
Melupakan akhir akhir yang penat, di luar kota bekerja, Aileen di singapore selama sepekan, dan thailand selama tiga hari. Aileen pulang ke ibu kota, dan diberikan cuti selama satu hari.
Satu bulan, dua bulan, hingga genap enam bulan Aileen bekerja, ia menjadi wanita yang drastis profesional, ia melupakan kejadian reuni setelah meeting besar di singapore, thailand dan perusahaan makin berkembang. Aileen lebih sering makan bersama ketika time santai bersama Deva, bosnya di lantai lima itu, meski berbeda lantai saat bekerja dan mereka saling dekat penuh humoris.
Entah mengapa Aileen lebih akrab ke timbang Daffin, yang masih Aileen anggap bos kriminal.
"Ai, kamu ngerasa enggak sih kalau pak Deva dan pak Daffin suka sama kamu?" ucap Angel. Kebetulan mereka makan di kantin cafe tak jauh dari kantornya.
"A-aku ga mungkin lah Angel, mereka tetap atasan kita saja, lagi pula untuk apa dipikirin
aku nyaman jika seperti ini saja. Kita dekat seperti teman, di tempat kerja dan hanya saja aku butuh proses, apalagi mikirin pasangan itu bukan keinginan. Lagi pula itu menurut kamu aja, aku deketkan karena sekertaris."
"Owh, jadi bener ni enggak ada, oke baiklah."
"Iya, beneran emang enggak ada kok."
Dan mereka makan siang dengan sempurna, serta berbincang membahas cerita lain.
Setelah mereka makan siang dan kembali ingin bekerja. Aileen dan Angel bertemu dengan Deva. Tentu saja mereka menyapa, termasuk Aileen. Namun belum sempat Deva, berbicara untuk mengajaknya makan malam ponsel Aileen berdering.
Kring.
"Sebentar ya pak! saya angkat telepon dulu, permisi." di anggukan Deva.
"Ya, hallo apa paman? baiklah, Aileen akan segera pergi, tidak bisa sekarang Aileen harus izin dulu! terimakasih kalau paman yang mempercayai Aileen, Aileen pasti ambil pekerjaan itu."
"Ai, kamu dapat kerjaan tawaran baru ya?"
"Heumh! bisa dikatakan seperti itu, udahlah kita kembali kerja. Iyakan mas Deva." tapi Deva saat itu hanya senyum, menatap dalam.
Panggilan pun berhenti, Aileen diam dan tak menghiraukan Angel dan Deva yang berbicara padanya saat masuk ke dalam lift. Hingga ia jalan ke ruang mejanya penuh diam dan mengambil berkas namun tatapannya penuh tanya.
Di Ruang Kerja.
"Aileen, berkas meeting nanti sudah siap?"
Daffin pun menggebrak meja Aileen, sehingga terkejut karena tak menghiraukan, ia sudah bicara depan meja kerjanya. Wajar sakin berbunga, Aileen menatap dalam pada bosnya itu.
__ADS_1
"Ya, pak berkas, meeting dengan klien mana ya. Sebab bukannya tidak ada jadwal hari ini?"
Daffin menatap Aileen dengan tajam,
"Kamu ikut ke ruang kerja saya sekarang!"
Aileen pun bahkan, berdegub kencang, karena menerima kabar paman, melupakan meeting yang Aileen rasa tidak ada, Ah! perasaanya begitu kacau jika memang ada.
Aduh mati lah, Aileen ayo sadar fokus dan fokus sekarang ini, dengan banyak pertanyaan Aileen pun menjawab, dan meminta maaf jika ia ingin mengambil cuti akhir pekan selama tiga hari.
"Maaf, bisakah saya cuti akhir pekan pak. Saya janji akan menyelesaikan semuanya."
"Jadi , karena urusan keluarga?"
"Iya pak, maafkan saya!"
"Baiklah persiapkan bahan meeting dan schedule minggu ini dipercepat, kamu bisa segera cuti. Baguslah saya juga punya waktu time santai bersama kawan."
Daffin pun segera berlalu keluar.
