
Pagi seperti biasa Aileen merapihkan berkas meeting, ia meluapkan kekesalan dengan tak memikirkan perasaan cinta pada siapapun. Aileen selalu yakin jika perasaan dengan Kay akan hilang, namun bertemu dengan Deva ia semakin sakit, takut kehilangan kembali, karena kemiripan Deva persis ada diri Kay di dalamnya.
Aileen berusaha untuk memendam perasaan, jika memang ia benar jatuh cinta kembali. Aku harus berkata jujur untuk tidak jatuh cinta pada Deva atau pria manapun. Tapi mengapa sakit dan juga takut jika Deva menjauh.
"Sebenarnya aku tuh kenapa ya?" benak Aileen.
"Sudah selesai berkas nya semua Aileen?" tutur Daffin.
Daffin dengan lembut bertanya, pada Aileen saat akan mengadakan pertemuan penting meeting. Semenjak malam mendengar kisah kenyataan Aileen, entah kenapa rasa cinta nya begitu kuat ingin mendapatkan Aileen, ketimbang Aileen bersama Deva, jika ia tahu Deva penyakitan dan ada sosok mantan suami Aileen sebagai pendonor, Daffin tidak ingin melihat sosok Aileen depresi.
Aileen menatap bos kriminalnya, menjadi berbeda jauh di atas 80º.
'Tumben sekali pria iblis kriminal ini, biasanya wajah seram datar flat dan ketus. Ga ada baiknya kalau bicara. Apa dia salah minum obat?' batin Aileen.
"Sudah selesai semua bahan market kita nanti Aileen, jangan lupakan setelah ini kita akan tinjau proyek di perusahaan Sport, mereka membutuhkan memperluas jaringan yang semakin tinggi! pastikan kita berada di sana, dipercayakan proyek ini jangan sampai gagal."
"Ya baik pak! semua sudah siap."
Lama mereka habiskan jam pekerjaan, selama tiga hari full. Aileen yang masih di kantor lembur pun masih setia, diruang jam kerjanya, bersama dengan Daffin. Beberapa waktu mereka di kantor hanya berdua dan Aileen nampak lembur saat itu, terlihat lampu karyawan telah mati di sebrang. Namun hanya lampu dan ruangan bos serta sang sekertaris yang masih hidup.
Daffin menatap Aileen dari kejauhan, terlihat mengantuk, jelas terpancar ia beberapa kali menguap. Daffin pun melewati Aileen yang ketika hampir tertidur dan berusaha meluruskan posisi duduknya, saat bekerja.
"Oh...., sepertinya aku harus cuci muka. Sebentar lagi beres dan harus beres malam ini." gumamnya entah pada siapa.
Aileen pun berlalu ke toilet, dan segera mencuci wajahnya agar terlihat fresh.
Saat kembali ia mendapati sebuah coffe hangat, dengan lembaran kertas pink.
"Selamat lembur."
Aileen pun tersenyum, menaikan wajahnya ke arah bosnya dan mengirim pesan.
"Terimakasih bos kriminal." senyum Aileen, dan Daffin pun membalas dengan smile.
__ADS_1
Berbeda Aileen hanya peduli terimakasih, tapi Daffin yang mendapat balasan senyum dari wanita yang ia sukai, begitu merah dan merona bahagia.
"Oke selesai juga!" memencet tombol terkirim melalui surel.
Meregangkan tubuhnya yang pegal pegal kali ini. Aileen pun, menatap jam sudah pukul sebelas.
"Ah! malam sekali aku kali ini pulang."
Aileen pun segera berlalu dan pergi, meninggalkan ruangan, ruangan yang dimana bosnya masih terjaga mengerjakan sesuatu, dengan berkutat dengan ponsel klien penting.
Saat berada di luar kantor. Aileen yang masih menunggu taksi, tak sadar Daffin sudah ada dibelakangnya, ketika ia akan menyebrang suatu lintasan motor melintas cepat, sehingga Aileen yang melaju kaki untuk melangkah, terhenti mendadak dan ingin terjatuh.
Dengan refleks, dengan cepat Daffin merangkul bahu Aileen, dan memeluknya agar ia tak menatap sinar akan dimana ia teringat kecelakaan. Daffin beruntung tak jauh dengan posisi Aileen, sehingga tidak terjadi kecelakaan di depan kantornya.
Sreeth!
