
Daffin bangun, ia memeluk Aileen, tapi terkejut hanya sebuah guling. Ia mendapat pesan akan kondisi Deva, ia segera bersiap dan memakai baju seluruhnya. Dan masih terasa hangat tubuh Aileen, ia tak menyangka wanitanya akan pergi tanpanya.
Di pemakaman, Aileen berkerumun dengan keluarga besar J Group. Kedua mertua dan orangtuanya ikut hadir. Daffin pun ada di sudut samping sang Ayah. Semua mata karyawan dan orang lain berbisik, pasti akan turun ranjang karena Daffin sempat bertunangan dengan Aileen lebih dulu. Tak berasa kemarahan Aileen mendengar membuatnya diam, mengumpulkan unek unek yang tertahan. Menggenggam tangan untuk mengepal yang siap ditinju pada orang yang berani bicara, disaat sedang berduka.
"Yang sabar ya Aileen!"
Mama dan papa juga, terlihat sanak keluarga mengucap bela sungkawa. Aileen harus menjadi janda satu hari setelah menikah. Bahkan sebuah berita tak sedikit membuatnya jadi bahan perbincangan.
Tepat empat puluh hari, Aileen melakukan tugasnya mengontrol perusahaan Deva. Kini ia bersitatap dengan Daffin. Aileen membuat meeting pada seluruh karyawan, ia menyerahkan semua perusahaan pada pemiliknya.
Daffin tersenyum, meski ia selalu datang diam diam ke kamar Aileen, yang kini ia tidur dikamar Deva, tak segan Daffin melakukan hal semaunya, menggantikan posisi Deva yang sah sebagai suaminya.
'Aku berharap kamu hamil, agar aku bisa menikahimu tanpa penolakan lagi Aileen!' batin Daffin yang tahu jika Aileen selalu menghindar darinya.
Aileen keluar untuk makan siang, ia mengatur segala hal untuk pergi. Dari keluarga kini yang membuatnya frustasi akan siasat tanpa ia tahu sebelumnya.
Aileen merasa dan beranggapan ******, wanita tak tahu diri. Itulah yang terngiang dari pikirannya. Wanita yang menikah dengan siapa, tapi malam pertama bukan dengan suami yang sah.
"Dimana Aileen?" tanya pada Livi.
"Makan siang, tapi ada baiknya anda tidak perlu tergesa untuk dekat. Masih belum lewat 90 hari. Masa idah Aileen tidak baik untuk didekati!"
"Kau bicara apa, aku selalu menyusup ke kamarnya dan ia tak menolak, satu atap saja membuatku gerah tak bisa menahan. Bagaimana aku tak melihatnya sedetik dari pandanganku!"
Livi terdiam tak berkata. Ia lupa sedang berbicara dengan sejoli yang kuat saling kasmaran.
Saat makan siang, mulutnya terasa hambar. Aileen mual dan pusing, tak menunggu lama ia mengambil kunci dalam tasnya. Aileen menyalakan mesin mobil, tapi tubuhnya ingin terjatuh kala menuju parkiran.
Bug.
Daffin tepat waktu, segera menggapai tubuh Aileen. "Ada apa, kenapa badanmu lemas, pucat seperti ini Aileen?"
Daffin terkejut, saat Aileen melirik tatapannya berubah menutup matanya dan pingsan. Bahkan ia membawa nya kedalam mobil, dan mengambil ahli kunci mobil yang berada di genggamannya.
Daffin segera menuju rumah sakit. Ketika sampai di UGD dengan kepanikan, ia menatap panik saat menunggu.
"Suami dari Nyonya Aileen?"
__ADS_1
"Ya saya dok." tanpa berfikir ragu Daffin menjawab dengan tegas.
Sang dokter bingung, ia pernah menatap di berita. Jika ia sadar, wanita yang ia periksa adalah wanita yang ditinggalkan oleh suami dari pemilik J Group. Lalu dia adiknya mengapa menjadi suami.
"Dok, apa bisa dilanjutkan keruangan?"
"Ya, baik pak. Mari ikut saya keruangan!"
Tak menunggu lama, dokter menjelaskan akan perihal Nyonya Aileen sedang hamil sudah lima minggu, Daffin tersenyum lebar. Ia amat senang akan berita yang membuatnya terkejut. Tanpa aba aba, Daffin pergi keruangan Aileen.
Bahkan dokter menggelengkan kepala akan kebingungan, yang membuatnya terasa sakit jika dipikirkan.
"Aileen, kamu baik baik saja. Makan bubur dulu ya?"
Ada rasa rindu Aileen pada Daffin, tapi kebohongan siasatnya membuat ia sedikit membenci dan belum memaafkan.
"Hei, masih marah padaku sayang?"
