
Butir Air Mata, entah sampai kapan.
"Ail, aku datang kembali, Apa kamu mengharapkan aku kembali. Aku sudah datang sayang."
Seseorang berbicara, suara yang tak asing. Hal itu membuat Aileen menoleh dan berdiri tegap. Bahkan ia terkejut apa yang ia lihat adalah benar nyata. Aileen memeluk erat kekasih yang ia sangat rindukan.
'Kenapa kau begitu lama pergi. Kamu jahat, jahat ... sekali, meninggalkan aku sendiri Daffin.'
Aileen memukul bidak depan tubuh prianya. Lalu ia merangkul pundak amat erat, yang ia inginkan adalah kembali bersama dan memulai hidup janji menikahi bersama di cintai.
"Aileen, Aileen sayang. Ayo bangun!" ujar ibu membangunkan ku.
Aileen tersadar dan menoleh ke sekeliling. Aileen mengucek mata dan berfikir nyata. Sayangnya ia tersenyum paksa, bangun dan membenarkan dirinya untuk bangun.
"Ibu, Ah. Rupanya Aileen tertidur ya. Maaf."
"Ibu buatkan teh ya, lihat calon suami kamu datang." terdiam Aileen, begitu ibu berlalu.
"Mas Deva, dari tadi di sini?"
"Ya, benar kamu ketiduran di taman sambil memeluk buku Ail, apa tidak pegal?" tanya Deva.
Aileen merunduk, ia ternyata mimpi. Sudah amat bahagia ketika benar ia bertemu Daffin. Tapi benar saja ia membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi. Sudahlah Ail, dia tidak akan kembali. Kehilangan dalam jurang sudah pasti ia telah tiada.
Daffin kamu tahu, aku akan menikah dengan mas Deva jika kamu tidak kembali. Dan rasanya kosong dan hampa. Meski kedua orangtua kita sepakat dan membenarkan jika kau sudah di surga, menggantikan pertunangan yang telah tersebar. Meski ia kembaran mu mencintaiku, tapi hatiku terukir namamu kalian tetaplah beda.
Ketika kehilanganmu aku terasa sadar, begitu sangat mencintaimu.
"Sayang, kok melamun?"
"Hah, ya .. nyawaku masih belum kumpul mas Deva"
Mereka pun tertawa setelah banyak bicara, dan Deva menatap saling memandang.
"Masuklah ke kamar, besok hari bahagia kita. Tidak ada proses pingitan, Mulai lah belajar mencintaiku dengan tulus Ail, aku tahu di hatimu masih mengharapkan Daffin bukan?"
"Mas Deva .. jangan bicara begitu, aku.. "
Aileen terhenti bicara karena bingung apa yang akan ia katakan, lalu ia memeluk Deva, berharap di sisa hidupnya adalah membahagiakan orang yang begitu benar mencintainya dan tak akan menyiayiakan.
__ADS_1
"Tenanglah mas Deva, jika hari bahagia itu ada. Aku yakin kita memang telah di takdirkan!"
"Syukurlah, aku bahagia kamu mengatakannya Aileen."
Menjelang malam hari, Aileen masih memandang gaun yang bertabur kerlip payet nan indah. Ia menatap bintang, esok pagi aku telah menjadi kekasih istri seorang Deva.
Pewaris J-geuk corp satu satunya. Tapi apa aku bahagia, aku mendasari semuanya karena ketulusan. Aku mendasari semuanya karena balas budi kedua orangtuaku. Sudah di rencanakan tapi gagal, sedangkan telah di atur semua olehnya, hanya berharap kedepannya semakin baik.
"Aku ikhlas, dan menerima semuanya!"
Aileen menangis di kursi panjang, ditepi balkon. Tapi dia tidak melihat seseorang yang menatap dan memperhatikannya, dibalik celah atap balkon seseorang sedang tersenyum lebar dan bahagia.
"Maafkan aku Aileen, aku melakukan semuanya karena ingin kamu jadi istriku." lirih Deva yang pergi.
Aileen berjalan di taman, ia menghirup udara. Namun di balik semak pohon air mancur, ia melihat seseorang berjas hitam. Aileen menghampiri sekedar ingin tahu, tapi nahas Deva memanggilnya.
"Sayang, sedang apa?"
