Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
BOS KU KEMBARAN DEVA


__ADS_3

"Sudah, nanti pulang kerja kamu jam berapa Aileen?"


"Aku, kurang tahu juga sih. Kalau ga lembur aku pulang jam enam."


"Biar kamu pulang lebih awal saja! Gimana kalau pukul empat sore."


'Wuah, mana bisa seperti itu. Kalau gitu aku duluan ya mas Deva?'


"Bisalah, kebetulan aku tahu cara kamu pulang lebih awal. Terus aku mau tanya, memang apa yang kamu pikirkan Aileen, bukankah mendapat pekerjaan itu baik? kamu bilang tadi mau berhenti dan pindah." ucap Deva.


"Ak- aku ga suka melihat wajahnya menyebalkan mas Deva, apa aku sanggup bertahan bekerja disana. Ah! lupakan saja pembicaraan saya tadi!" balas Aileen.


Deva pun merahasiakan, jika dirinya adalah seorang kakak dari Daffin. Tapi karena penyakit serius ia harus bertukar tempat, ia pun sebenarnya kembar meski tidak identik. Hanya karena Daffin lebih lelah mengurus segalanya mungkin orang akan mengira jika ia adalah seorang kakak penerus perusahaan keluarga, itu karena sebuah penyakit yang tidak bisa membuat Deva lelah apalagi stres berat terhadap kerjaannya.


"Mas Deva, ko melamun! ada apa?"


"Enggak apa- apa Aileen, perlahan juga kamu pasti nyaman bekerja disana, bos dilantai tujuh tidak seseram yang kamu bayangkan kok."


"Ah andai saja, dan semoga saja."


Namun Aileen dalam batin berkata, semoga saja. Tapi semenjak kejadian penyekapan membuatnya ilfil berkepanjangan, terlebih jika bukan karena ia yang membutuhkan pekerjaan, dan mencari pekerjaan itu amat sulit. Tidak mungkin Aileen masih bertahan, jelas jelas pria Kriminal itu tidak banget untuk Aileen, tidak bisa ia bayangkan lagi pekerjaannya akan melibatkan orang itu, Aileen berada dalam tekanan bawahannya.


"Aileen kita bareng aja naik lift, satu lagi nih maaf apa boleh aku bertanya?"


"Heum... soal apa?"


"Pria di ponsel mu itu siapa?" tanya Deva, namun Aileen terdiam dan menjawab, bergetar kebingungan.


"Su-ami."


"Apa, suami. Secantik semuda kamu udah bersuami?"


Deva melemas dan mengigit jari. Sehingga Aileen tertawa menatap pandangan mas Deva yang aneh, apalagi raut wajahnya terlihat jelas bagai orang yang sedang patah hati.


"Kenapa mas Deva kaget?"


Aileen tersenyum dan menepuk pundak mas Deva melanjutkan pembicaraannya.

__ADS_1


"Ta-pi, sayangnya itu tidak terwujud mas Deva. Karena kecelakaan dihari lamaran. Dia pergi lebih dulu, ninggalin banyak luka yang mungkin Aileen tidak mau menikah sampai kapanpun."


Deg.


Terdiam Deva, ia menatap wajah cantik gadis bernama Aileen.


Lalu Aileen menampakkan kesedihan di wajahnya, saat itu membuat Deva tidak enak hati, menanyakan luka lama yang mungkin korekan masa lalu yang tidak ingin di ingat seseorang.


"Hah...., maaf aku turut prihatin. Lalu kamu gagal menikah, bagaimana apa kamu baik- baik saja setelah dia pergi Aileen?"


"Eeeum ga bisa dijelaskan secara detail mas Deva. Di saat dia pergi juga ada satu ruangan bersebelahan kecelakaan yang sama, tapi entahlah aku ga bisa jelaskan karena aku fokus dan bersedih saat itu, yang jelas dia orang paling terbaik terindah berarti untuk aku, dia juga mendonorkan jantung dan kornea mata bagi pasien sebelah di ruang operasi berbeda. Aku sempat gila selama dua tahun ini, mengurung diri dan baru kali ini aku mulai bekerja, menghirup nafas lagi untuk melanjutkan hidup." jelas Aileen.


"Apa... serius kamu Aileen?"


"Iya mas Deva, kenapa. Enggak percaya apa yang aku ucap tadi?"


"Aku percaya, ta- tapi kamu kenapa Aileen?" syok Deva, melihat Aileen bicara, seolah Deva tidak baik baik saja, jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari biasanya. Seperti pria yang akan anfal.


