
Menyangga Aileen, melalui lengan Ehsan yang terpaku di tungku leher Aileen, membuat Aileen tidak terbentur parah
"Kak, tanganmu pasti sakit kan."
"Enggak, gpp kok. Yang penting kamu enggak apa apa Ai, ranting cukup besar hampir kena kepala." jelas Ehsan.
"Makasih ya kak Ehsan."
Sebuah kamera terklik begitu saja, tanpa Aileen sadar. Ia pun segera membalikan tubuhnya dan membantu Ehsan duduk. Tapi sebuah ranting jatuh hingga membuat memar pada punggung dan kening Ehsan.
Aw.
Aaargh.
Aileen pun mengobati kotak kecil p3k, yang selalu ia bawa dalam tas.
"Berguna juga kotak kecil merah itu Ail. Selalu kamu bawa, tak pernah berubah kamu, dari masa sekolah hingga sekarang."
Eum .. Kak Ehsan berlebihan, sudahlah jangan ceroboh, biarkan saja jika aku yang terkena. Jangan mengorbankan sia -sia. Jika luka, pasti aku harus bertanggung jawab dan merasa bersalah nanti, aku tidak tahu akan dapat amukan apalagi dari tante Grace.
"Kamu masih takut sama mama ya Ail?"
__ADS_1
Ehsan tersenyum, tapi Aileen serius mengobati lukanya.
"Kalau begitu jika itu terjadi, tanggung jawablah dengan menikah dengan kakak!"
Aileen terdiam menatap pria dihadapannya itu. Dengan gugup dan panas dingin. Aileen malas dengan gugup, jika seseorang meminta untuk menikahinya. Trauma gagalnya kembali mengulang dalam pikiran.
"Hahaha .. aku bercanda Ail, Kamu tuh serius amat, apa kamu masih takut dengan pembicaraan pria yang mengajakmu ingin menikahimu?" tanya Ehsan.
Sementara Ehsan mengangguk dan ia pun meminta maaf. Mereka pun makan siang bersama dengan penuh nuansa alam yang mempesona.
Aileen mengerjakan project kerjasama dengan lancar hingga sore hari.
"Menurutmu Mah, apa aku salah, menjodohkan Aileen dengan Daffin?" tanya Ayah pada sang istri, di balik jendela.
"Sudahlah, Ayah terlalu berlebihan. Lagi pula Ehsan teman dekat sama seperti Kay kan. Memang mereka begitu karena sudah mengenal dan terikat project bersama. Jadi tidak canggung."
Tapi ayah memanyunkan bibir. Seolah memikirkan ingin yang terbaik untuk sang anaknya.
"Baiklah .. ayah ada ide cemerlang. Mama bantu ayah ya!"
Sang istri pun terdiam menggelengkan kepala. Ia sadar jika sang suami pasti akan mengetes dan berlebihan dalam menguji pria yang dekat dengan kedua putrinya. Demi mengetes ia harus terlibat dalam hal konyol.
__ADS_1
"Ayah ini seperti abg saja, mengapa harus melibatkan juga. Ada lebih baik nikmatin masa tua kita yang wajar."
"Demi kedua putri kita, untuk mendapatkan pasangan terbaik sayang, Jika seorang ayah ingin yang terbaik untuk kedua putrinya." ucap Anton.
\*\*\*
Hari berlalu semakin cepat, sudah sepekan Aileen sibuk. Ia tak lupa selalu saling berkomunikasi pada Daffin.
Terlebih ia ingin cepat selesai dan berkunjung surprise di kantor Daffin. Ia pun sekedar ingin mengunjungi Deva juga. Berharap hubungannya akan baik baik saja. Dan Daffin bisa mengerti untuk menunda pernikahan yang di rencanakan, oleh kedua orangtua mereka.
"Ail, kamu akan ke jakarta ya. Kita bisa bareng kalau kamu mau. Kak Ehsan ada pertemuan dengan perusahaan J geuk corp, bertemu dengan Deva putra perusahaan J."
Deg.
"Kak Ehsan kenal perusahaan itu, kok bisa kenal mas Deva juga?"
"Ya, kami pernah satu manajemen. Sebenarnya saat itu kenal sama pacarnya. Dia teman kak Ehsan. Cuma ada berkas project yang batal, sehingga Kakak ingin berbicara kenapa dan ada apa. Sekaligus pribadi tentang Caty dimana dia sekarang?"
Caty!! Lirih Aileen, mencoba ingat.
TBC.
__ADS_1