Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
KESIALAN DI INGAT


__ADS_3

"Kisahmu sangat menyedihkan, aku rasa ada jodoh yang akan dipersiapkan Tuhan, untukmu Aileen."


"Hah! andai saja, saya hanya fokus kerja. Dan berharap adik saya di luar kota, bisa sembuh dari sakitnya. Dan kekesalan saya bertambah, saat orang anda menyekap saya." cetus Aileen, membuat Daffin terdiam tak enak.


Aileen tidak pernah membayangkan, dirinya yang akan pulang malah di sekap orang dari arah belakang dengan kasar. Bahkan ocehan hatinya berubah, apakah ia akan menyusul kedua orangtuanya. Meninggalkan semuanya di dunia fana ini, tanpa membalas budi pada bibi dan pamannya.


Beberapa puluh menit, Aileen mengedipkan kedua matanya, jika ingat dirinya pulang kerja sangat apes. Seolah ia sadar, tempat yang aneh membuat Aileen gusar ingin kabur secepat mungkin.


"Hiks! aku dimana ini?"


Dalam gedung sedikit gelap, dua pria datang menghampiri ruangan. Di mana wanita sasaran berada, sebuah meja lampu penerang sedikit cahaya. Dia menatap wanita yang terbelit ikatan dan sarung penutup kepala berbetuk segi empat.

__ADS_1


Aileen pun kini menatap segalanya dalam penutup, sedikit remang tapi ia tahu ada yang mendekat ke arahnya. Aileen hanya mendengar pembicaraan, andai mulutnya tak ditutup, mungkin sumpah serapah sudah ia katakan dan keluar dari mulutnya. Berusaha ia mencoba melepas ikatan, namun sulit.


"Owh...., tidak perut ku lapar sekali, aku lupa aku belum sempat makan sehabis belanja. Astaga! apakah belanjaan aku juga tertinggal dijalan kedua kalinya?" benak Aileen racauannya sedikit absurd.


Awas saja kalau saya bisa lepas dari sini, saya akan tendang burung emas milik mereka satu persatu, geram Aileen yang merasa gila dibuat seperti ini. Aileen hanya bisa bicara namun tak bersuara, karena bibirnya di lakban dan pengap keringat mengucur terus menerus.


"Maafkan saya, orang saya menangkap mu dengan tidak baik. Aileen." permintaan maaf lagi Daffin, karena ia juga merasa bersalah saat ini.


"Kalian tidak salah tangkap wanita kan?" ucap Daffin. Di ikuti oleh Livi yang tampak duduk saja sedikit menjauh dari Daffin, karena ia malas tak suka melihat pertunjukan menyakiti seorang wanita, apalagi dia juga seorang wanita meski seperti pria.


"Tidak tuan, kami mengikuti dan bajunya pun sama yang diperintahkan, kami mengikutinya sudah dari pagi." ucap bodyguard.

__ADS_1


Aileen mencerna suara mereka, aku keluar saja dari siang, bagaimana mungkin aku bisa di ikutin dari sejak pagi gelap buta. Apa bibi atau paman punya musuh, awas saja akan aku laporkan kalian ke polisi jika aku bisa lepas!! gumam Aileen dengan emosi mendidih, tak sabar penutup wajahnya segera dilepas.


"Hello wanita piala, sudah lama hampir dua tahun kita tak bertemu, apa kamu ingat suara ku."


"Karena Deva kau sakiti, jadi maaf karena harus menangkapmu dengan seperti ini! Aku yang menyuruh orang ku agar menemukan mu, memberi perhitungan pada wanita yang menyia- nyiakan Deva. Sampai hati tega kau lakukan itu? Aku sudah anggap kau lebih dari teman, kenapa kau sadis pada kakak ku?" bisik Daffin.


Daffin memegang kepala Aileen berusaha menjenggutnya dengan penutup kepala itu.


Aileen menggelengkan kepalanya, ia tak kenal dengan Deva. Bahkan ia baru saja pindah selama dua tahun di kota padat ini, mana mungkin temanku pun tak ada hanya Lani. Aileen semakin yakin jika ia menjadi salah sasaran, mengingat wanita pirang yang bertukar baju memaksa itu membuatnya susah, awas saja jika bertemu nanti! dendam Aileen ketika benar benar ia lepas dari penyekapan ini.


"Kenapa kamu menggelengkan kepala, dasar wanita laknat kamu." perkataan itu, membuat Daffin keterlaluan, dan kali ini ia bertemu di dalam mobil, bicara akan membantunya. Apakah tidak ada udang dibalik batu, benak Aileen.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2