Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
TATAPAN TAJAM DIA


__ADS_3

Hah, aneh banget sih!


Aileen meletakkan ponsel di atas meja makan. Sementara Rivan menunggu sang bunda membuatkan susu ke arah dapur.


"Tunggu ya nak, nanti bunda sekalian siapin Sandwich selai coklat!"


"Oke bunda."


Tredth .. tredth..


"Bunda, ada telepon, ponselnya bunyi telus."


Aileen tak mendengar, Rivan pun mengangkatnya dan berbicara.


Halo .. iya ni nomol bunda Rivan, Uncle siapa ya? telepon bunda lagi aja nanti. Soalnya Bunda aku lagi buatin susu. Aunty Ina lagi bobo ga bisa diganggu Uncle!


Eeeum.. rumah Rivan di.. ga boleh, Bunda ga boleh kasih tahu alamat rumah kalau ga kenal, Uncle telepon lagi aja nanti sama bunda!


Tut ... Tut.. !! ponsel ditutup.


Di Tempat Lain.


"Bagaimana?" tanya Daffin pada Livi.


"Anak kecil yang mengangkat, anak itu cadel tapi fasih sekali. Dia tegas gak boleh kasih tau alamat rumah, disuruh Bunda, gimana?"


Daffin meregangkan kedua tangannya. Ia berdiri dan menatap jam yang melingkar.


"Baiklah, besok kau cari tahu semua pemilik gerai ini!"


Sina tertegun, ia menatap pengunjung Sultan itu telah pergi, ia memberikan pesan pada bu Rani jika cafe telah sepi. Tak menunggu lama gerai pun tutup, meminta Sina membereskan. Dan membawa hasil hari ini kerumahnya diam diam.


"Ran, kamu suruh Sina ke rumah, suruh dia naik taksi aja. Terus lihat jangan sampai ada mobil yang membuntuti!"


"Beres Ail. hadeuuh kok berasa nyawa terancam ya, tapi cepat atau lambat Daffin akan tahu keberadaan kamu dengan Rivan kan?"


Aileen tak menjawab, ia masih tak bisa bersama Daffin, akan perlakuan yang benar benar di depan matanya terlihat jelas. Tapi berita kematian Deva adalah jatuh dari kamar mandi.


"Hal ini sungguh membuat aku frustasi, mengingat itu semakin aku ingin menghindar. Aku punya kamu dan Rivan, jadi ga perlu Daffin."


"Baiklah, tapi kenapa kamu gak terima aja sih. Si Darrel yang suka seharian disana. Aku lihat dia aktif bener menyukai kamu loh. Bahkan dia udah bantu banyak, baik lagi. Kamu gak inget waktu lahiran Darrel nemenin kamu. Setia banget dia nungguin kamu loh Ail, kali aja kamu nikah Daffin mundur kan?"


"Trus, kamu si Boni juga deketin kamu. Kamu ga terima kan Ran?"


Yeeeah.. susah kalau udah ngobrol sama kamu Aileen, malah balik tanya lagi? Rani menarik nafas. Bahkan ia segera memencet bel dan terlihat Sina yang datang.

__ADS_1


"Sina, amankan. Jangan pernah kasih tahu alamat bos kamu ya, pada siapapun oke!"


"Iya bu, paling juga Mas Darrel sama mas Boni yang lemes itu kalau ke cafe. Sina selalu jaga rahasia yang ga boleh orang tau!"


"Rahasia apa ?" tanya Aileen.


"Rahasia rumah kediaman bu bos Sina lah."


Oh.


Aileen dan Rani tersenyum, ia mengira rahasia tentangnya bocor oleh Rani.


Beberapa jam kemudian, Sina pulang diantar oleh Aileen menuju Taksi.


"Sin, ini tips dan ongkos kamu pulang. Besok kamu libur ya, sekalian carikan orang untuk security ya!"


"Siap bu." balas Sina.


Tak lama, Aileen masuk ia terkejut akan Rivan yang tiba saja keluar dengan piyama tidur menangis.


