
"Bagus banget, handsome bunda tambah ganteng." tutur Aileen.
"Uncle temani ke toilet ya, masa bunda masuk toilet cowo?"
Rivan mengangguk, ia masih menggenggam tangan Uncle Darrel yang selalu ia sebut. Sementara Aileen menghampiri untuk membeli minuman segar.
Setelah beberapa menit, Darrel meminta Rivan untuk menunggu nya di kursi tinggi meja ruang tunggu.
"Boni, jagain sultan kecil gw ya. Mau pepsi dulu sebentar!" Oke Darrel.
Boni pun mengajak, dan menduduki Rivan ke dalam ruangan meja kerjanya. Ia menjaga sebuah minuman mahal. Jika ada custumer yang memintanya. Sebenarnya usaha keluarga, hanya saja karyawan cuti jadi ia yang menjaga.
"Uncle Boni, apa Uncle alel sama sepeti Ayah Rivan?" tanya sedikit cadel.
"Heuump.. Rivan rindu Ayah ya, kalau gitu doakan aja. Nanti kita sama sama berdoa ya. Kali aja Rivan bisa ketemu meski dalam mimpi." bisik Boni.
Livi dan Daffin tak jauh yang duduk, ia melirik anak berusia tiga tahun itu sedang bertanya banyak, ia mendengarkan dan menatap pria itu kenapa mirip dengannya. Daffin pun tak menyangkal jika wajah bocah kecil itu memang sedikit mirip. Hanya saja dia lebih putih sekali, sehingga kulitnya sedikit merah berbeda dengan Daffin yang sedikit sawo matang.
"Suara bocah itu kenapa mirip di ponsel ku semalam?"
"Suara itu banyak Bos. Tidak cuma seorang." ketus Livi.
Tak lama, Rivan berteriak. "Ayah Alel.." Darel pun terdiam begitupun Boni. Sehingga Boni tersenyum dan memukul bahu Darrel.
"Wah lampu hijau Son, sudah cepat halalkan!"
"Oke, kita ke Bunda ya sayang!" dalam genggaman gendongan, Rivan menatap dan kiss bye pada Boni. Lalu ia menatap dua pria yang selalu menatapnya dari tadi.
"Uncle, aku tadi diliatin telus sama dua pria dewaca. Jadi aku rindu sama Ayah. Aku panggil Uncle Ayah gpp kan?"
"Tentu sayang, Uncle ga keberatan." balas Darrel mengecup kening Rivan. Ia pun tertarik dan mencari keberadaan pria yang menatap anak kesayangannya itu. Meski bukan darah dagingnya.
"Sepertinya nanti malam aku harus mengajak dinner Aileen.' batin Darrel.
Lama sekali sih, ayo nak. Bunda udah habis minum air kelapa sampai habis nih!
"Maaf bunda, lama ya, tadi Ayah alel yang bikin lama tuh."
Aileen terdiam ketika Darrel menatap arah laut. Ia takut Aileen marah ketika Rivan memanggilnya Ayah alel.
"Ayah Alel?" tanya Aileen.
Bocah kecil itupun menjelaskan, hingga akhirnya Aileen tersenyum dan tak mempermasalahkan.
Satu jam mereka main pasir, Aileen mengajak Rivan dalam genggaman tangannya dan menuju arah air yang bergelombang. Tak lama Rivan mengenggam tangan ayah Alel dan mengajaknya sehingga mereka bertiga bermain air.
"Livi kau benar tidak salah orang kan?" ia mengangguk. Tak lama ia mencerna pria difoto ini adalah pria yang menggendong tadi kala bersama anak kecil.
"Cari tau pria bernama Boni itu, selidiki dia pasti tahu semua tentang Aileen!"
Daffin berjalan menuju pantai dengan setelan jas, ia masih memakai kacamata hitam dan menyelupkan kedua tangan ke saku celana. Tak lama ia terkejut dan tersenyum menyeringai.
"Aileen, kamu benar di kota ini. Aku menemukanmu. Tapi pria itu, anak itu pasti anak kita. Sieet berani sekali kamu menikah sementara aku mencari keberadaanmu sejak lama!"
__ADS_1
Daffin berjalan menghampiri ketiga insan yang sedang senang bahagia bermain air dan pasir. Aileen berjalan mundur dan melambai tangan pada Rivan yang digendong oleh Darrel.
"Sayang, Ayo kejar Bunda!"
Byuuuuurgh.. air gelombang begitu saja menghantam tubuh Aileen, yang masih sempurna berdiri. Darrel menatap sempurna ketika kacamata hitam menjiplak di tubuh Aileen. Ia tak memakai jaket untuk menutupi. Tubuhnya yang basah menjiplak otot di kaos putih pun terpampang di tubuh Darrel.
Srreeet.. tiba saja sebuah jas menutupi tubuh Aileen. Syok, Aileen menoleh dan terkejut pria dihadapannya tiba, nafas mereka sejengkal berada dalam kungkungannya.
"Aku menemukanmu!"
"Daffin." lirih Aileen penuh debaran.
Mereka saling berhadapan, sebuah mata Darrel dan sang anak menatap sang bunda dan menghampirinya.
"Aileen, ayo kita ke ruang ganti!"
"Ah, iya."
