Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
BERI AKU RUANG


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian.


Daffin menghampiri apartemen, dimana Aileen tinggal, saat ia menekan bel. Lani pun membukanya, jika ia tidak ingin menerima tamu siapapun, dan tidak ada Aileen juga saat itu karena belum kembali, dari membeli makanan.


Daffin pun, terpaksa kembali pulang, ia menitip pesan pada teman Aileen, jika Daffin menunggunya dan ingin bicara.


'Sampaikan salam saya pada Aileen, Daffin menunggunya dan ingin berbicara.' membuat Lani mengangguk.


Beberapa jam kemudian, Aileen yang menangis dan meluapkan segala amarah bercerita pada Lani. Lani pun menenangkan hingga detail. Agar Aileen tetap tenang, dan berfikir secara kepala dingin. Lani mengerti akan emosi Aileen yang masih bercampur amarah dan sedih menyatu.


"Sudah Ail, istirahatlah aku ada di sisimu. Aku akan bantu kapan pun itu." tutur Lani.


Aileen pun memeluk sahabatnya itu, karena berusaha menenangkannya.


Sampai dirumah Daffin dan Deva saling diam, lalu Deva menjelaskan akan kebenaran pada Aileen hingga detail, di depan kedua orangtuanya saat itu.


Sehingga papa Alber, dan mama terkejut. Terlebih Daffin mengambil jas dan tidur di apartemen tak jauh dari kantor. Terlihat sudah ada dokter pribadi dikediaman Alber. Sang mama yang bingung untuk berpihak pada siapa, ia hanya terdiam. Karena mereka tau sikap sifat asli kedua putranya.


"Daffin tunggu nak, kita bicarakan baik - baik." mama pun mengejar.


"Daffin ingin sendiri mah."


Hingga Daffin melajukan mobilnya dengan cepat, ia pun menghubungi Livi, untuk membantunya jika Aileen telah tahu semua, ia meminta Livi, mencari cara agar Aileen mengerti dan mau mendengar penjelasannya.


***


Pagi ini Daffin ke kantor, dengan wajah tidak baik, bahkan Livi memberi ruang karena disaat meeting klien semua dibatalkan, semua karena ia tak melihat Aileen masuk kantor.


"Suruh Angel menghubungi Aileen, ia tidak bisa seenaknya tidak masuk bekerja karena urusan pribadi, kantor ini ada jam dan peraturan!" tutur Daffin, ketika memberi perintah pada Livi.


"Baik, aku minta maaf Daffin jika keadaanmu tidak baik. Apa kau ingin istirahat biar aku bantu hari ini gantikan, tenangkan pikiran mungkin." ujar Livi menasehati.


Namun Daffin menatap amarah tak terkendali, pada Livi, ia menatap jam sudah hampir siang tetapi Aileen belum juga datang ke kantor tanpa kabar.


BRAGH.


Saat itu pun Daffin melempar vas bunga, hingga terpental ke sisi pintu. Apalagi sudah banyak karyawan yang terkejut akan kemarahan bos nya itu, tanpa sebab di dalam ruangannya.


"Ada apa sih, kenapa Bos emosional seperti ini?" tanya Sandra pada Angel.


Angel pun menjawab, tak mungkin jika karena Aileen tak masuk, jelas tanpa pesan dan surat izin bukan.

__ADS_1


Bahkan terdengar selama satu jam di ruangan Daffin, ketika terdengar suara asisten meminta Daffin hentikan emosi berteriak.


"Akhirnya suasana seram horor lagi, bukan kah atasan kita seperti ini?" tanya Sandra.


Angel pun menyuruhnya diam.


Sssst!!


Tak lama, dari sisi Aileen pun tiba di kerumunan karyawan.


"Ada apa ini berkumpul ramai?"


"Bu Aileen, anda kenapa? sudah hampir jam sebelas siang. Kenapa anda terlambat, apa ada masalah?" Angel pun menghampiri.


"Ya, maaf ponsel dan tas ku baru saja dijambret, mobil ku mogok, aku kena begal di pertengahan jalan saat mengambil uang. Aku ga sempat dan panik. Tapi udah dibantu polisi terdekat."


"Turut prihatin, untung tidak apa apa."


"Trus ada apa ini kenapa kalian ramai disini, Angel?"


