Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
RAHASIA AILEEN


__ADS_3

Makan bersama saat ini, membuat Aileen nampak manja berada di samping Deva, sungguh saat ini mungkin Deva bahagia, melihat senyum Aileen dan kedekatannya nampak akrab. Beberapa jam mereka makan, dan saling bertukar cerita. Membuat Aileen ingin bicara serius, semoga mas Deva mau membantunya, bertemu Ayahnya dan adiknya Alexi.


Saat mereka makan di persimpangan jalan beralas tenda, Aileen mengingat kebersamaannya dengan Kay. Pria yang ia cintai dulu hingga kini masih terasa. Dan kini, Aileen mempunyai teman kerja yang cukup membuat Aileen tidak sepi, ia memberanikan diri berteman dengan siapapun.


"Mas Deva, kok mirip almarhum kekasih Aileen deh. Rupanya asik jika mas Deva orang yang wah, tapi masih mau makan seperti ini?"


"Ya Ai, aku telah terbiasa kecuali adik ku, Daffin dia alergi dengan emperan makan seperti ini. Tubuhnya pasti memerah dan gatal. Bukan berarti dia tak ingin, entahlah dia ada trauma juga."


'Hah .. si pria iblis kriminal itu, bisa ga sih ga cerita tentang dia?' batin Aileen.


Aileen pun mengalihkan pembicaraan, Deva terkesiap dan paham. Jika Aileen tak menginginkan pembicaraan tentang adiknya itu, sehingga mereka bercerita dan tertawa dengan geli. Aileen menepuk pundak Mas Deva.


Seketika dari beda tempat, Daffin mendapat kabar video dari Livi, soal meja makan Deva dan Aileen! ia merasa geram melihatnya.


"Tak bisa dibiarkan, mengapa Aileen bisa sedekat itu!" Daffin melempar vas bunga di kamarnya.


***


Di Kontrakan.


"Aileen, kamu mau pergi berapa lama bawa koper segala?" ucap Lani teman satu kompleks.


"Entahlah, tapi ga lebih dari tiga hari kok Lan, aku bingung dengan ayah ku Lan, kemarin paman menghubungiku untuk pulang ke paris, ia akan menjodohkan aku dengan anak teman bisnis nya. Aku belum siap merajut serius, apalagi menikah. Apa aku bawa mas Deva aja ya, tadi pas makan malam gitu, aku ga bisa bicarain karena waktu."


"Emang kamu ga jadi terima tawaran bos Daffin, dari pada kamu nikah sama orang ga dikenal demi pengobatan adik kamu. Mending kamu terima si bos Daffin?" ungkap Lani.


"Eh, ga banget deh." sebal Aileen, jika di ingatkan bos kriminal itu.


Lani yang teman satu kampus, memeluk Aileen. Ia paham perasaan Aileen, terlebih ia mengenal sosok Kay! dan karenanya lah Kay dan Aileen bisa bersama.


"Sudahlah ayo tersenyum, bukankah kamu akan dinner lagi nanti malam, Deva temen kamu itu, kemarin kenapa sebentar?"


"Katanya sih ada telepon dari papanya, jadi kemarin kita cuma makan di pinggiran jalan. Eh, sore ini mas Deva bilang mau ajak makan di tempat sesuatu."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Deva, apa kamu punya perasaan lebih?" tanya Lani.


"Aku dengan mas Deva, yang bener saja dia baik sih aku juga bingung Lan, kalau dekat dengannya tuh aku kaya berasa deket sama Kay. Aku cuma mau temanan aja, ga lebih."


Lani pun memeluk kembali Aileen, tak berselang lama bel mereka berbunyi.


"Aileen, itu Deva mungkin ayo bersiaplah!"


Aileen pun menurut, dan berpamit pada Lani yang selalu menjaga, dia selalu paham apa yang Aileen butuhkan, ia bagai seorang kakak penuh perhatian, kebetulan kontrakan Lani tak jauh dari kediaman bibi Aileen, mereka selalu menyempatkan di tengah kesibukan untuk bertukar cerita.


Krek. ( Buka Pintu )


"Udah siap Ai?"


"Udah, ayo." senyum Deva, melihat penampilan Aileen yang nampak anggun. Aileen pun pamit pada Lani, yang saat itu juga Lani akan bekerja tugas malam.


Dua jam berlalu mereka makan bersama dengan penuh ceria dan tertawa, ia pun berhasil membuat kesedihan Aileen yang akan dijodohkan.


Tak sadar jika asisten Livi dan Daffin menatap mereka dengan gaya berbeda, topi dan kacamata hitam yang melekat bagai detektif.


"Gimana kalau mas Deva duluan?" senyum Aileen.


