
Aileen panik, ia yang telah memakai piyama dengan dress yang cantik. Meminta tolong karena Deva pingsan. Entah mengapa seseorang bisa masuk, dan pria itu mendekatinya. Ia membuka masker dan topinya.
"Daffin?"
Aileen tak percaya, ia bahagia dan tiba saja berdiri, sehingga Daffin mengurai air mata dengan memendam kesedihan. Ia bahkan membelai wajah Aileen dan merengkuhnya.
Tidak, tidak mungkin Daffin. Kamu benar Daffin?
Ia memukul bidak tubuh Daffin, dan menangis dengan derai air mata yang tumpah mengalir begitu saja. Segalanya menetes hingga membasahi dalam pelukan tubuh Daffin.
"Maafkan aku Aileen, andai aku tidak ceroboh. aku tak akan meninggalkanmu lagi!"
"Tapi aku telah menikah dengan Deva, karena.."
"Sssstt..."
Daffin meminta Aileen untuk diam. Sejujurnya ia telah mengetahui semua hal dari Livi.
"Deva bisa memilikimu sebagai istri, tapi tak akan lama. Dan dia tidak berhak untuk menyentuh tubuhmu. Kamu milikku Aileen, sebuah tanda jejak itu hanya milik ku!"
"Maksudmu?"
Aileen menatap apa yang dilakukan Daffin pada Deva. Ia bingung apa yang ingin dilakukannya, sebuah malam pertama yang harusnya bahagia. Di isi dengan penuh siasat.
Sebuah malam pengantin yang tak di inginkan, memang ia tak mengharapkan. Tapi semua telah jadi bubur pandangannya seolah kabur."
'ini pasti aku bermimpi lagi?' lirihnya.
"Kamu, mau bawa aku kemana Daffin?"
Aileen mengekor kemana Daffin, tangannya ditarik olehnya. Meninggalkan kamar Deva yang tidur ditutupi selimut, entah apa yang ingin dilakukan. Begitu sampai, Daffin membuka dan melempar semua baju hingga tak tersisa satupun.
"Ah, kamu mau apa Daffin?"
Daffin mendekati Aileen yang menutupi tangannya.
"Bukalah, tidak perlu ada yang ditutupi!"
Sluurp.., sebuah coklat kecil Daffin memberikannya pada Aileen.
"Makanlah, agar semuanya rileks dan ini bukan mimpi Aileen." menurut ia mengunyah dengan memandang wajah Daffin.
"Aku rindu, tapi mengapa takdir membelengguku seperti ini?"
"Bersabarlah Aileen sayang!" bisikan Daffin pada telinga Aileen, ia menggigit telinga, menyusuri kejenjang pemilikan Aileen. Lebih turun dan lebih turun lagi, sehingga gaun tidur biru langit yang sangat feminim itu terkoyak.
Sebuah tangan kokoh menyusuri, seluruh tubuh Aileen terasa panas, sehingga ia lupa keberadaan Deva, saling bertautan dan Daffin memacu hebat pada milik Aileen, meluapkan kerinduan membuat teriakan Aileen yang begitu dramatis tak di hiraukan.
__ADS_1
Ah. Suara lepas landas Daffin, kembali melemas, sehingga membalikan Aileen dengan mengecup, kembali membuat nikmat yang membuat Aileen ingin menyudahi, hingga Aileen begitu lemas.
Pagi Harinya.
Jendela tirai menyinari, Aileen memupuk telapak tangannya untuk menutupi wajahnya. Ia menatap seluruh ruangan, dan mendapati suaminya yang kini terbangun lebih awal.
"Mas Deva, sudah bangun?"
Auw..., Aileen merasakan perih ketika bangun. Ia menatap sekeliling dan tempat. Kenapa aku bisa disini, dalam batin nya ia mengingat akan hal panas semalam. "Aaaakhwh...." Aileen berteriak dan mengrenyit tangan ke kepalanya, seolah ia sedang berfikir keras.
"Kenapa sayang?"
'Semalam, bukan Daffin tapi memang mas Deva. Kenapa seperti nyata. Kenapa aku tidak ingat sepenuhnya.' batin Aileen.
"Hei, kok melamun. Kenapa?"
"Mas Deva semalam pingsan gak?"
Deva menggelengkan kepala, dan menyambar. "Justru kamu sayang yang pingsan, maaf semalam karena ulahku. Kamu lelah ya."
Aileen dibuat pusing, entah apa yang terjadi.
ia seperti nyata keluar dari kamar, ia nyata menatap mas Deva yang pingsan dari kamar mandi. Ia menatap dan masih merasakan tubuhnya semalam di jamah oleh Daffin berkali kali bagai santapan orang yang kelaparan, kelembutannya bahkan berubah dengan kegilaan. Atau memang benar halusinasi karena rinduku saja saat ini pada Daffin.