"Mas Deva, aku .. tadi disana."
"Ada apa, disana ada siapa?"
Tiba saja Aileen tak melihat seorang pun, sehingga ia melupakan dan mengajak Deva untuk masuk kedalam rumah. Kesehatan Deva tidaklah baik di luar karena angin kencang.
Beberapa saat, Deva mengantar Aileen menepi di ujung tangga. Sedangkan Deva pamit dan mencari sesuatu untuk membuat kejutan. Ia meminta seseorang membelikan bucket indah untuk esok pagi.
"Daffin, kau tidak akan pernah memiliki Aileen, setidaknya jika kau kembali. Dia sudah menjadi kakak ipar!" lirih Deva semangat.
Pagi hari, akad pernikahan.
Di depan penghulu, Aileen yang dibalut kebaya putih gold berpayet emas. Ia menatap sang mama dan ayah. Serta Alexi bersama Ehsan.
Bahkan tak menyangka akan secepat ini, ia tak menyangka hari bahagia itu tiba. Tapi sayang disampingnya bukan Daffin orang yang ia cintai. Kenapa begitu pahit, ia telah bersusah payah membuka hati. Kini ia harus memulai kembali.
Saya terima nikah dan kawinnya, Aileen binti Antonis dengan seperangkat alat shalat dan cincin berlian 2,3 karat dibayar tunai.
"Bagaimana saksi Sah?"
"Sah."
__ADS_1
Bulir air mata pecah, Aileen menangis haru. Kini ia telah menjadi istri dari Deva. Orang yang ia anggap sebagai kakak, karena dibalik tubuhnya ada kenangan sang kekasih dulu, menatap mas Deva membuatnya sakit akan kenangan pahit. Tak bisa dipungkiri dihatinya sudah tertanam Daffin, entah sampai kapan ia bisa menghapus dan mengukir nama Deva.
"Terimakasih Aileen sayang?"
Aileen tersenyum menatap Deva, lalu mereka sungkeman kepada keluarga dan kedua orangtua mereka.
Ayah dan ibu mengucapkan selamat, kedua orangtua Deva pun antusias tersenyum bahagia merestui. Tak lama Alexi dan Ehsan ikut serta.
Menjelang sore, semua tamu telah tiada. Aileen dan Deva berpamitan masuk kedalam mobil yang telah di sediakan, ia bergegas langsung ke sebuah hotel berbintang. Deva menggenggam tangan Aileen, meski hati kecilnya ingin sekali menolak. Tapi ia telah menjadi sah nyonya Deva.
Aileen makan malam, sebelum kembali masuk kedalam kamar. Deva memperlakukan bagai peri yang di manja. Beribu kali ia mengucapkan terimakasih pada Aileen, karena telah masuk kedalam kebahagiaannya.
"Aileen, setidaknya jika aku tak berumur panjang. Aku telah memilikimu!"
"Mas Deva, jangan lagi katakan itu. Jangan membuat pertanyaan, ucapan hal yang aku ga ingin dengar. Kita akan selalu bersama dan aku akan menemani mas Deva sampai kapan pun."
Deva mencium jemari Aileen. Setelah selesai mereka kembali ke kamar pengantin dalam hotel. Tak lama seorang pelayan memberikan minuman untuk Deva.
"Tuan, ini adalah minuman jamu yang telah disediakan oleh nyonya Rosi,"
Deva tersenyum dan melirik Aileen.
"Mama, menyediakan dan menyiapkan semuanya sayang."
Aileen pun tersenyum. Lalu mengekor kemana langkah Deva.
Di dalam kamar, Aileen membuka resleting gaun. Sementara Deva membersihkan dirinya ke kamar mandi. Tapi ada hal yang tak biasa, ia terkejut menatap cermin. Seseorang masuk dengan masker hitam dan topi hitam dan baju serba hitam.
"Haaah..,, siapa kamu?"
Braagh ..
Aileen menatap ke arah pintu kamar mandi dan membulat mata dengan panik.
Mas Deva .. Teriak Aileen, dengan setengah gaun terbuka panik kala Deva di pukul kepala belakangnya.
"Kau siapa .. pergi! Apa kau maling, kau ingin apa katakan!" teriak Aileen, kala pria itu mendekat, namun Aileen mundur memegang benda tajam.
TBC.
__ADS_1