Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
INI BENAR MIMPI


__ADS_3

"Kau, apa benar Daffin?"


Deva menatap tajam, ia pun menatap Livi yang terlihat menemani. Lalu Deva merengkuh pinggang Aileen yang terdiam begitu saja.


Daffin mengepal kedua tangannya, ia menatap Aileen yang masih dibalut baju tidur mini biru semalam. Ia tersenyum dan menatap sang kakak.


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu. Hanya memastikan apa benar calon mempelai dalam keadaan baik dan sadar menerima pernikahan kakak ku ini."


"Apa maksudmu Daffin, dan kenapa kamu datang lagi?"


Daffin pun masuk mengambil suatu berkas yang ada di meja kasur, sesekali ia menatap Aileen yang seharusnya ia berada bersamanya.


"Baiklah, tugasku selesai. Thanks kak Deva!"


Daffin kala itu mengambil satu berkas, sementara Livi menunggu di luar, namun masih menatap Aileen dengan tersenyum. Dia masih dipeluk rengkuh sang kakak.


"Mas Deva, ada apa ini katakan sebenarnya apa yang terjadi?"


"Aileen, kamu itu kenapa sih. Soal Daffin aku baru tahu beberapa minggu ini. Aku telah menikahimu. Jadi, bukan berarti aku memintamu mengingatnya bukan?" tanya Deva.


Aileen menangis, ia duduk di balik kursi. Seakan ia merasa teraniaya dan dibodohi. Bahkan ia melewati banyak rintangan tanpa kekasihnya.


Semalam mas Deva melakukan hak batin padaku atau Dia? Aileen menatap Deva.


"Kamu bilang apa, semalam kita melakukan semestinya."


Bruuugh...,, sebuah pukulan tepat di kepala Deva.


Arrrgh. Teriak Aileen histeris.


Aileen begitu terkejut dan menutup mulutnya, ia ingin berteriak tapi pandangannya berubah menohok.


"Daffin dia kakakmu, mengapa kamu memukulnya?"


Aileen mencari kain untuk menutup kepala yang terus mengalir.


"Ayo pergi, ikut denganku!" tutur Daffin.


Mas Deva bagaimana, dia suamiku Daffin.


Tolong!!


Tak lama, Livi masuk. Ia membantu menggotong Deva dan membawanya.


"Tidak usah khawatir lakukanlah semestinya!" lirih Livi pada Daffin.

__ADS_1


Seperginya Livi yang mendorong Deva dengan kursi roda, dan beberapa orang jubah hitam. Aileen yang masih memakai piyama mini bertali kecil. Ia masih memandang Daffin dalam.


"Aku benar benar gila, pasti mimpi lagi, ini tidak benarkan?"


Aileen menutup mata dan kedua telinganya seolah ia masih berhalusinasi, atas apa yang ia lihat.


"Aileen, aku mencintaimu. Aku tahu kamu milik kak Deva. tapi jejak itu, malam itu kamu tidaklah bermimpi. Kakak ku tak akan bisa menyentuhmu karena penyakitnya. Aku kecelakaan karena kak Deva, kami membuat perjanjian. Aku akan membuatmu mempunyai keturunan meski kini dirimu hidup dengan Deva!"


Cih.


"Kalian benar benar gila, kalian menipuku. Aku benci dengan semua ini. Itu sama saja aku berkhianat pada pernikahan ini. Gila kalian semua, aku pasti salah dengar ini." lirih Aileen yang ingin mengambil ponselnya.


"Tapi aku bisa membahagiakanmu. Percayalah!"


Aileen melepas pelukan itu, apa maksudmu.


"Kamu pikir pernikahan hanya mainan."


Aileen menyibak rambutnya dan ia luruskan kesamping kanan, hingga jenjang leher kiri terlihat putih dan cantik. Aileen segera mengambil piyama dress untuk menutupi pakaian yang terlalu mini.


"Aku akan menyusul mas Deva, kejadian semalam itu tidak akan terulang. Aku benci kamu Daffin!"


"Apa kamu jatuh cinta pada Deva?"


"Ini bukan soal jatuh cinta, yang jelas kamu sudah tahu. Tapi perlakuan kotor mu itu, aku benci dan aku harus dengar semua dari Deva, perjanjian itu benar. Maka aku harus meninggalkan kalian semua."


"Lalu dimana kamu selama ini, Hah?"


Apa maksudnya, kalian menyembunyikan apa. Aku ga ngerti semua hal ini. Aileen mengambil beberapa pakaian, ia masukan kedalam koper dan berniat untuk menggantinya. Daffin menutup rapat pintu dan ia masukan kunci kedalam saku celananya.


"Kau tidak bisa pergi tanpa izinku!"