"Handsome mama, pasti mimpi ya. Ayo nak, kita masuk!" Aileen menggendong Rivan ke dalam rumah.


Sebuah mobil hitam anti peluru, Memutar pelataran rumah Aileen tak disadari.


"Kita kehilangan jejak karyawan kasir itu, pasti ia tahu rumah bosnya. Sebaiknya kita lanjutkan besok!" titah Livi. Daffin pun menaikan alis tanpa menyerah.


"Itu urusan mu, aku mau kau mengetuk pintu rumah ini, firasat ku tertuju pada rumah ini."


Livi menghela nafas, melihat Daffin sudah mengeraskan rahang yang terlihat urat. Ia menurut dan keluar dari mobil. Sesaat ia ingin masuk, tak lama ia terkejut akan mobil yang memarkir. Livi terhenti dan menatap dua pria turun masuk ke dalam rumah tersebut.


"Daffin, sepertinya salah sasaran. Rumah ini bukan yang kita pikirkan?"


Menatap kasihan, Daffin pun meminta Livi untuk masuk ke dalam mobil. Dan melanjutkan misi esok hari.


"Hah .. baguslah aku selamat malam ini." lirih Livi.


***


"Sayang, siang nanti mama jemput ya!"


"Oke Bunda." Rivan menjawab sedikit cadel, segera masuk ke dalam sekolah les tiga bahasa. Tak lama Darrel menghampiri Aileen.


"Uncle Dareel." teriak Rivan.


Bocah itu, segera memeluk kembali melewati sang bunda saat akan masuk ke dalam sekolah.

__ADS_1


"Wah, kamu datang. Pantas bunda dicuekin kalau ada Uncle Darel ya?" bisik nya.


Aileen tersenyum menatap Darrel, sebenarnya ia merasa canggung akan statusnya. Kebaikan Darrel sangat luar biasa, Rivan sangatlah dekat padanya. Bagaimana tidak, sejak kecil ia sudah selalu bersama dan bertemu.


Darrel seorang pengusaha kuliner dan pemilik pabrik fashion ia selalu membantu usaha kami, sejak Aileen tinggal beberapa bulan, bahkan awalnya bisnis tapi aku menganggap nya sebagai saudara atau kakak yang sangat baik pada adiknya.


"Aileen, dari sini mau langsung ke gerai?"


"Gerai, ada Rani Mas. Kayaknya aku mau lihat pertunjukan di gedung tepi pantai. Kayaknya ada banyak pengrajin."


"Baiklah, Mas Darrel temanin ya. Kebetulan satu arah, lagi gak sibuk kok!"


Aileen tersenyum mengangguk.


"Baiklah kalau Mas gak keberatan." balas Aileen.


Dengan sebuah motor besar, kali ini Darrel membonceng Aileen. Jaket, topi dan kacamata hitam diberikan agar Aileen terlindungi, dengan cepat Aileen memakainya.


"Thanks Mas."


Ditepi pengrajin, Aileen melihat lihat apa saja yang lucu, benda yang unik dari tangan buatan.


"Kayaknya ini lucu deh Mas."


Darrel membungkus beberapa kaos couple berwarna putih untuk dirinya, Aileen dan Rivan.


"Mas mau ambil buat siapa?"


"Buat aku, kamu dan Rivan. Sore nanti kita main air di pantai gimana?"


Aileen tak enak jika menolak, baiklah kita jemput Rivan dan bertanya padanya ya Mas.


Aileen pun terkejut, Darrel membeli banyak kaos hitam sangat banyak.


"Mas itu buat apa banyak sekali?"


"Buat karyawan di gerai Aileen."


Aileen pun semakin terharu dan senang akan loyalnya Darrel.


"Mas, kamu ini aneh deh. Harusnya bosnya yang belikan. Tapi ini malah Mas Darrel. Aku jadi malu kalau kaya gini."


Darrel pun membelai pucuk rambut Aileen, sehingga saat itu, Aileen terkejut dan saling menatap.


Tanpa disadari, ada sepasang sorot mata tajam mengintai. Bahkan memotretnya dan mengirimnya pada seseorang.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2