilan.
"Lho mah, kemana mobil tadi ?" tanya Aileen, namun ia melirik mama yang kebingungan, mama taya menunjuk saat itu, ia rasa memang benar adanya mobil yang tidak salah mereka tinggalkan.
"Itu dia nak, ternyata pindah disebelah sana,"
"Baiklah sayang ayo kita masuk, ayah pasti akan menyusul." lirih sang mama. Aileen pun mengekor. Hingga tiba dalam satu mobil, tiba saja Aileen dan ibu terkejut karena mobil langsung melaju begitu dia masuk, pintu pun terkunci.
"Lho pak, kita masih menunggu ayah?"
Terlihat ayah yang terkejut dari kejauhan. Aileen menatap ayah mengejar. Mama pun terkaget dan baru sadar jika, ia salah menaiki mobil ketika melihat supir yang berbeda.
"Nak kita salah naik, kita yang lupa akan posisi. Maafkan mama yang salah tak teliti."
"Pak turunkan kami kita salah menaiki mobil ini." Supir pun terkejut dan berusaha akan membelokkan dan menghentikan.
"Baiklah bersabarlah!" ucap supir.
Sepuluh menit berlalu, supir berbicara jika ia tak bisa mengerem kehilangan kendali. Aileen mama Taya pun panik. Aileen yang panic attack, mencoba menghubungi Kay dan menjelaskannya.
Kay di sebrang lain pun begitu terkaget dan ia berusaha mengambil motor besar untuk menjemput Aileen agar menghadangnya. Karena posisi mobil yang Aileen tumpangi tidaklah jauh, dari gedung acara mereka, terlihat Kay! dihadang oleh keluarganya, karena pengantin tidak boleh keluar dan pantang.
"Kay hanya sebentar, Aileen dalam bahaya Papi." sentak Kay, merebut kunci yang sempat di ambil.
"Sabar sayang kita pasti baik- baik saja. Berdoalah dan tenanglah. Maafkan mama ini semua salah mama."
Sriith!!
Setir mobil bergerak cepat dan mementalkan setirnya hingga terlihat satu mobil didepannya. Sedang melaju juga. Aileen menatap bagai mimpi nya menjadi nyata. Terlebih sudah ada Kay! dengan motor besar berada tepat ditengah, mencoba menghadang.
Ah.... tidak... sebuah silau cahaya dan dua mobil, satu motor telah jatuh bersamaan. Namun ia hanya menabrak tiang pohon. Tapi Kay, dan satu mobil mewah terlihat amat mengenaskan. Aileen yang terpental keluar, dan menatap Kay penuh darah karena tertindih mobil mewah.
"Enggak mungkin, Kay .. Kay kamu jangan tinggalin aku .. huhuu."
Aileen pun melihat cahaya itu redup.
"Gak mungkin, ini pasti mimpi kan. Kay jangan tinggalkan aku!" teriaknya Aileen, yang berdarah di kepala dan keram di salah satu kakinya terpental dan fatal di bagian kaki.
Aileen menangis, ia telah sadar selama dua hari. Sudah berada dirumah sakit, dengan perban mengelilingi kepalanya. Luka berat tapi tak seberat Kay dan Mom Taya yang sedang kritis. Bagai tersayat hatinya ia menatap penuh kebingungan.
"Tuhan kenapa terjadi padaku?"
__ADS_1
"Sus, apa aku boleh mengunjungi ruang kekasihku Kay?"
Suster pun mencoba menurunkan Aileen di roda, dan ia menuju kamar di mana ibu nya berada, terlihat Ayah yang marah diam menatap anaknya. Ia pun mencoba pergi ke ruang dimana Kay.
Sungguh menyayat hati menatap Kay saat itu, acaranya kini berakhir dan gagal.
"Harusnya aku tak mengabari Kay! saat itu, aku bodoh, kamu bodoh Aileen, karena aku anak pembawa sial harusnya aku yang ada di ranjang sana." ucapnya entah bicara dengan siapa.
Aileen pun mencoba menguatkan dan menggenggam tangan Kay agar sadar, selama satu jam Aileen menangis dan bercerita, ia pun memanggil dokter. Terlihat tante Kay menemani Aileen dan menguatkan, mereka saling menguatkan dan berpeluk.
Selama satu jam Kay! pun sadar dan menatap semua orang tersayang. Terutama Aileen tercintanya.
"Jangan menangis, Ai!" ucap Kay penuh perban, berbicara saja sulit karena banyak cidera.
"Harusnya aku ga kabarin kamu, maaf .."
"Sayang, apapun itu tetaplah bahagia.
apapun yang terjadi aku selalu ada di hati dan di sisimu, ini sudah takdir. Maafin aku ga bisa tepatin menjadi suami yang baik." ucap Kay pada Aileen.
"Kamu ga boleh bicara itu Kay, tetaplah bertahan!"
Ailen mencoba mengulang, meremas tangan Kay! ia tidak mau dia meninggalkannya begitu saja, Namun Kay tersenyum mencium tangan Aileen dengan lirihnya.
'Tetaplah kuat Aileen!'
"Mah, berjanjilah jika Kay tak selamat, berikan organ Kay! pada yang membutuhkan apapun itu." sang mama Kay pun bersedih akan permintaan terakhirnya, tangis pecah oleh Aileen sejadi jadinya.
"Tapi kenapa Kay, kamu masih akan tetap hidup, kita hanya menunda pernikahan, pasti untuk ku dan keluarga kita, mama dan papa kamu mengharapkan kamu kuat dan sembuh." ucapan Aileen, membuat Kay lemah.
"Maafkan aku Ai, aku tak bisa menepati janji untuk menjalani keluarga bersama." ujar Kay, dengan bicara pelan terpatah patah.
Tak lama terlihat monitor berubah, garis yang melengkung ke atas bawah menjadi lurus. Aileen memencet tombol agar dokter segera tiba.
Namun setengah jam pengecekan ia pun harus menerima pil pahit, jika Kay telah tiada tak bisa di selamatkan.
"Aaaaakh ... tidak bagaimana semua ini aku hadapi. Kay kembalilah!!
Aileen terbaring lemas dan tak berdaya, berkali kali ia pingsan, dan kini hatinya amat rapuh, sunyi, sepi.
Dan di saat itu juga, Daffin tersentuh ingin menangis, tapi masih menjaga dengan senyuman kaku, ketika Aileen bercerita masa lalu Aileen, bisa disimpulkan Daffin harus mencari tahu, rekaman data calon suami Aileen yang mendonorkan jantungnya, apakah sama dengan Deva.
__ADS_1
TBC.