Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
TAWARAN BOS KRIMINAL


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, Aileen menjalani hari bekerja seperti biasa. Kini ia merasa hidupnya memang harus sendiri, entah perasaan apa ingin sekali mempunyai kawan, atau pasangan seperti yang lainnya. Tapi semua telah pupus, ketika tragedi Deva mempunyai riwayat sakit seperti kekasih lamanya, seolah dirinya memang gadis pembawa sial. Rasanya tidak sanggup untuk menerima kehilangan dan kembali jatuh cinta.


"Cukup Aileen, fokus mencari pundi- pundi adalah hal yang terbaik. Ingat tujuanmu adalah, mencari uang untuk membantu ayah membantu pengobatan Alexi.


Aileen mengatur nafas panjang dan berkutat dalam laporan di laptop kerjanya.


"Aileen, ini laporan terbaru dan berkas untuk meeting nanti." ucap Angel, sang bendahara.


"Thanks ngel. Segera aku kerjakan pasti." Aileen menatap tumpukan berkas, yang sudah pasti akan lembur lagi.


Aileen pun melirik dan bertanya, kembali ke meja Aileen.


"Aileen, boleh aku tanya. Kamu kok bisa dekat sama Pak Deva, dia kan keluarga bos kita. Apa kalian itu .. atau keterima cepat karena kalian dekat ya?"


"Ngel, aku tidak tau dan hanya kebetulan maaf, kini aku sedang sibuk! next nanti kita ngobrol jam makan siang lain waktu ya! Jam kerja di larang bergosip, kamu lupa di belakangmu ada cctv?"


"Ah! baiklah, aku akan kembali." sipit Angel, menjauh dari keberadaan Aileen yang tajam melihatnya.


Aileen memotong pembicaraan sehingga angel pun berlalu.


Tak lama bagian kepala divisi hrd. Bi Ita datang, membuat pekerjaan karyawan kembali fokus, berbeda dengan Aileen yang memang ia selalu fokus karena penat.


"Selamat pagi semuanya terimakasih atas kerja keras kalian, dan nanti malam ada makan malam bersama di gedung sebelah. Namun untuk kamu Aileen dan Angel aku mengutus kalian untuk pergi menemui klien. Angel pergi kelantai 11 bertemu pak Subagyo yang sudah tertulis. Tapi Aileen kamu bisa bergabung, setelah mengantar dokumen dan mendapat persetujuan dari pak Daffin."


Gleuk.


'Bos Kriminal itu, hadeuuh.' batin Aileen menarik nafas.


"Baik bu Ita, saya akan pergi sendiri dan jika boleh saya tidak hadir acara makan malam apa bisa, selesai tugas saya ada urusan penting nanti malam?"


"Ya bisa. Tapi kamu datang tidak sendirian kamu datang bersama Pak Daffin, karena asisten Livi sedang mengurus klien di singapore."


Wow!!


Tatapan karyawan menatap ke arah Aileen, akan tetapi bukankah sekertaris akan terus bersama dengan bos karena kontrak kerja mereka saling membutuhkan.

__ADS_1


Aileen hanya meremas jari, malas sekali rasanya jika tugas hanya berdua. Ia pun menampilkan senyum terpaksa.


"Wah, Aileen kesempatan kamu sama bos Daffin yang kece bada abis, meski datar tidak murah senyum." ucap Angel.


Aileen menatap tajam pada Angel, karena baginya itu bukan keinginan.


"Angel, kalau kamu mau dan perlu kamu gantikan posisi aku bekerja bertukar tempat bagaimana?"


"Haaah segitunya aku bercanda Aileen. Serius banget sih kamu, ga asik." cetus Angel kembali ke meja kerjanya.


Menjelang sore, semua karyawan telah kembali pulang, dan membereskan diri untuk pertemuan makan malam yang selalu di adakan. Saat perusahaan mendapat keuntungan di gedung sebelah. Itu adalah hal tradisi dan wajib datang kecuali tidak hadir karena hal penting.


"Huuuft.. sudah jam segini apa keburu ya tapi bagaimana aku batalkan saja lah lain hari."


"Acara apa kamu ingin batalkan, Aileen?"ucap Daffin dari belakang.


"A- aku bukan apa- apa Pak Daffin."


