
"Kak, tadi malam selesai kak Daffin dan keluarga bertamu ... euum itu kak, Apa.."
Alexi melirik bibi. Aileen merasa tak sanggup menceritakan. Tak lama ayah dan ibu pun hadir menemui Aileen di kamar.
Sementara Ayah Anton dan ibu saling menatap anaknya. Mereka tak bisa berkutik, bibirnya seolah kaku tak bisa menjelaskan.
Aileen yang telah siuman dari pingsan, ia menatap kedua orangtuanya dan tersenyum.
"Bicara saja Alexi, kakak akan mencoba lapang. Kakak akan berusaha kuat dari kemungkinan terburuk, kakak ingin melewatinya sebagai wanita normal bukan lagi wanita pembawa sial, dan Gila." lirih Aileen.
"Maaf, kak Aileen. Aku harap kakak yang sabar. Kedua orangtua Daffin, sekarang di rumah sakit kritis. Tapi.. Daffin menghilang karena mobil semalam masuk jurang."
Aileen menatap sorot mata adiknya. Air mata itu terpampang dan deras begitu saja. Rasa sakit dan kehidupan seolah tak berpihak untuk dirinya bahagia, mendapat pasangan untuk kehidupannya.
Menjelang usianya yang kini kepala tiga sudah tak bisa di pungkiri, asap hitam itu membuat Aileen kesal dan ingin mencarinya. Mengapa ia datang begitu saja. Bagai ajal yang akan menjemput kematian, seolah ia melihat nasibnya. Seperti hidupnya di ambang takdir menemui ajal.
"Harusnya, semalam kakak menghentikannya, harusnya kakak peka untuk meminta mereka bermalam dirumah. Harusnya kakak .. Uh."
Alexi memeluk Aileen untuk menenangkan.
"Kakak, kakak harus banyak bersabar ini semua ujian, bukan sepenuhnya salah kakak. Alexi tahu dan percaya akan selalu mempercayai kakak. Kakak benar ga berbohong. Hanya saja Alexi yang memang tak mempercayai karena aku selalu, maafkan Alexi Kak."
"Biarkan kakak sendiri di kamar, ibu, ayah kalian pergi saja lebih dulu ke rumah sakit, Aileen akan menyusul!"
"Kamu yang sabar ya Aileen. Jika lelah istirahat saja."
Aileen terdiam, ia menatap tak percaya. Aileen bergeming tak berkata. Aileen menatap layar ponsel jelas terpampang foto Daffin.
__ADS_1
"Kenapa sakit itu kembali lagi, kenapa semua ini terjadi lagi, kenapa harus aku .. kenapa." teriak Aileen.
Aileen membuang dan melempar seluruh benda dan seluruh alat make up di meja riasnya. Ia menatap kaca dan menghentakan kepalan tangan memecahkan kaca rias.
Prang.
Bibi, mengetuk pintu dan berusaha menenangkan. Pintu yang terkunci Aileen duduk di tepi kasur dengan darah yang mengalir begitu saja ditangannya.
"Non Aileen, buka pintunya sayang, jangan dikunci, biar bibi masuk non, istighfar non Aileen. Semua ini belum berakhir, bibi selalu percaya non, firasat bibi Den Daffin, pasti masih hidup."
Mendengar perkataan bibi yang merawatnya dari kecil membuat Aileen tetap menunduk tak menghiraukan. Ia lelah dengan kepastian namun berakhir sia - sia. Kaca serpihan itu membekas di telapak tangannya. Tak lama pintu terbuka, bibi pun mengobati Aileen.
"Aduh, non Aileen jangan lagi seperti ini. Bagus bibi masih simpan kunci cadangan, jika tidak luka ini bisa infeksi."
Dibalut kesedihan, Aileen di temani bibi menuju rumah sakit, dengan balutan tangan yang dibungkus perban putih, mata yang sembab. Wajah pucat tanpa riasan. Meski begitu wajahnya selalu cantik dan bercahaya.
Ehsan datang, ia menyusuri dan menemukan keberadaan Aileen. Ehsan menatap teman kecilnya sangat terpukul, entah harus bahagia atau bersedih. Rasa sayangnya pada Aileen ia sembunyikan. Meski di waktu sekolah pernah berhubungan, tapi tak keseriusannya ia meninggalkan karena kesalahan. Sehingga kala itu Kay! selalu di sampingnya.
Aileen menatap Ehsan, ia memeluk erat sehingga membalas pelukannya, pelukan itu selalu mengaggap tak lebih sebagai sahabat atau keluarga terbaik yang pernah hadir.
"Andai, kamu tau Aileen, aku sangat senang. Jika kamu tak jadi menikah dengan Daffin. Tapi aku juga ga bisa melihat kamu seperti ini lagi." lirihnya.
***
Waktu Lebih Lama.
Beberapa minggu kemudian, berganti bulan.
__ADS_1
Aileen masih tak sanggup, ia mencari kesibukan. Di mana ia membesarkan Bizard yang hampir menurun, Kesibukan Alexi dalam kuliah dan kesehatan Ayah yang menurun. Ia kembali sibuk dengan sebuah aktifitas.
Hari ini Aileen melakukan kegiatan yang amat sibuk, hingga menjelang malam ia akan pulang dan menyibukan tanpa lelah, tak sedikit lingkar hitam selalu terlihat dibawah mata. Hingga di tepi jalan rumah ia menatap seseorang dibalik taman.
"Kak Ehsan, ngapain di situ!
"Eh, Aileen udah pulang. Heump aku .. tadi, tadi aku nyari sesuatu yang terjatuh. Kamu mau bantu?"
"Oowh, aku kira kamu lagi cari keong atau siput. Habis ditengah tengah semak belukar taman, emang apa yang jatuh sih?"
"Kamu ni, Aileen masa orang ganteng nyari keong. Tengah malam gini tuh ketampanan kak Ehsan bertambah 99x lipat tau gak."
Aileen tersenyum, ia menggelengkan kepala dan mencari bantuan apa yang Ehsan cari. Tetapi Alexi keluar dan menatap Ehsan dengan tatapan senang berbeda.
"Wah, ada kak Ehsan .. kak Aileen kenapa ga di ajak masuk sih kak Ehsannya. Kalian barengan pulangnya?" goda Alexi.
Aileen menggelengkan kepala, dan menjelaskan. Tak lama Alexi membantu flashdisk yang terjatuh, sehingga Alexi senang jika berdua dengan Ehsan. Karena ia mengagumi sosok Ehsan, dan tahu jika kakaknya tak mempunyai perasaan lebih.
"Kak, Ehsan kok bisa terjatuh. Emang lagi ngapain ke rumah. Bertemu ayah sama ibu ya?" tanya Alexi secara tidak malu.
Deuugh.
Ehsan terdiam tak bisa menjawab. Ia mencari benda yang terjatuh karena itu adalah sesuatu yang penting, tak boleh ada yang tahu. Ehsan pun tak mempunyai janji, karena hal yang mendesak.
"Enggak, kak Ehsan mau ketemu Aileen aja. Ada bisnis, tapi begitu sampai depan rumah, kakakmu bilang kembali ke parkir pos ambil yang tertinggal. Ga sengaja jatuh ga sadar. Jadi kalau kamu nemuin tolong kasih tahu Kak Ehsan ya!"
"Loh bukannya tadi bareng?"
__ADS_1
"Iya, tadi dia pergi enggak tahu. Kita pisah." jelas Ehsan nampak gugup.
TBC.