
Aileen menyudahi, ia mendorong tubuh Daffin.
"Ini sudah terlewat batas. Jangan lakukan itu lagi Daffin!"
Daffin yang terbakar rindu. Ia meminta maaf, namun tak dapat di pungkiri. Daffin sudah tegang, dan tak bisa menahan hasrat kerinduan dan menahan sesuatu yang membuatnya bangun. Aileen yang mengancingkan kembali kemejanya. Tiba saja tubuhnya di gendong oleh Daffin.
"Turunkan, kamu bawa aku kemana?" teriaknya.
Daffin terdiam dan menatap tajam pada sebuah bola mata kekasihnya. Hanya tersenyum kecil balasan. Aileen melirik ruangan tersembunyi dimana pintu itu terbuka begitu saja, ia menatap dengan terkejut. Dibalik ruangan kaca, ada ruangan berlapis tembok yang menjulang tinggi terbuka begitu saja. Seperti pintu rahasia di ruang perpustakaan yang di perankan film romance.
Aileen menelan saliva tak percaya ruangan yang ia pikir, tempat untuk pertemuan bisnis Klien penting. Ada celah ruangan seperti apartment menuju tempat peristirahatan, lengkap dengan dapur, kamar mandi luas, dan sofa layaknya apartemen istimewa.
"Daffin, jangan melewati batas. turunkan aku!"
Tapi tak mendapat balasan, Daffin merengkuh dan membaringkan tubuh Aileen di kasur empuk mewah besar. Sprei dan bed cover yang berwarna silver keabuan polos. Aileen berusaha membangunkan tubuhnya dan mundur hingga menepi di puncak dinding kasur. Aileen menatap Daffin seperti bukan dirinya. Bagai singa yang lapar tanpa ada wajah senyuman manis, ia memandang tanpa berkedip dan memulai kembali.
"Daffin, ku mohon jangan lakukan ini!" Daffin sudah membuka kemeja dan celananya.
Aileen mulai mengalir deras air mata begitu saja, ia tidak ingin kesuciannya hilang dan sirna. Sehingga Daffin mengurungkan niatnya dan memeluk Aileen.
"Maafkan aku, aku hanya akan memelukmu. Sebentar saja, ku mohon Jangan bergerak aku membutuhkan mu Aileen!" lirihnya.
"Kita tak perlu lakukan sekarang, aku datang memang ingin memberi jawaban soal pernikahan kita, untuk mempersiapkan."
Ada rasa bersalah, namun Aileen tak ingin malam ini begitu saja hancur, ia masih ragu apakah ia harus kembali mengatakan, Jika ia bertemu datang kepada Daffin untuk memberikan jawaban.
"Apa jawabannya?" lirih Daffin.
'Ya, aku setuju untuk menikah.'
Tapi perkataan itu sirna akan tatapan ruangan kantor Daffin dengan seorang wanita beberapa jam lalu.
"Daffin, maafkan aku jika aku mengecewakan dan membuatmu menunggu. Aku kecewa terakhir kali aku memandang mu di ruangan itu, tapi..." Aileen terdiam menarik nafas.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sayang, mengapa kamu mengejutkan ku?" tanya Daffin, masih dalam posisi memeluk Aileen.
"Aku.., mmmm. Aku ingin memberi jawaban. Jika aku telah siap menikah. Tapi..."
Mendapat perkataan yang menyenangkan, membuat gairah Daffin kembali on. Daffin memutar tubuh Aileen sehingga berada di bawah kungkungan nya.
__ADS_1
"Benarkah sayang?"
"Heuumph, tapi.. aku mau.."
Sluuurp, eeumph bibir manis itu tiba saja tertutup oleh sebuah ranum pria perkasa. Tak bisa menolak tubuhnya amat kuat, sehingga Aileen ingin berkata.
"Tapi tidak sekarang untuk melakukan seperti ini. Daffin jangan seperti ini, aku takut!"
"Aku akan pelan, terimakasih Aileen. Kalau perlu besok dan Lusa kita menikah."
"Apa ..?"
Rasa gejolak asmara Daffin tak bisa menahan, ia membuat Aileen yang jelas gugup dan tegang, menjadi terbawa suasana rileks. Mendapat kesenangan akan Aileen yang tak menolak seperti sebelumnya. Ia pun mengecap seluruh kepemilikan Aileen tanpa merusaknya. Ada rasa getaran yang membuat Aileen lemas, sehingga berakhir Daffin mengecup kening Aileen.
