
Di saat Aileen duduk, syok ketika seseorang amat mirip dengan sosok yang ia kenal.
"Ada apa, kenapa kalian menatap saya seperti itu?"
Fan, menatap bulat. Pria itu sangat mirip dengan Daffin, tapi gaya ala anak moge yang enggak banget. Dan tak lama datang wanita bernama Airi.
"Honey..,, maaf menunggumu udah lama ya?" mereka pun berpamitan, tanpa melirik Aileen yang mematung.
Aileen dan Ehsan. Mereka menyedot minuman hingga habis. Sementara satu sisi ia masih tak percaya. Kenapa dia amat pasti mirip, atau matanya saja yang salah.
Ya benar Ail, salah lihat kita, ketus Ehsan. Hingga mereka pun melaju pergi dari tempat itu.
Beberapa jam kemudian, di perbukitan Aileen dan Ehsan berada di puncak batu.
Mereka duduk di tepi tebing memandang pemandangan alam yang sangat luar biasa. Aileen yang masih tidak percaya, menatap sempurna dibawah ujung, sebuah motor moge. Dan seorang wanita tadi yang menghampiri tiba saja mendekat. Aku benar mimpi kan. Kenapa dia sangat mirip.
"Ehsan, kemana sih kamu lama banget udah setengah jam pergi ambil baterai kamera, belum juga tiba sampai sekarang?" gerutu Aileen.
Tak lama Ehsan datang. Ia menarik Aileen dan berlalu pergi menjauh. Aileen melirik arah pria yang juga menatapnya. Dan saling menatap, namun tetap berjalan lurus, Pria itupun hanya menaikan alis karena merasa aneh.
"Mungkin kamu handsome honey!" lirih Airi, pada kekasihnya terdengar oleh Aileen kala itu.
Sampai di rumah Aileen masih tak percaya, Ayah Anton yang menghampiri kamar putrinya. Ia meminta untuk memperbaiki pabrik yang hampir bermasalah, Aileen tersenyum getir, bahkan ia berjanji akan membuat Bizard dan pabrik tetap selalu berkembang. Aileen meminta Ayah dan ibu tidak perlu khawatir. Terlebih Alexi mendekat dan berjanji akan selalu membantu kak Aileen di masa akhir semester kuliah.
Di berbeda tempat, kedua orangtua Ehsan memintanya untuk melamar Aileen. Agar kelak ia bisa membina perusahaan Anton.
Sadar akan hal cinta nya pada Aileen, tapi ia urungkan untuk niat kedua orangtuanya bersimpangan.
"Aku tidak mau Pah!"
"Ehsan, kau coba pikirkan. Setelah menikahi salah satu anak dari Anton itu yang menurun bisnis adalah Aileen, tunggu apalagi. Wanita sejatinya hanya mengurus suami dan anak bukan?"
__ADS_1
Ehsan menolak, ia memang menyukai Aileen, Akan tetapi tidak dengan menguasai bisnis Paman Anton. Ehsan tak menginginkan hubungan papanya dan ayah Aileen terlibat.
Apalagi sampai merebut bisnis Anton demi ambisi seorang papa, yang mempunyai masalah pribadi di masa lalu. Ehsan kini mengambil jaket dan keluar dengan motor besarnya. Bahkan ia menelusuri jalan setapak dan duduk di tepi tebing sambil memotret keindahan alam.
Andai kamu tau Aileen, aku menahan melamar mu karena ambisi Papaku. Tapi tak satupun aku menginginkan yang lain, ini adalah kesempatan aku menyatakan perasaan ku padamu. Tapi aku takut ketika kelak papaku membuat hal yang tak diinginkan.
"Om, apa kak Ehsan ada?"
"Ehsan keluar sayang, ada perlu apa ya?"
Kedua orangtua Ehsan, menghampiri Alexi. Mereka saling menatap ketika salah satu anak dari Anton, bertamu membawa parsel untuk Ehsan dan buah untuk menjenguk seorang papanya yang sakit.