"Kenapa jadi dia yang antusias, aku yang urgent trus kenapa wajah pak Daffin yang bahagia. Sungguh aneh bos kriminal itu, mungkin ingin berkencan buta, aku ingat wanita terakhir itu, Hera si wanita karier cemerlang!" gaya Aileen sebal.
Saat Aileen membalikan tubuhnya, mengambil berkas, sambil meragakan sang bos yang menurut Aileen gak banget, tepat sekali tubuh Daffin berada dibelakangnya.
Gleuk.
"Uuups." lirih Aileen kaget.
"Apa sudah bicara nya, ada lagi yang kamu ingin tanyakan?" ucap Daffin.
Namun Aileen hanya membulat dan menggerakan gaya jarinya, seperti menutup plester ke mulut.
"Tidak ada, maaf terimakasih pak Daffin yang baik." menepuk jas kancing Daffin, agar tidak marah. Dengan cepat Aileen pergi begitu saja.
Aileen berlalu, namun Daffin hanya tersenyum, mendapati Aileen dengan tingkah yang memperagakan teman wanitanya jika memperkenalkan diri saat bertemu dengannya.
'Terlihat lucu dan manis jika dia bersikap seperti itu.' gumamnya.
__ADS_1
Setelah jam pulang kerja, Aileen yang ingin memesan taksi disambut oleh Deva di luar.
"Aileen, kamu baik baik aja kan?"
"Eh, aku kira siapa. Mas Deva kenapa kok bertanya seperti itu, aku fine kok."
"Bukan begitu tadi kamu terlihat tidak baik saat jam makan siang, aku ingin ajak kamu makan nanti malam aku jemput bisa?"
"Apa jemput aku, nanti malam?"
Aileen pun berfikir apa aku ajak mas Deva bertemu ayah saja, agar aku tidak dijodohkan.
"Aileen, ko melamun sih?"
"Eum...ya mas Deva maaf. Oke baiklah aku akan menunggu, aku juga ada yang ingin di bicarakan nanti, taksi ku sudah sampai."
"Bye.. mas Deva! aku duluan, nanti kita berkabar aja." di anggukan Deva, yang saat itu masuk ke dalam taksi.
Saat itupun, Daffin melihat Deva yang memperagakan tawa bahagia.
"Yes."
Dan ia bertanya pada kakaknya yang bertingkah bocah itu, tidak sepertinya super sibuk dan harus bertukar tempat menjadi sang kakak profesional, mengurus segala hal.
"Bahagia sekali?" tutur Daffin pada Deva.
"Ya, benar sekali nanti malam aku ajak dinner Aileen, dan kau tau Daffin, dia mau. Kamu tau Daffin tadi dia bilang, dia juga ada yang ingin dibicarakan, apa menurut mu Daffin? ini kabar baik, apa dia juga punya perasaan padaku?" terlalu polos Deva, membuat Daffin memasang wajah masam.
Daffin terdiam dan menatap Deva, karena ia menyukai Aileen sang sekretaris, namun tak bisa mengungkapkan karena sering bersama. Bagaimana bisa Deva, berbeda ruangan jarang bertemu bisa manis dan cair jika mereka mengobrol, tidak sepertiku dan Aileen bagai robot dan kaku yang terus saja bicara soal meeting dan meeting.
"Daffin kamu tak mendengar aku bicara ya?" sontak Deva, menjentikan jari.
"Ah, tidak juga aku hanya berfikir kamu jangan terlalu besar hati berfikir seperti itu. Bisa saja Aileen akan membicarakan hal lain, bertolak belakang dari yang kamu pikirkan. Sudahlah ayo kita pulang!" balas Daffin, pada Deva yang seperti bocah itu.
Terlihat Daffin mengirim pesan pada Livi, saat itu juga.
[ Cari tau Aileen, akhir pekan akan kemana Livi, jangan biarkan Deva yang lebih dulu, tolong sabotase pertemuan mereka! ] pesan terkirim begitu saja, membuat Daffin nampak kaku memasukan ponselnya ke saku jas.
__ADS_1
TBC.