Aileen merasa sedih, di mana ia tak pernah lagi mengingat Kay! apalagi pertama kalinya ia berkenalan dengan Deva, yang membantunya dalam data ponselnya yang hilang, tiba saja di ingatkan Kay.


Tak lama Aileen melihat Deva, seolah merasa sesak dan selama sepuluh menit ia pingsan, sehingga Aileen berteriak kaget! ia meminta pertolongan dan beranjak ke rumah sakit dibantu security memapah ke arah taksi.


"Mas Deva, mas Deva bertahan lah. Jangan seperti ini, bikin aku takut aja. Aku ga bicara aneh aneh kan tadi, kenapa mas Deva seperti ini sih." lirih Aileen ketakutan.


Dengan bantuan orang terdekat, Aileen meminta bantuan. Ia segera melarikan Deva ke rumah sakit, beruntungnya security di kantor itu mengenal Deva.


"Bos Deva."


'Apa dia bilang, bos Deva?' batin Aileen tambah syok.


Satu jam kemudian dokter keluar.


"Apa anda keluarga pasien?" ucap dokter Albert, spesialis jantung.


Aileen menatap nametag dan terlihat dokter ahli jantung.


"Apa yang terjadi dokter?"

__ADS_1


Aileen menanyakan, lalu dokter memberi penjelasan.


"Maaf nona, mohon diperhatikan agar pasien lebih diperhatikan kondisi imun tubuhnya, jika keadaan nya lemah, dan tidak boleh lelah serta sedikit panik. Tidak baik untuk kesehatan jantung nya. Beruntungnya pasien sudah kami tangani, dan akan sadar dalam beberapa jam." jelasnya tambah membuat Aileen syok.


"Apa jantung dok? jadi di dalam, mas Deva mengidap jantung?"


"Ya! apa anda tidak tau, jika Deva menderita jantung dan sedikit rabun penglihatan jika terlalu lelah, itu tidak baik. Mohon dijaga ya nona, kalau begitu saya permisi!"


Setelah dokter Albert berlalu, Aileen diam, dan mengingat akan seseorang dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Kenapa sih, setiap ada orang yang dekat dengan ku selalu berakhir dan berawal tidak baik. Apa aku ditakdirkan selalu sendiri tak boleh memiliki teman. Apa yang salah dengan diriku, ketika bertemu mas Deva nyaman. Mengapa kabar seperti ini aku tidak senang, dan karena kedekatan dengan dirinya bagai kutukan, orang itu akan kena musibah.' batin Aileen yang duduk.


"Sedang apa kamu disini tidak bekerja?" ucap seseorang, membuat Aileen dibuat syok.


Aileen pun menaikan kepala dan menatap atasannya, pak Daffin sudah ada dihadapannya.


"Kamu sedang apa disini, aku sedang menunggu keluarga seseorang dari teman baru ku, mas Deva. Kantor yang berbeda lantai kami bekerja, sudahlah anda pergi saja untuk apa disini! saya akan menyelesaikan tugas yang tertunda tadi, atau anda menyusul karena saya meminta izin dan mau menghukum saya kesini kan?"


"Banyak sekali kamu bicara, saya kesini karena Deva adalah kakak saya. Pergilah ke kantor selesaikan tugas yang tertunda!"


"Ka-kak?"


Aileen pun terkejut mendengar perkataan pak Daffin.


"Apa...dia kakak? bagaimana bisa, ah gila. Benar benar gila, benar aku tadi sempat dengar soal satpam bilang bos Deva." lirih Aileen berbicara sendiri.


Aileen mulai mencerna beberapa hari lalu, pantas saja ketika saya makan bersama Deva, semua orang memandang berbeda. Tapi kalau mas Deva seorang kakak, kenapa terlihat baby face, tak seperti adiknya yang lebih tua dan seram, seperti atasannya ini di lantai tujuh.


Eeheum! "Masih banyak pekerjaan yang kau tunda, jadi cepatlah kembali!" Daffin menjentikan jari, tepat di wajah Aileen yang masih nampak kebingungan.


"Oke! saya mengerti."


Buugh!


Tiba saja, Aileen berdiri ia terbentur celah dinding, hal itu membuat ia membeku seolah malu tiada tara, apalagi Daffin masih melihatnya entah tertawa atau berpura pura tidak melihat saat Aileen menoleh kebelakang.


"Jangan lihat!" teriak Aileen, pergi berlalu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2