"Alexi dengar dari kak Aileen, kalau om sakit. Jadi aku mampir ke rumah malam seperti ini. Dan kalau begitu Alexi pamit ya!"
"Terimakasih ya sayang!"
Seperginya Alexi, wajah kedua orangtua Ehsan tersenyum bahagia. Ia meyakini jika Alexi menyukai Ehsan.
'Tapi tetap saja bu, harus Aileen jodohnya Ehsan. Karena anak pertama Anton itu berkuasa, dia lebih pintar dari Alexi si manja!'
Pagi itu Aileen hendak terbang ke kota padat. Ia ingin berkunjung ke kantor Daffin, sekedar menyapa Deva dan Livi, selain bisnis bertemu Klien.
"Nanti Alexi menyusul ya kak!"
"Oke dik."
Beberapa jam kemudian.
Sudah dua hari Aileen bertemu Klien, ia menginap di sebuah hotel. Bahkan ia menyusuri jalan mengerahkan taksi menuju perusahan J geuk Group. Ada rasa berdebar tak biasa, ia berharap kenangan itu tak membuat ia sedih apalagi harus menyuplai obat dan vitamin agar dirinya tenang.
Sesampai di kantor, seluruh karyawan yang mengetahui menyapa Aileen. Tak lama menunggu di koridor bawah, mengingat Deva masih dalam meeting. Tak lama suara pria menyambutnya.
__ADS_1
"Aileen, hey udah lama?"
"Hei, Mas Deva, enggak juga kok, kurang lebih lima belas menit,"
Aileen menyapa Deva, ia menanyakan segala hal kabar, mereka pun lunch tak jauh dari kantor. Mereka saling bicara satu sama lain akan bisnis, Aileen antusias senang karena Deva mau membantunya. Bahkan mengingat puluhan tahun bisnis Ayah sudah berjalan tak ingin mengecewakan, ia pun menerima perjanjian kerjasama itu.
"Aileen, habis dari sini mau kemana?"
"Aku, mau cari lostmen buat ku tinggal mas Deva untuk sementara waktu saja."
Aileen terdiam menunduk, ia harus berhemat. Apalagi mengingat ada ratusan karyawan pabrik yang harus tetap bertahan. Jika pabrik sampai bangkrut ia merasa bersalah dan Ayah akan menjadi sedih.
"Apartemen ku disewa murah, dari pada losmen Ail!"
Aileen yang menolak, merasa tidak enak ia pun menerimanya. Sehingga mereka pergi bersama setelah jam kantor selesai. Aileen pamit pada Livi di ujung dan Deva meminta Livi untuk pergi lebih dulu, karena ia ingin mengajak Aileen.
"Mas Deva, apa gak berlebihan ya, Aku takut kalau orang bicara, Tidak ada Daffin aku mendekati mas Deva?"
"Tidak perlu khawatir Ail, anggap aja angin berlalu, kita dekat karena bisnis kan?"
Aileen mengangguk senyum, meski Deva menarik bibir tersenyum. Dia sangat bahagia ketika Daffin tak ada, baginya tak ada penghalang untuk memiliki Aileen.
"Aileen, Awas .. !!"
Sebuah motor tiba saja melaju cepat dan hampir menabrak Aileen. Dengan kilat Deva menarik tubuh wanita itu dan saling berhadapan saling memandang.
Aileen menatap Deva dengan spontan, ada rasa rindu ia melihat Daffin. wajah nya sekilas berada dan menolongnya kembali.
"Aileen, kamu gak apa apa kan?" tanya Deva.
Aileen menyadarkan diri, jika yang menolong adalah Mas Deva, entah rindunya selalu melihat Daffin terus menerus.
__ADS_1
"Aku gak apa apa mas, makasih sudah menolong aku."
TBC.