
Satu bulan berlalu Aileen selalu bersama Daffin, ia begitu cekatan profesional. Sesekali kadang Daffin meminta luang untuk berbicara pribadi, namun Aileen sering menghindar.
Bahkan kini Aileen, terlihat makan siang bersama karyawan lain. Ia selalu menghindar di manapun Daffin berada. Begitupun Deva dari lantai lima, ketika ia datang Aileen tak bisa menolak, namun pada akhirnya ia tak memberi kepastian, dan peluang pada mas Deva. Aileen selalu menghindar, Livi sebagai asisten, ia tak tega menatap Daffin yang kembali murung, begitupun melihat Deva karena bu Aileen sangat menghindar karena kecewa.
Aileen melakukan ini semua hanya mencerna dan menguji kedua pria yang menyukainya. Aileen pun ingin memantapkan hatinya apa ia harus melanjutkan atau mengakhiri hubungan nya dengan Daffin.
"Permisi tuan Daffin, ini surat pengunduran diri saya. Sekali lagi saya minta maaf!" tutur Aileen yang tidak berani menatap Daffin, yang menghampiri dan mendekat.
"Apa kau ingin menghindar dariku Aileen, dua minggu lagi acara kita menikah, bahkan kau tak ingin ikut untuk mengukur gaun pengantin?"
Aileen pun menatap Daffin dan memberikan cincin tunangannya pada Daffin begitu saja.
"Aku minta maaf, jangan bahas ini lagi. Aku perlu menata diriku sebenarnya, lagi pula ayah ku membutuhkanku. Juga pabrik ayah aku harus mengurusnya. Jika kita berjodoh tak akan kemana, aku harap kamu mengerti keputusanku kali ini! Bahkan jika ayah murka aku memutuskan batal menikah, aku benar benar tidak peduli. Meski aku berharap aku tak memilih Deva atau pun dirimu Daffin."
"Kejam sekali kamu wanita!" lontaran Daffin, ketika Aileen membalikan badan ingin pergi.
Aileen menatap kembali dan mendekat ke arah Daffin.
Maaf aku tak bermaksud, aku pernah jatuh hati padamu Daffin. Tapi aku tak yakin apa itu cinta, namun kini semua telah terbalut dengan kecewa. Aku butuh waktu jika kamu tak bisa menunggu ku, batalkan saja. Semoga kamu bahagia dengan wanita yang kamu impikan. Sekali lagi maafkan aku! Deru batin langkah Aileen berjalan pergi menjauh.
Hari pun berganti, dimana ini adalah hari terakhirnya ia pergi ke kantor, dimana ia berada di perusahaan J geuk corp. Sudah ada pengganti sang sekretaris bernama Raya.
Aileen pun memindah alihkan segala nya pada Raya sekertaris baru, dan mengenalkan pada karyawan lain.
Bahkan karyawan lain, dan mereka pun menyambutnya, terlebih Angel yang berat hati karena Aileen berhenti.
Tapi Angel pun paham jika Aileen bukanlah dari kalangan yang membutuhkan pekerjaan seperti karyawan lainnya. Ia adalah putri dari perusahan parfum ternama nomor Lima, otomatis sejajar dan sepadan jika bersanding dengan salah satu putra J geuk.
__ADS_1
Aileen pun mengetuk pintu pada ruangan Daffin, namun hanya Livi yang ada di ruangan itu.
"Livi, aku akan pamit tapi sepertinya tuan Daffin tak ingin bertemu denganku, sampaikan salam dan maaf Ku. Aku pamit!"
Dengan berat hati Aileen mengeluarkan kata itu, ia tak mengerti akan perasaanya kali ini.
"Apa kau, tak ingin menunggu Daffin. Bu Aileen?"
Livi bahkan memohon untuk Aileen tak pergi, namun Aileen meminta maaf. Karena ia harus pergi mengurus perusahaan ayah yang kini membutuhkannya.
"Aku ingin menjauh dari mas Deva, semakin aku menatapnya aku tak bisa melupakan sosok Kay! aku paham akan Daffin. Tapi aku tidak tau akan perasaanku yang sebenarnya aku tak bisa, mungkin perjodohan orangtua yang salah, dan aku salah harusnya memberontak sehingga tak meninggalkan luka dalam pada Daffin, aku salah menaruh harapan padanya, tapi aku bimbang."
"Tapi itu semua bukan sepenuhnya salahmu Aileen, tunggulah sebentar lagi."
Tetap saja, Aileen tak bisa menunggu. Hingga akhirnya ia pamit dan diantar sampai depan dimana Livi memesankan taksi.
Di Paris :
Beberapa Hari Kemudian. Dengan perjalanan belasan jam, Aileen datang ke tempat paman lebih dahulu, dimana ia takut menemui ayah, di saat dirinya ingin membatalkan pernikahan. Tapi paman meminta Aileen untuk jujur dan berani mengutarakan.
Aileen pun tiba sampai depan rumah, ia memberanikan diri masuk.
"Untuk apa kamu sudah pulang Aileen?" ucap ayah Anton, yang mendapati anaknya telah kembali.
"Maafkan Aileen, kini Aileen telah kembali dan semoga pabrik dan Bizard baik -baik saja. Aileen juga mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya."
"Hello, kak, lalu gimana dengan pria itu apa ikut juga ke rumah ini?" sambar Alexi saat itu.
Aileen meminta Alexi untuk tidak membicarakan pria itu. Lalu ayah dan mama menyambut Aileen dengan hangat.
__ADS_1
"Aileen bersihkan dirimu pasti kamu sudah lelah diperjalanan. Biar bibi nanti mengantar makan ke kamar." tutur mama sambung Aileen, ia pun bergegas dan menaiki anak tangga. Sedang Aileen melirik tatapan mata ayah yang berbeda.
"Ada apa sih ayah, putrinya kembali mengapa seperti tidak senang?"
Lalu Anton pun berkata.
"Aileen pulang karena mengundurkan diri, Aileen bahkan sudah tahu semuanya dan meninggalkan Daffin, anak Alber mah. Bagaimana jika batal keluarga kita, akan malu dan tercoreng?"
Mendengar perkataan itu, Alexi bergegas menyusuri kamar Aileen, ia memberi tahu perihal pembicaraan ayah dan mama.
"Kak, benar ga sih kakak ninggalin Daffin?"
"Kamu ni Al, selalu saja menguping percakapan orangtua."
"Lho bukannya bermanfaat kan untuk kakak, jadi ga cemas bertanya kenapa dengan ayah seperti ini, seperti itu ya khan?"
Sehingga mereka pun tersenyum dan tertawa.
"Kak, lantas gimana apa kakak jadi membatalkan pernikahannya?"
Mendengar perkataan Alexi. Aileen hanya mendengus nafas panjang, ia bicara jika akan mengikuti alur saja, jika pria itu benar benar mencintainya, ia pasti akan menyusul dan memperjuangkan.
"Sudahlah Alexi kakak mau makan dan besok kita bertarung ke pabrik dan Bizard ya!"
"Baiklah kak." seru Alexi.
TBC.
__ADS_1