Aileen membulat ketika Sandra menjelaskan, dan ia meminta maaf agar seluruh karyawan kembali bekerja.


"Maafkan saya ya teman- teman. Setelah ini semua kembali ke meja kerja masing masing saja, biar atasan kalian saya akan bicara."


Tok. Tok.


"Permisi tuan Daffin."


Aileen mengetuk pintu ruangan sang pimpinan. Terlihat mata Daffin membulat, ketika Aileen dengan tampilan yang sedikit tak biasanya, aneh Aileen pun terkejut akan ruangan yang berantakan.


"Wah, ada gempa rupanya di ruangan pimpinan?" ucap Aileen.


"Nah bu Aileen datang, silahkan anda bicara, tuan Daffin sedang tidak baik!" jelas Livi, membuat Aileen makin bingung.


Livi pun menghampiri Aileen, agar ia menenangkan Daffin dan bicara. Sehingga pintu ruangan pun tertutup rapat, dan tak ada yang bisa melihat dari luar.


"Kamu kembali Ail, aku pikir sejak peristiwa semalam, kamu tidak akan kembali, dan pergi begitu saja."


Daffin tiba saja memeluk Aileen kala itu. Aileen memang berfikir akan meninggalkan Daffin, namun ia profesional untuk mengerjakan pekerjaan yang padat, dan akan segera mengundurkan diri dari perusahaan ini.


"Anda seorang pimpinan, mengapa bersandar di bahu wanita? Jangan seperti ini!"

__ADS_1


Livi pun tersenyum dan segera keluar. Wajah Aileen yang terkejut pun amat malu.


Aileen pun menceritakan mengapa ia terlambat. Terlihat panik jelas Daffin saat itu, selama tiga puluh menit Daffin memeluk dan menjelaskan begitu terharu, dan menetes bulir air mata tumpah mengapa ia berusaha membohongi nya.


"Syukurlah kamu tidak apa apa."


"Tuan Daffin, kita di kantor profesional lah, aku tak ingin membahas ini di kantor. A-aku akan kembali menyelesaikan pekerjaanku disini."


Daffin pun sadar akan emosionalnya, ia segera melepas Aileen, dan kembali tenang.


"Berjanji lah kamu percaya padaku Aileen, jangan tinggalkan aku, jika kamu ingin menghukum aku bersedia." tutur Daffin, namun Aileen hanya tersenyum.


"Entahlah Daffin, aku mohon beri aku ruang untuk berfikir." Lalu ia pergi keruangan meja tugasnya.


Daffin merasa tenang, ketika wanitanya baik baik saja, ia keluar dengan wajah sedikit malu.


Bahkan seluruh karyawan tersenyum. Mereka menyadari jika bos nya itu marah, karena seorang wanita. Aileen pun memerintahkan Office boy untuk membersihkan ruangan dirut.


Saat jam makan siang Aileen yang makan dengan santai, terheran karena Daffin memandangnya.


"Kamu ga lapar?"


"Aku sudah kenyang, karena melihatmu Ail!"


"So sweet sekali, sudahlah aku sudah melupakan kejadian semalam, aku mencerna banyak hal, tapi aku minta maaf akan mengundurkan diri. Bizard parfum membutuhkanku. Aku mohon kamu tak menyulitkan."


"Lalu bagaimana dengan hubungan kita Ail?"


Aileen pun tersenyum diam. Jika sesuatu dilandaskan dengan kebohongan untuk kepentingan tertentu, apa adil. Jika sesuatu dilandasi di awal dengan kebohongan apakah akan baik- baik saja diakhir.


"Aku minta segera rekrut karyawan baru, aku benar benar ingin kamu memberiku ruang, entah berapa lama. Jika kamu tidak sanggup, jangan menungguku!"


Deg.


"Apakah hubungan kita berakhir?"


"Aku tidak tahu, aku mulai merasakan hal berbeda. Tapi kenyataannya aku merasa ditipu dan dibohongi. Aku tidak menyukai hal seperti ini. Ini yang aku takuti, jika aku tidak di jodohkan. Aku benar benar tidak ingin menikah."


Gleuk.


Daffin sadar dirinya bersalah, tanpa sepatah katapun ia hanya pasrah pada sikap dan keputusan Aileen.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2