
Ada rasa tak percaya bagi Aileen, entah apa rasanya ia harus dijodohkan oleh sosok Daffin, dimana sang ayah bercerita. Jika orangtua Daffin, yang notabane sahabat lamanya, telah banyak membantu keuangan usaha Bizard parfum dan pabrik kaca botol, apalagi Alexi saat ini terbantu biaya rumah sakit karenanya.
"Non percayalah, tuan yang dijodohkan oleh ayah juga tidak kalah handsome, tuan Kay pasti bahagia tersenyum jika non Aileen, membuka lembaran baru, dan membuka hati."
tutur bi Ratih menjelaskan, sedang Aileen memeluk erat.
Tak berselang lama Daffin mengetuk pintu kamar Aileen, dan mendekat duduk di samping Aileen. Bibi pun keluar pamit.
"Aileen, apa aku boleh duduk disamping sebelahmu?" ia pun mengiyakan.
Aileen hanya syok jika orang yang ia tak inginkan menjadi pasangan hidupnya, kenapa bukan mas Deva, padahal ia menyukai mas Deva yang humoris, meski ia belum tau apa itu perasaan suka atau kagum. Lagi pula pria ini flat datar kaku. Masih dalam batin Aileen.
"Baiklah, lalu kemana mas Deva, kenapa dia tidak ikut bersama mu, bukankah dia kakakmu harusnya dia saja Daffin, mengapa kamu melangkahinya, kenapa bukan mas Deva yang melamarku?"
"Jadi kamu mengharap Deva, yang melamarmu?"
Daffin memandang Aileen beku.
"Bukan begitu, dia lemah kamu belum paham semua tentang Deva, meski aku tak pandai bicara seperti Deva, aku akan berusaha membuatmu bahagia, lagi pula Deva sudah dijodohkan oleh papa dan mama." jelas Daffin.
"Apa, jadi kemarin lalu ia mengajak dinner belum lama padaku menyatakan cinta, dia sudah akan menikah juga."
Aileen menatap Daffin, seolah percaya! lalu ia menanyakan,"Kenapa kamu memilih aku, apa kamu tidak kembali dengan mantan mantan mu itu Daffin?"
Suasana pun cair, Aileen mengajak Daffin berbicara panjang dibalkon ruangan taman belakang, sementara kedua orangtua mereka menatap Aileen dan Daffin yang sudah cair akan obrolan, di atas balkon memerhatikan.
"Jangan pegang tangan ku, tuan kriminal belum sah," ketus Aileen pada Daffin.
"Baiklah tuan putri, apa kamu tidak berharap kita berjodoh."
"Enggak."
"Baiklah, apa mau mu sekarang tuan putri?"
"Tuan putri konon, bisa tidak panggil seperti biasa saja, apa kamu bisa bicara untuk membatalkan pernikahan ini, bilang saja jika kamu lupa karena telah kembali dengan mantanmu itu, yang saat kita bertemu di singapore."
__ADS_1
Jiahahaha. "Kau cemburu?"
"Hah, mana mungkin." gerutu Aileen.
"Baiklah .. kalau begitu ikuti aku! angkat kedua tanganmu!"
"Angkat, kedua tangan untuk apa?" ucap Aileen.
Lalu Daffin, mengangkat kedua tangan Aileen pertama kalinya, Daffin memegang erat tangan Aileen. Saat Aileen mengangkat kedua tangan, bersamaan dengan Daffin. Daffin pun berbicara sedikit keras.
"Apa kamu yakin jika besok adalah hari bahagia?"
"Ya." balas Aileen, "Karena kamu akan pulang kan, hahaha." tambah Aileen menatap.
'Baiklah, aku akan pulang dan melamarmu.' batinnya.
Aileen menurut mengangkat tangannya, menatap Daffin.
"Angkat kedua tanganmu, berbicaralah pada tuhan akan syukur nikmat ini. Dan ucapkan. Terimakasih karena jodohmu adalah Daffin."
Daffin pun pamit berjalan dengan gaya cool, berbisik ke telinga Aileen.
"Maaf itu tak akan terkabul jika permintaanmu batal, karena esok adalah hari bahagia kita." bisik lagi, membuat Aileen kesal.
"Dasar pria kriminal, bisa bisanya dia berbohong."
Aileen pun pergi, masuk ke kamar dan menatap bingkai foto dirinya dengan Kay, setelah mengunci pintu. Aileen merenung jika membuka hati dengan pria lain, apa ini tepat tapi kenapa harus Daffin.
Aileen mendengus nafas panjang, ia pun berlalu dan istirahat.
Sementara Daffin tidur dikamar tamu, ia menatap foto masa kecil Aileen kala itu. Aileen memang tidak sadar, jika saat kecil ia berumur enam tahun. Ketika masih di bangku kanak- kanak. Aku lah yang menolong ia ketika jatuh dari sepeda. Saat itu umurku berusia dua belas tahun. Aku masih ingat akan gadis kecil di bingkai foto ini.
"Aileen kamu adalah jodohku. Kita kembali bertemu, aku tak menyangka jika kita dipertemukan kembali."
"Ai .. aku akan memberikanmu kebahagiaan. Meski aku tidak pandai dan humor seperti Deva, tapi fisik ku tidak lemah dan akan menjagamu selalu, dan tak akan membuatmu menangis." lirihnya, bersandar pada kasur.
__ADS_1
Aileen menyalakan lilin aromatheraphy besar. Ia duduk di taman halaman belakang menatap bulan dan bintang. Dengan mantel putih. Ia termenung dibangku taman.
"Kay, apa kau melihat disana, aku selalu ingin di akui Ayah bukan karena saat dibutuhkan, tapi aku tak ingin dijodohkan. Apa kau marah disana?" tanya Aileen, ia berbicara sendiri.
"Tidak aku tidak akan marah, berbahagialah Aileen kamu dengan Daffin. Dia pria yang baik." lirihnya.
"Mana mungkin apa kamu benar, melupakan..?"
Seketika Aileen, bingung. Kenapa ia bertanya sendiri dan Kay, bisa menjawab. Aileen pun menoleh ke arah samping balkon, dan disana ada Daffin senyum menatapnya.
"Kau sedang apa disitu."
Daffin, menghampiri Aileen dengan meloncat ke balkonnya, membuat tatapan Aileen kaget saat itu juga.
Daffin duduk mendekat, Aileen mundur kesamping.
"Kemari jangan menjauh!"
Daffin menarik pinggang Aileen, dan jatuh kepelukannya.
"Seperti ini dekat, jangan berfikir hal tak baik. Izinkan aku mengejarmu dan membuatmu tumbuh rasa cinta Ai!"
"Dasar pria kriminal."
Aileen pun berdiri dan meninggalkan Daffin sendiri. Ia berlalu dengan menggerutu. Pria aneh, pria kriminal, agresif sekali. Bisa bisanya dia terang terangan begitu padaku.
Aileen menutup pintu jendela, dan hordengnya amat rapat.
Sementara Daffin tersenyum menatap bulan bintang.
"Kay! ku pastikan aku akan membuat Aileen bahagia, jika tidak kau restui maka, Aku akan tetap mengejarnya!" Daffin kembali, meloncat balkon samping yang menuju kamar tamu.
TBC.
Sambil Tunggu Up! yuks mampir ke temen litersi Author.
__ADS_1