
Beberapa Jam Kemudian.
Makan malam sempurna, Darrel kembali mengecup kening Aileen. Rani dan Boni masih di dalam rumah, ia ikut bahagia ketika Aileen menerima Darrel yang sangat setia menunggu.
Rani berharap Aileen, tidak mengambil kesempatan atau memanfaatkan pria baik seperti Darrel.
"Mas, makasih ya untuk semuanya."
"Ail, aku akan kabari keluargaku. Kamu baik baik ya, besok sore kita bertemu sebelum Mas pergi ke singapore. Mas akan menikahimu dan menjaga Rivan sekuat jiwa raga Mas."
Makasih Mas, hati hati Ya! Aileen melambaikan tangan.
Tak lama, sebuah mobil navy berhenti. Livi menghampiri Aileen. "Nona Ailen, Daffin sudah menunggu!"
Aileen melirik Rani, ia mengangguk agar Aileen pergi menyelesaikan masalah masa lalunya.
"Ran, aku titip handsome ya. Tidak perlu mengabarkan Darrel. Aku gak mau dia khawatir!"
Rani pun mengicep mata pertanda Ya.
Aileen terdiam mematung, di tepi bibir pantai ia menatap punggung pria yang pernah ia cintai hingga kini, kamu tahu Daffin. Aku sebenarnya rindu padamu, tapi prilakumu beberapa silam membuat aku ilfill tak ingin menatapmu.
Aileen membalikan tubuhnya, ia tak sanggup menghampiri Daffin yang masih menghadap laut ditengah malam.
"Kamu ingin pergi kemana?"
Cekatan tangan Aileen ditarik, terlihat sebuah cincin melingkar dijari. Daffin menatap dan meneliti sebuah cincin berlian yang terbilang murah baginya, ia melepas dengan sekejap membuat tangan Aileen sedikit sakit.
"Aauwh... jangan, kamu mau apa Daffin?"
"Cincin tunangan, kamu menerima pria itu Aileen?"
"Bukan urusanmu, aku akan menikah dengannya. Jadi kamu gak perlu urus kehidupan dan hubungkan kita lagi Daffin."
Pyuuuur.. cincin pemberian Darrel dibuang begitu saja ke tepi lautan. Daffin tertawa membuat Aileen kesal. Ia mencari cincin itu dengan cahaya ponselnya.
"Daffin kamu keterlaluan, tidak perlu membuangnya seperti itu. Kamu membuatku dalam masalah!"
"Jika kau masih menerima dan bersikeras menikah dengan pria itu, akan lebih banyak masalah yang timbul yang kau lihat Aileen!"
__ADS_1
Kenapa kau sepicik ini Daffin? tanya Aileen,
tapi tangan nya digenggam, Daffin memasukan cincin dengan kilat ke jari manis Aileen.
"Sudah aku bilang, kamu milikku. Cincin ini sudah lama harusnya melingkar kita menikah, kamu tidak bisa pergi lagi. Kamu adalah wanitaku, istriku! Aku tahu kamu menerimanya setelah bertemu denganku kan, aku tahu apa yang harus aku lakukan." bisik Daffin membuat Aileen ingin muntah saja.
Sssht.. jangan gila, jangan bermimpi!!
Aileen mencoba melepas cincin itu tapi susah untuk dilepas. Tak lama ombak besar datang, Daffin segera menggapai tubuh Aileen agar tak terjatuh.
Namun mereka jatuh berdua, Daffin mengimbangi dengan kedua tangannya agar Aileen tak terluka, kini dengan deraian baju yang basah, tubuh Aileen berada diatas tubuh Daffin, mereka saling memandang. Aroma air laut yang masih segar, nafas berasap dingin menyentuh mereka.
Tak menunggu lama Daffin membalikan tubuh Aileen, mendekati ranum bibir itu. Tak mendapat penolakan. Desiran gairah Daffin melaju sempurna, ia segera mengecup, dan mengeksplore sempurna lidah mereka yang saling bertautan. Tak terasa sesuatu yang menonjol membuat Aileen terkejut, akan kepemilikan yang tiba saja menempel dan menggenggam dibalik pakaian bawah mereka.
Aileen segera mendorong tubuh Daffin.
"Jangan lakukan lagi, aku akan menjadi pengantin oranglain Daffin. Pergilah! Ah." menahan kilat.
Daffin menarik Aileen dan memeluk rengkuh tubuhnya, "Jangan bohongi. Kamu tak menolak saat kita kiss bertempelan. Itu artinya kamu masih mencintaiku Aileen, aku tahu kamu menerima Pria itu agar aku berhenti mencari mu kan?"