Aileen masih terdiam, ia menerima suapan Daffin yang membuatnya tidak mual dan memuntahkan makanan tak seperti siang tadi.
"Ada apa denganku?"
Daffin mengecup jemari tangan lentik Aileen, tak lama ia mencium perut Aileen.
Aileen terkejut. "Daffin apa maksudmu?"
"Kamu hamil, dia anakku. Darah dagingku kamu hamil sudah lima minggu!"
Deeugh.. jadi aku hamil.
'Anak ku memang benar darah dagingmu Daffin, tapi selama kamu menjamah, mas Deva mengatakan tak pernah menyentuhnya selain mengecup kening dan ranum bibirnya. Pantas saja, ketika aku menerima suapan darimu. Membuatku tidak mual.'
Maafkan aku Daffin, sebelum kamu menikahiku. Aku belum sanggup dengan sebuah komitmen. Kamu telah membohongiku membuatku menangis, Aku tidak akan membiarkan kamu menikahiku dan bertemu anak kita!
Sudah satu pekan Aileen beristirahat dirumah, kedua mertuanya bahagia. Ia meminta izin untuk pergi menemui kerabat ayah tak jauh dari rumah. Mama mertua pun mengijinkan asalkan Aileen tak menyetir sendiri. Kesehatan kedua mertuanya kini semakin tak baik, mereka lebih banyak beristirahat dikamar.
Daffin menemui Aileen dikamar, ia membuat terkejut dan menutup pintu.
__ADS_1
"Aileen, sepulang dari luar kota, aku akan menikahimu!"
"Bagaimana bisa kamu menikahi wanita hamil, yang statusnya janda ditinggal mati?" lirihnya, tapi Daffin tak perduli kemarahan Aileen.
Aileen masih terdiam, membiarkan Daffin melakukan hal apapun padanya. Ia bingung akan perasaan yang tak biasa, mencium aroma tubuh Daffin membuatnya tidak mual.
Daffin merasa senang akan bayi dalam kandungan Aileen, selalu ingin dekat dan selalu merasa ingin dijenguknya.
Daffin merasa aneh, Aileen tak seceria dan lebih banyak diam. Tapi ia masih mengerti akan perlakuannya pada Aileen, meski begitu ia terlalu mencintai wanita dihadapannya itu.
"Aku akan melakukannya lagi dengan pelan dan lembut. Tunggu aku pulang, aku sudah memesan Eo terbaik untuk pernikahan kita, kamu siap sayang?"
"Daffin aku rasa, aku tidak perlu dinikahi.."
Slurp .. eeeuhm .. cup! Ranum itu ditutup, Menutup bibir itu dengan rakus tanpa jeda, melirik jam yang melingkar Daffin memulai nya agar Aileen tetap nyaman.
"Masih ada waktu dua jam, aku akan menemanimu beristirahat sayang!!
Beberapa jam kemudian, Daffin tiba di pesawat, jarinya tiba saja tertusuk perih. Sementara Aileen pamit pada kedua mertuanya dengan sebuah tas kecil. Mereka tidak menyadari koper yang sudah masuk kedalam mobil mewah.
"Biarkan sampai sini saja, pulanglah. Sisanya aku akan mengabarkan pada keluarga dirumah!" titah Aileen pada pengawal.
Aileen bertemu sahabat bernama Rani. Rani baru saja bercerai ditinggal mati oleh sang suami tapi dia tidak hamil, ia menceritakan segala hal disebuah cafe.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Kita besarkan anak ini sama sama, aku akan suportmu Aileen. Kita bisa jadi orangtua penuh untuknya!"
Aileen tersenyum bahagia, dengan sisa tabungannya ia lebih cukup, ia pun tak memberi tahu sang Ayah dan adiknya Alexi akan keputusannya yang konyol.
Kediaman Paris.
"Braaaagh... apa, kak Aileen tak punya sanak keluarga Yah, bagaimana bisa dengan kondisi hamil pergi, bukankan akan dinikahi kak Daffin?"
Ayah merasa lemah, ia salah menilai anak semata wayangnya yang akan kecewa padanya. Meski Alexi juga anaknya, tapi ia bukan darah dagingnya, sementara di ujung Daffin terdiam, karena ia kira Aileen pulang ke paris rumah orangtuanya.
"Semua salah ayah, ayah ga akan lagi melakukan pemaksaan pada anak anak ayah kelak!" sesak sakit dan pingsan.
Daffin mendapat kabar itu, meminta pengawal mengerahkan untuk mencari keberadaan Aileen. Tapi nahas sudah berminggu minggu. Ia tak mendapat jejak Aileen, Eo pernikahan pun dibatalkan.
__ADS_1
"Kamu pergi kemana Aileen. Jika terjadi pada anak kita. Aku akan menghukum mu!" gumam Daffin.
TBC.