Saat Aileen berada dalam pelukan Daffin, dan menatap bosnya kala itu, ia merasa nyaman, karena pelukan itu ia tidak teringat akan kejadian. Dimana ia pernah mengalami kecelakaan lampu motor dan mobil, sampai kini ia masih takut dan gemetar.
"Sudah membaik Ai, kamu enggak apa? berhati hatilah ketika menyebrang!" Daffin menatap Aileen.
"Sudahlah tak apa, aku antar sekalian dan panggil nama saja ketika diluar kantor, sama seperti kamu memanggil Deva juga boleh." spontan Daffin.
"Hah .. Maksud anda mas Deva, mas Daffin?"
Aileen menggelengkan kepala, mana bisa disamakan pak, terkesan aneh geli saya memanggil anda mas Daffin.
Tiga puluh menit berlalu, Aileen tak menemukan taksi, sementara Daffin masih terlihat memantau Aileen yang masih menunggu, namun terlihat Aileen yang tiba tiba saja duduk, lemas dibawah anak tangga, dan terlihat jatuh pingsan, tapi sedikit sadar kala Daffin merengkuhnya.
"Pak, lepasin!" lemas Aileen.
"Kamu akan lama menunggu taksi, biar saya antar." ujar Daffin, entah kenapa perasaan Aileen berdetak kencang melihat bosnya itu.
"Anda bawa saya, ke dokter?" terkejut Aileen.
__ADS_1
"Aku tahu tentangmu, jadi untuk kebaikanmu. Turuti saja perhatianku ini, anggap sebagai bos memerhatikan kesehatan karyawan. Dokter akan datang ke tempatku." datar Daffin.
Satu jam kemudian Aileen telah diperiksa dokter, dan memberi resep obat, jika Aileen kelelahan dan akan segera pulih, ia pun memberi obat untuk alergi dingin. Jika cuaca sangat dingin ia akan salesma dan demam.
Sepulang dokter! Daffin membersihkan diri, ia mengenakan pakaian t-shirt hitam dan celana pendek dibawah lutut. Terlihat sangat formal dan macho, ia pun berusaha mendekati Aileen.
"Bagaimana denganmu Ai, apa seperti ini akan membaik?" menyentuh kening.
"Aku ingin pulang pak!"
"Beristirahatlah dulu, cuaca di luar sangat ekstrem. Lagi pula, tempatku tidak jauh dengan kantor. Besok jika tidak hujan, aku akan antar kamu pulang."
Aileen yang ingin memberontak, sangat aneh ia malah menatap dengan samar Daffin berubah, ia - pun membalas pelukan hangat itu, dan berkata.
"Terimakasih Kay! kamu ada di dekatku." refleks memeluk, karena rasa dingin dan trauma tadi melihat sinar, membuat Aileen berubah berbeda.
Daffin yang menatap Aileen, tak sadar segera menenangkan Aileen, dan ia memberikan kehangatan. Sudah lama ia menyimpan perasaan dalam pada sang sekretaris sejak kejadian awal pertemuan! ia salah menyekap wanita. Terlebih seiringnya pertemuan membuat mereka semakin dekat, dan Daffin ingin mempunyai hubungan serius.
Terlihat dering notif ponsel Aileen berbunyi, Daffin pun ragu dan akhirnya membuka pesan Aileen.
[ Aileen sayang, jangan lupa besok apa sudah pesan tiket ke paris? temui ayahmu! mereka akan menemui mu dengan anak teman bisnis ayah, ini saatnya paman mendesak mu. Untuk kebaikan mu, luluh kan hati ayahmu agar kamu diakui, jadilah anak berbakti penurut! paman tidak bisa menentang ayahmu, paman dan bibi minta maaf Aileen! ] pesan tampil.
Daffin menatap Aileen.
"Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa dia ke paris?"
Tak lupa Daffin mencatat nomor yang mengirimkan pesan itu.
"Seberat apa, mengapa trauma mu membuatku sakit, tapi dirimu terlihat tegar Aileen?" lirih Daffin.
Tak lama, kembali muncul pesan dari Deva ke ponsel Aileen, sesaat ingin meletakkan kembali ke meja.
[ Ai! kamu udah pulang ya, aku di depan kantor menjemputmu. Maaf aku terlambat! besok kita jadi ke paris, temui ayahmu kan? aku sudah mengemasnya. ] pesan Deva.
__ADS_1
Daffin yang mulai panas, ia tak membalas malah menghapusnya. Memikirkan cara, agar Deva salah waktu dan Deva tak pernah menemui keluarga Aileen.
TBC.