Aileen merasa grogi jika berhadapan, atau berdiri sejajar saat di loby.


"Ta- tapi pak." ucap Aileen, namun mata sorot pak Daffin tidak menerima penolakan!


"Oke! baiklah bos Daffin yang baik, saya akan mengikuti kemana langkah anda berpijak, silahkan lebih dulu." ucap Aileen bergeming kesal. Dan menjulurkan tangan senyum paksa.


Dalam perjalanan itu pun, Daffin menyetir sendiri membuat Aileen kebingungan tak ada suara sepatah katapun. Selama satu jam ia terkejut karena Daffin membawanya ke butik, dengan ruangan yang private pastinya wah.


Aileen yang sudah menolak, tapi tidak ada penolakan bagi bosnya itu! namun lelah jika berhadapan dengan bos pemaksaan, ia memakai gaun navy, dan senada dengan jas navy yang dikenakan Daffin.


Taraa ...! selesai Aileen di sulap cantik dan elegant saat itu, membuat pandangan Daffin tentunya melirik sesekali tapi menjaga image.


Satu jam kemudian, mereka melaju mobil ke ruang gedung yang akan dituju untuk bertemu klien, sesekali Daffin pun melirik Aileen hingga Aileen sendiri tidak nyaman, apalagi bentuk body dan gunungnya sedikit terlihat dengan seuntai satu tali.


"Makan dulu roti dan coffe hangat agar nanti tidak terganggu oleh perut yang kosong!" perintah Daffin pada Aileen.


"Iy baiklah terimakasih pak Daffin."

__ADS_1


Dan saat bersamaan tiba saja mobil berhenti rem dadakan, karena satu motor tiba melintas dari arah berlawanan.


"Aaaah .. "


Aileen berteriak dan memegang lengan pundak Daffin, karena takut. Ia masih trauma dan takut akan tragedi itu.


Daffin menatap Aileen yang takut dan panik, ikut memegang lengan Aileen dan menenangkan. Sementara Aileen sendiri, spontan memegang bahu pria dihadapannya itu.


"Enggak enggak mungkinkan, semua ini enggak mungkin. Pak Daffin aku takut, ini tidak mungkin terjadi kan. Aku salah lihat pastinya."


"Aileen. Kamu kenapa, baik baik saja kan. Ada apa? kita tak menabrak sesuatu, atur posisimu dengan baik ada aku tenanglah!"


Daffin pun memeluk Aileen, karena ketakutan paniknya, jelas keringat dingin bercucuran di wajah tubuh Aileen. Daffin yakin dan bukan ke pura puraan, ia mengira jika Aileen punya sisi berat trauma berat dalam hidupnya.


Setengah jam berlalu. Aileen telah tenang rileks.


"Kita batalkan saja, klien tidak penting saat ini!"


"Tidak pak Daffin, maafkan jika saya tadi lancang. Tadi saya hanya kaget dan takut. Saya yang salah, saya sudah jauh lebih baik."


Daffin ingin membatalkan perjanjian itu, namun karena Aileen memaksa, akhirnya mereka kembali bertemu dengan klien, sesekali Daffin juga menatap Aileen dengan mencium aroma wangi lily dan memegang kalung bulan di lehernya.


"Apa ia terlihat tenang ketika, telah memegang kalung dan mencium aroma itu?" batin Daffin aneh sedikit tersenyum.


Tiba saja, Aileen mendapat pesan. Itu adalah dari papanya, hal itu membuat Aileen syok dan kaget ketika pesan itu membuat dirinya tidak fokus, sehingga Daffin melirik dan bertanya.


"Apa pesan yang kamu terima?"


"Ah! adikku harus di operasi, bagaimana bisa aku cari uang dua milyar, untuk penyembuhan kangker." spontan Aileen bicara begitu saja.


Upps! "Maaf pak, saya tidak berbicara apapun. Kita sudah sampaikan, saya akan bawa berkas ini ke klien." ujar Aileen, mencoba fokus.


"Jika kamu fokus pada klien besar ini, aku akan bantu kamu Aileen."


'Hah, bantu aku. Bos Kriminalku ini tahu aku punya masalah, dia bilang mau bantu aku?' lamunan Aileen.

__ADS_1


__ADS_2