"Baiklah Ai, ak- aku sebenarnya ada yang mau aku tanyain dan jujur sama kamu, aku ga mau ungkapin. Semua ini dengan kebohongan tapi semua, aku ceritakan dengan kejujuran hati aku sama kamu Ai."


"Mas Deva, mau ngomong apa sih, intinya aja."


"AKU JATUH CINTA SAMA KAMU, AILEEN."


Sekilas Deva berkata, membuat Aileen terdiam dan menatap lama dengan terkejut. Aileen tak ingin merasa kehilangan, ia takut akan adanya perasaan yang dalam muncul lalu berpisah kembali.


Di satu sudut Livi, yang menaruh rekaman,


pena menempel pada gesper Deva yang menempel seperti kancing, ia akan lebih mudah mengetahui pembicaraan dinner mereka disana, terlebih Livi takut jika Deva menyadari dan ini ulahnya, karena perintah Daffin. Sungguh bos kembar yang membuat hidup Livi di ambang kehancuran, jika tidak menurut.

__ADS_1


"Aileen kenapa melamun?"


Aileen pun tersenyum dan berkata, membuat mas Deva mengerti.


"Mas Deva apa yakin serius, aku minta maaf belum bisa menjawab dan memberi keputusan karena aku belum sanggup kehilangan. Aku belum sanggup menjalin hubungan serius, aku masih nyaman sendiri dan berteman seperti ini, kehilangan pria orang yang aku cintai, membuat aku menutup diri. Aku mau memulai jatuh cinta, tapi Aileen ga sanggup kehilangan. Aileen pernah jadi gadis gila, karena kehilangan Kay. Rekam medis Aileen itu benar, sakit jiwa." jelas Aileen.


Deg.


"Kamu bukan gila Aileen, kamu hanya trauma."


"Tapi nyatanya, Aileen dibawa ke rumah sakit jiwa. Beruntung bibi dan paman, bawa Aileen dan dirawat oleh mereka. Selama dua tahun, hingga Aileen mulai menghirup udara. Dan jika Aileen menjalin bersama mas Deva, apa mas Deva yakin ga akan tinggalin Aileen?"


Lama terdiam dengan kaku Deva, menatap Aileen sedikit gelisah, dan kini akibat ulahnya yang tidak tepat sedikit canggung.


"Oke, kita lupakan. Oh, ia bukankah kamu ingin ada yang dibicarakan juga Ai?"


"Ak- aku ingin bertanya, maksudku minta bantuan tapi itu tidak penting. Aku tidak jadi katakan mas Deva, tak apa aku bisa."


Deva pun memaksa dengan lembut sabar, ia memulai kembali pembicaraan, dan akhirnya Aileen berbicara kembali.


"Mas Deva bisa bantu aku jadi pacar bohongan tidak, di depan ayah di kota paris?" pinta Aileen.


"Pacar bohongan? kenapa enggak serius aja."


"Bukan begitu, hanya tiga hari akhir pekan aku harus menemui papa, aku ga ingin dijodohkan itu saja, aku berusaha meyakinkan papa jika aku sembuh dari trauma kepergian Kay! papa mau menikahi aku agar aku, benar benar melupakannya. Sebenarnya bukan tidak bisa lupa, Aileen hanya takut di tinggalkan saja. Di tambah, papa menjalin bisnis, demi biaya pengobatan Alexi, adik Aileen dan perusahaan lamanya kembali berkembang."


Melihat Aileen menangis, terisak isak membuat hati Deva kasihan.


"Aileen, tenangkan lah hatimu aku paham. Engga masalah aku akan bantu kamu, tapi jika orangtuamu berada mengapa kamu sulit bekerja disini. "


"Mas Deva akan tau sendiri, aku ga seperti mas Deva yang beruntung. Aku hanya dicari jika dibutuhkan, setelah dari sini aku ingin cepat pulang mas Deva, aku lelah! lagi pula aku tinggal bersama keluarga angkat ku, perusahaan yang pernah bangkrut adalah milik orangtua kandung Aileen, jadi Aileen hanya seorang diri. Selain paman dan bibi di ibu kota, mereka keluarga kandung dari mama." jelas Aileen dengan bulir air mata.


Aileen sempat memandang Deva, entah kenapa dirinya merasa tenang dan membuat mata indah itu mirip Kay. Lalu Aileen meminta pulang, setelah mereka selesai makan. Aileen meminta di antar ke tempat Lani, ketimbang ke rumah bibi ia takut karena dirinya habis menangis.

__ADS_1


"Aileen, aku janji akan ada di sisi kamu. Bukan sekedar menolong mu, tapi melindungi mu. Asalkan jangan beri jarak, meski kamu belum siap menerimaku." lirih Deva, membuat Aileen senyum mengangguk.


TBC.


__ADS_2