"Aku sudah meninggalkan jejak, dan kita saling melihat segalanya. Aileen kamu milikku!"
Ada rasa kaku, Daffin tak melakukan nya tapi meninggalkan jejak membuatnya malu. Aileen pun mengenakan pakaian kembali. Dan menatap Pria tunangannya pergi berlalu berlama di bathroom.
"Kau sengaja melakukan ini, agar diriku terkunci olehmu Daffin!" cibir Aileen yang merasa nanggung, membuatnya kesal.
Aileen tahu, seorang pria berada disana sedang mengeluarkan sesuatu. Sehingga Aileen membuka kamar mandi. Bahkan Daffin yang mengucur shower, terlihat syok Aileen sudah berdiri dengan memakai kacamata dan segitiga saja.
"Aku akan membantumu, ini pertama kalinya aku gila, karena kamu Daffin. Jika aku tidak lihai maaf! Izinkan aku membantumu."
"Realy?"
Daffin merentangkan tubuhnya, diatas shower kecil. Dimana Aileen menyentuh dan memberikan tanda dari jenjang leher kokoh Daffin, hingga turun kebawah perut dan lebih turun lagi menatap intens.
'Astaga, sebesar ini. Apa bisa masuk ke dalam milikku?' gelegar Aileen yang dibuat takjub.
Menuntaskan pertama kalinya, membuat Daffin kembali on dan melepas memainkan milik gundukan Aileen hingga Daffin mendudukan Aileen di bath up, membuat gesekan kecil yang tak bisa menusuk milik Aileen karena begitu sulit.
Ah.
"Cup! Maaf, aku telah menyakitimu malam ini Aileen." lirih Daffin, membuat Aileen gemetar kakinya sulit berdiri.
***
Pagi hari Aileen sarapan bersama dengan Daffin. Pikirannya masih meracau akan aksi Daffin yang panas semalam. Meski ia tak merusak kesuciannya secara paksa karena sulit disentuh, tapi ia melihat bidak tubuh Daffin dengan sempurna. Bahkan ia masih terbayang akan benda yang menonjol dibalik celana kecil ketat itu.
__ADS_1
"Ah.., sial kenapa jadi kotor seperti ini sih, kenapa aku jadi ingin dan ketagihan dia melakukan lagi seperti semalam?"
Aileen menggebrak sendok dan garpu diatas piring.
Tak lama Daffin datang, ia membawa spaghetti yang ia buat dengan tangan ajaibnya. Aileen pun tersenyum dan masih menunduk karena malu.
"Sayang, apa semalam kamu menginginkan lebih? Jika ya, kita bisa mencobanya pagi ini!"
Eum .. apa maksudnya?
"Bukan seperti itu Daffin. Aku .. hanya," Aileen terdiam.
"Ayo sarapan, di coba!"
Daffin memberikan piring berisi makanan yang telah di hias, potongan sosis yang telah diberi saos. Daffin memberikannya pada Aileen. Aileen pun tersenyum dan menatap Daffin ada beban berat yang sirna.
"Apa kamu bahagia, jika aku memintamu menikahiku minggu ini?"
"Apa, coba katakan lagi sayang?"
"Daffin jangan membuatku malu. Jika tidak pun aku akan kembali dan tetap menunggu!"
"Tidak ada kata menunggu, semalam aku sudah menghubungi ayah Anton. Dan kedua orangtua ku sedang mempersiapkan pernikahan kita. Tiga hari lagi kamu akan menjadi Nyonya Daffin!"
"Secepat itu kah?" tanya Aileen memutar mata tak percaya.
Heuump. Daffin tersenyum lebar dan mengangguk.
Hingga mereka kembali sarapan bersama, dan Aileen memaafkan kesalahpahaman yang terjadi, bahkan Aileen sudah menginap semalam karena lututnya masih kaku dan sedikit sakit.
"Daffin, jangan lakukan lebih. Semalam kamu tidak menancap nya penuh, itu membuatku takut. Semalam saja aku masih tak bisa berdiri lancar."
"Maafkan aku Aileen sayang, aku akan antar kamu pulang. Hingga tunggulah kamu sampai aku kembali, menyiapkan pernikahan istimewa. Aku tidak sabar, ingin menyentuhmu setiap saat. Rasanya pasti bahagia."
Zzzz.
Terdiam Aileen, nafasnya berat. Benar benar pria kriminal, jika berdua seperti ini. Benar saja syaiton membuat Aileen punya sisi ketiga, datang.
TBC.
__ADS_1