Aileen pun berjalan menjauh, mengikuti langkah Darrel dan Rivan dalam gendongannya. Bahkan ia kembali mengganti pakaian, dan membulat kedinginan. Aileen dengan sempurna mengeringkan tubuh sang anak dan menggantikan bajunya.
"Sudah selesai, Darrel aku lupa jas ini milik pria tadi?"
"Pria itu menunggumu, apa kamu mengenalnya!"
Aileen terdiam, ia mengigit jari. Aileen tak mungkin berbohong pada Darrel.
"Aku tidak tahu, sampai mana ketakutan itu datang, yang aku hindari terjadi. Dia pria yang aku ceritakan, aku tidak bisa bertemu dengannya. Aku mohon bantu aku sekali lagi!"
"Baiklah, tunggu di mobil lewat pintu belakang, aku akan menyusul!" Darrel memberikan kunci mobil.
Aileen pun segera pergi dan senyum berterimakasih.
***
Ran, kamu ga tau sih. Aku bingung sepertinya beberapa hari aku ga bisa ke gerai, aku mau dirumah diam. Daffin tadi melihatku?
Apa, aaaakh apa aku bilang. Ga ada cara lain? menikah sama Darrel atau temui dia!
Ih, Aileen menyeringai kecut, ia malas jika berhadapan dengan Daffin.
"Kamu gak tahu, dia itu pria yang pemak.." mata Aileen membulat ketika Daffin dan Livi memasuki gerai cafe nya.
Ga ada cara lain Aileen, kamu harus hadapi. Bersembunyi pun sudah terlanjut dilihat.
Aileen menarik nafas, ia terkejut akan keberadaan pria yang pernah ia cintai, meski perasaan itu masih ada. Tapi ia takut dan tak bisa menikah bersama dengan pria pembohong, pembunuh seperti Daffin.
"Bisakah anda layani kami dengan baik!"
Aileen meminta Sinta dan karyawan lain melayaninya. Sementara ia dan Rani terdiam menatap suasana tak biasa itu. Daffin menatap Aileen dan memberikan surat kecil.
[ Jam Sebelas malam ini. Di tepi pantai kita pertama kali bertemu tadi!]
__ADS_1
Aileen pun melipatnya setelah membaca, tak lama Darrel datang.
Uncle Ayah Alel... teriak Rivan.
Semua mata memandang, Aileen mengambil tas dan mengajak Darrel pergi dari ruangan itu.
"Ran, aku keluar dulu ya. Kasian handsome aku semua udah capek?" ujarnya membuat tatapan tidak kenal, dan terdengar syok oleh Daffin.
"Baiklah, hati hati ya. Darrel jaga Bunda dan bocah sultan ya!" teriak Rani, hingga Darrel tersenyum dan melambai oke.
Sementara Livi mendekati Rani setelah Aileen tak terlihat.
"Siapa Darrel, bekerjasamalah!"
Rani pun terdiam, ia tak menjawab sepatah katapun. Lalu ia meminta Sinta mengambil ahli kesibukannya.
"Maaf, saya tak punya wewenang menjelaskan!" balas Rani. Pada telinga Livi yang kaku.
***
Dirumah, Aileen telah menidurkan Rivan. Ia yang memakai piyama dress menghampiri Darrel yang sedang sibuk di dapur. Ia menatap Darrel begitu ahli dalam memasak, ia mendekat membantu Darrel yang terkejut dan kaget.
"Astaga Aileen, kamu bikin aku kaget aja?"
"Heuump.. Mas, maaf ya kita makan malam di rumah aja?"
"Gak apa apa, aku juga mengundang Boni, biar Rani ga jadi kacang goreng kering nanti lihat kita."
"Hahaha, Baiklah aku gpp kok Mas."
Aileen membantu menyiapkan, tak lama satu jam mereka menyiapkan ditepi balkon, ia mendapat kejutan akan buket bunga dari Darrel.
"Aileen, aku memang gak pandai memberi kejutan. Tapi aku ga sanggup menunggu terlalu lama. Maukah kamu menikah denganku?"
Bucket bunga itu terdapat kotak kecil merah, bahkan Aileen menatap terkejut akan sebuah cincin.
"Mas, tapi aku. Bahkan ini berlebihan aku ga bisa jawab sekarang."
Aileen terdiam beberapa saat, perkataan Rani ada benarnya. Jika ia menerima Darrel mungkin Daffin akan berhenti mengejarnya. Terlebih pria dihadapannya itu sangat baik padanya.
"Mas, aku gak tahu rasa cinta itu seperti apa. Tapi aku nyaman, tenang jika dekat dengan Mas Darrel."
"Jadi, jawabanmu apa Aileen?"
"Bimbing aku, aku akan mencoba memberi ruang agar Mas Darrel, menjadi imam ku. Tegur aku jika aku salah!"
Darrel tersenyum, dengan spontan ia memeluk Aileen akan rasa bahagia. Tapi Aileen terdiam, ia begitu jahat ketika ia menerima Darrel agar Daffin benar menjauh dan pergi dari kehidupannya.
'Maafin aku Mas.' batin Aileen.
Aileen memejamkan mata, tidak bermaksud menolak tapi menerima karena harus ia lakukan, agar Daffin berhenti mencintai dan kembali ke dunianya.
TBC.
__ADS_1