"Apa maksudmu, kau mau apa lagi. Aku kecewa, akan aku tanyakan kebenarannya apa yang kalian rencanakan. Enyah lah dariku Daffin!"


Tak menunggu lama, Daffin menarik helaian piyama dengan satu tangan, membuat Aileen menutupi sebagian tubuhnya.


"Jangan lakukan ini, aku sudah menjadi istri Deva!"


Daffin... !!


Teriakan Aileen membuat ia tergontai lemas, dalam waktu hampir satu jam, mereka bergulat. Ada tetesan air mata mengalir dari pelupuk air mata Aileen. Ia tak menyangka akan mendapat perlakuan dari pesaing bisnis sang ayah.


"Anak dari sahabat ayah, perjodohan yang ayah minta. Mengapa harus berakhir seperti ini. Aku bukan ******, yang menikah dengan kakak tapi dihamili oleh adiknya!" gumam Aileen.


Aileen menarik sprei dengan genggaman tangannya. Daffin benar benar hilang akal, menghujamnya berkali kali, terasa panas dan gerah membuat tubuhnya letih, Aileen lemas dan membiarkan Daffin melakukan apapun padanya.

__ADS_1


"Percayalah, kita akan bisa melewatinya dan bersama, aku mencintaimu Aileen." kecupan itu mengenai punggung Aileen begitu saja.


'Aileen hanya terdiam dan membenci Daffin, rasa cintanya berubah gila, kamu tega melakukan semua ini, menghilang dan datang semau kamu. Aku memang mencintaimu tapi perlakuan kamu membuatku adalah wanita ****** yang mudah kamu atur, kalian berdua tidak pantas untukku. Akan aku akhiri semuanya malam ini!' batin Aileen.


Ah.


Berkali kali Daffin membawanya ke dalam bath up, perih terasa bagai mayat hidup, seolah dunia benar benar mati tanpa cinta. Daffin kembali menusuknya setelah mengusap punggung dengan aroma sabun yang mewangi.


Tusukan itu bukanlah nikmat, suatu kebencian yang membuat Aileen marah, karena takdir dipertemukan pada pria yang salah.


"Kenapa kamu tidak menatapku Aileen, bersuaralah!"


"Bagaimana jika kamu di posisiku Daffin, kita tidak sah melakukan ini. Bagaimana bisa aku menikmatinya?"


"Bodoh."


"Ah. Hentikan Daffin, ini menyakitkan ku sekali." teriakan Aileen pecah, ketika Daffin memacunya dengan gila dan kasar, hingga pingsan.


Cup.


"Maafkan aku Aileen, kamu hanya milikku!" lirih Daffin, yang memeluk Aileen dan ikut tertidur, tidak berperasaan kala Aileen telah pingsan karena ulahnya.


Sepagi mungkin, Aileen telah rapih. Ia pergi dengan sebuah koper membiarkan Daffin yang masih di ranjang tanpa busana, hanya berselimut lelah akan pergulatan malam yang panjang.


"Itu adalah terakhir kamu menatap, dan menyentuhku Daffin!"


Satu jam berlalu, Aileen masih terasa sakit dan perih. Aileen bahkan menatap Deva di rumah sakit, ia menunggunya dan tidur di tangan kanan yang menyentuh pipinya.


"Aileen, kamu datang?"


Aileen menyadarkan, dirinya tersenyum dan meminta Deva untuk sembuh. Tapi nafas suara terpenggal penggal, Deva menceritakan yang sebenarnya. Apa yang dikatakan Daffin sangat benar. Aileen tak percaya akan semua hal buruk padanya.


"Kenapa mas Deva melakukan ini?"


"Karena hatimu masih ada Daffin, aku tidak akan lama pasti pergi. Kamu membuat aku bahagia karena menikah denganmu itu sudah lebih baik Aileen. Setelah aku pergi, menikahlah dengan Daffin dan berbahagialah!" tutur Deva membuat Aileen menangis pecah.


Omong kosong apa, kalian?!


Belum sempat Aileen mengurai kemarahan. Aileen menatap Deva dan menahan nafas, mencoba menyebut Asma Tuhan, lalu suara monitor berubah garis lurus.


Mas, Mas Deva ... teriak Aileen histeris.


Bahkan seluruh dokter segera menghampiri, malam yang harusnya bahagia, baru pagi kemarin kita bersanding mewah dengan balutan putih gold, kini balutan hitam menyeru ada di hadapanku!


Ah... teriak Aileen, ia memegang kepala Deva dan memeluknya. Air matanya membasahi pipi dan wajah Deva yang telah pucat dan tak bernyawa.

__ADS_1


"Kenapa kalian lakukan ini, kenapa kamu berikan takdir seperti ini padaku?" lirih Aileen masih menatap Deva di pacu detak jantung.


TBC.


__ADS_2