Deva mengecup kening Aileen. Bahkan ia memberikan segelas susu, dengan balutan yang masih polos akan baju tidur mini, membuat Deva menyibakkan selimut.
"Sayang, lutut mu merah. Aku obati sebentar ya, kenapa bisa merah seperti ini?" tanya Deva.
Aileen memikirkan, ia masih sadar saat tubuhnya di bentur ke tembok, seseorang menyentuh tubuhnya dari belakang, hingga lututnya terbentur terasa sakit. Tapi jika itu halusinasi, jika itu mas Deva yang melakukannya, mengapa ia tidak sadar. Jelas semalam setelah bermain ia meminta maaf.
Ah, semakin pusing, entah apa yang terjadi dalam semalam membuatku Gila untuk berfikir.
"Mandi dulu, kita sarapan. Aku keluar sebentar dulu ya sayang. Tidak lama!"
Aileen tersenyum, membalas kecupan Deva. Ia mencium tangan yang kini sudah menjadi status suaminya, "Mas, hati hati ya!"
Deva terkejut, Aileen mencium izin telapak tangannya. Ia semakin cinta dan kagum pada Aileen. "Aku tidak lah salah memilih, dan mencintaimu Aileen." bisik nya.
"Mas Deva terlalu memuji, aku hanya melakukan tugas semestinya bukan?"
Mereka saling memandang, tak lama Aileen berbisik. "Mas, gak jadi keluar atau masih mau memandang?"
Deva tersenyum, baiklah tunggu sebentar ya. wajah mu terlalu cantik ketika bangun tidur, Kamu juga hati hati, ketika mandi aku yakin kamu akan kesulitan, ada apa apa. Telepon mas ya!
Aileen pun tertawa kecil karena malu. Ia menutup wajahnya sementara Deva bergegas pergi, namun masih menatapnya. Seolah berjalan mundur masih memandangnya tak berhenti.
Beberapa jam kemudian, Aileen yang merasa perih di bagian itu. Ia mengeringkan rambut dan melamun setelah mandi.
__ADS_1
'Semalam itu aku mimpi atau nyata? Jika nyata, ini ga boleh terjadi. Aku sudah seharusnya patuh dan tak boleh mengkhianati mas Deva. Kecuali takdir kehendaknya jika memang Daffin masih hidup, semoga tidak ada kekacauan terulang kembali.'
Aileen yang membuka tirai, ia menghirup ditepi balkon. Ia melambaikan kedua tangan, kemeja putih yang sedikit transparan, dengan lengan yang pendek. Membuat jenjang lekuk tubuh tangan kaki seputih susu itu terlihat, ia memutar tubuhnya dan mengatakan.
Terimakasih atas nafas yang masih bergerak.
namun ia terkejut, di samping balkon sudah ada pria yang menatap senyum dengan secangkir kopi.
"Daffin?"
Aileen terdiam kaku, ia menatap terkejut dan sempurna. Aileen mencubit kedua pipinya. Seolah ini real ini nyata, kenapa dia begitu mirip. Jika iya semalam aku dengan siapa? Apa yang sebenarnya terjadi.
"Sayang, sedang lihat apa?"
Deva melingkar ke pinggang Aileen. Ia pun menatap dan bicara jika ia melihat Daffin, tapi ia urungkan karena tak ada seorang pun di samping balkon.
"Aku hanya menghirup udara mas,"
Deva mengajak Aileen sarapan, mereka melakukan sebaik mungkin. Sama hal seperti pengantin sebelumnya. Apa yang mereka lakukan ketika bersantai, Deva menyuapi Aileen, begitupun sebaliknya.
Tak lama sebuah bel berbunyi.
"Sayang, aku lihat siapa yang datang."
"Memang, cuti honeymoon diperbolehkan datang?"
Deva mengusap rambut Aileen. Kamu sangat menggemaskan, hal tak dipungkiri jika klien penting. Asalkan jangan datang disaat kita sedang menyatukan benih saja! gumamnya.
Cih.
Aileen yang mendengar pun tersedak, ia mengambil air minum hingga tak menatap Deva. Karena ia malu, aksinya pun dibuat gemas semakin goyah Deva menatap sang istri.
Saat membuka pintu, ia terkejut ketika yang datang adalah?!
Aileen pun menghampiri ketika menatap sang suami terdiam di depan pintu.
"Siapa yang datang?"
Triliing .. braagk.
Pecahan gelas beling terjatuh. Aileen terkejut yang datang bertamu benar adanya Daffin.
Jika dia benar Daffin, semalam itu benar adanya aku dan dia. Lalu mas Deva mengapa tak ingat, aku mengapa tak sepenuhnya ingat semalam?
"Kenapa diam, kalian tidak menyuruhku masuk. Atau aku menggangu ya?"
Seseorang beradu pandang dengan Deva, sementara Aileen mematung apakah ini mimpi atau halusinasinya lagi.
__ADS_1
TBC.