Gleuuuk .. Aileen terdiam, ia merasa gugup.
Perkataan Daffin memang benar. Tak menunggu lama, ia meminta Livi membereskan perintahnya. Aileen yang kini telah diselimuti tebal, ia berganti baju di toko tak jauh. Ia pun melangkah untuk pulang saat Daffin sedang menerima panggilan. Bahkan bersembunyi dan berlari menjauh dari Daffin namun saat dalam tikungan, Daffin tersenyum lebar.
Daffin meminta Aileen masuk kedalam mobil
"Daffin anakku akan menangis, jika aku tak ada dirumah. Izinkan aku pulang!"
"Baik, ikutlah denganku. Kita buat perjanjian. Aku akan mengizinkan pulang!"
***
Di Tempat Lain.
"Aunty, bunda dimana?"
"Bunda sedang keluar sebentar, Rivan tenang ya!" suhu tubuh Rivan sangat panas. Ponsel Aileen pun sulit di hubungi.
Aileen telah berada disebuah penginapan, ia berusaha mencari celah untuk keluar. Ponsel yang terjatuh di tepi pantai, ia bingung untuk menghubungi Rani.
"Bagaimana ini, aku ga bisa kabari mereka." lirihnya.
__ADS_1
Aaaakh.. sebuah benda menempel dari balik tubuhnya. Daffin memeluk erat, aku akan mengabulkan apapun. Jika kamu bersikeras tetap menikah dengan dia! kita lihat setelah ini, apa kamu masih akan menikah dengannya.
"Daffin, kamu jangan gila melakukan itu lagi!"
Ssseeeeur... sebuah tangan kokoh telah sempurna masuk kebagian inti Aileen, mencoba menjauh tapi tubuhnya berada dalam kungkungan nya amat erat. Aileen lagi lagi tak bisa menahan rindu, gejolak Daffin rindu mereka memang menyatu.
Kesal, benci pada Daffin, berpuluh menit Aileen dibuat lemas, jenjang lehernya sudah memerah di sekeliling. Ia tak mungkin bisa bertemu Darrel esok jika kondisi seperti ini!
Daffin tolong.. lepas!!
Aileen berteriak, namun ia menjatuhkan tubuhnya kedalam kolam. Daffin segera mengejar, meraih tubuh Aileen dan kembali bermain di dalam kolam yang dingin.
Tubuh Aileen merasa tak dapat menolak, meski hatinya benci tapi tubuhnya seakan menerima perlakuan Daffin yang bringas saat ini, bagai singa yang lapar sekian lama. Tancapan menusuk itu, membuat Aileen luluh dan membiarkan Daffin melakukan semaunya agar perih tidak semakin parah.
Dengan derai tangisan yang menyerupai air dalam kolam menetes diwajahnya. Kini ia tak bisa mangkir untuk tetap bersama pada Daffin.
Ccciik.. percikan air bergoyang mengikuti gerakan tubuh mereka, kerinduan bertahun sirna dalam sekejap. Berbagai gaya dan kenikmatan sulit untuk Daffin katakan. Ia kini tersenyum menatap wajah Aileen yang tak menolak dan ikut menikmati. Hingga berkali kali Aileen lemas dan bersamaan sebuah haru bersamaan melepas, mereka melepas dibalik tangga kolam saling menatap.
Aileen benar benar lemas, ia memeluk Daffin, dan memukul Pria yang membuatnya kesal.
"Aku masih sangat mencintaimu Aileen." lirih Daffin.
'Darrel, maafkan aku. Beberapa jam lalu aku membuatmu senang, tapi esok aku akan membuatmu patah, aku tak bisa menerima pernikahan kita kelak!' batin Aileen.
Aileen sudah menepi di depan rumah, dengan syal yang menutupi lehernya.
"Aileen, Rivan panas!" teriak Rani.
Daffin segera mengambil ahli, melaju mobil. Ia menggendong anak kecil tampan itu. Lalu membawa ke rumah sakit segera mungkin. Sementara Rani menutup pintu, dan segera masuk ke dalam mobil bersama Aileen.
Rivan dalam gendongan Aileen memeluk.
"Maafin bunda. Bunda perginya lama ya nak!"
Daffin merasa bersalah, semua karena dirinya. Dan hasratnya begitu mengalir bertemu Aileen. Bagaimanapun dia memang seharusnya istrinya, ia menggenggam tangan Aileen dan meminta maaf.
Sementara Rani terkejut pemandangan di depannya. "Aaakh.. aku berada dalam jurang. Darrel pasti akan patah hati melihat ini." cibir sang sahabat.
TBC.
Sambil Tunggu Up, yuks mampir ke temen litersi Author.
__ADS_1