
Pagi telah menyinari, efek alarm membangunkan Aileen. Ia membuka mata, juga menatap jam 5 pagi. Aileen segera mungkin membersihkan diri dan meregangkan segala otot dipergelangan tangan, kaki, dan punggungnya. Bahkan ia lupa saat diujung, menatap Daffin yang tertidur kedinginan di sofa bed.
Setelah selesai mandi, berolahraga di depan cermin, melupakan Daffin. Dimana ia mendekat ke arah Daffin, yang meringkuk.
"Kasihan sekali kamu Pria, mmmh pria apa ya aku memanggilmu? Pria kw mungkin kah."
Aileen mendekat menyelimutinya, dan tak sadar jika Daffin meliriknya. Daffin sudah bangun, ia telah terbangun dan mendengarkan Aileen berbicara.
'Pria tampan tapi kriminal. Pria tk .. ahaa lebih baik dari pada aku memanggilmu pria kw, kriminal wow. Kenapa aku baru sadar jika kamu tampan Daffin?' lirih Aileen, yang menatap lagi setelah menyelimuti, menatap jam ini masih terlalu pagi pukul 6.
"Benarkah, kamu memujiku Aileen sayang?"
Ah.
Aileen terkejut, karena Daffin sudah terbangun.
"Kamu sejak kapan sudah bangun?" ucap Aileen.
"Entahlah."
Dan Daffin pun membalas, jika ia sudah bangun ketika seseorang memberi pujian dan nama baru untuknya.
Daffin bangkit, ia memakai kamar mandi dimana masih membuat deguban jantung Aileen.
Hingga dimana Daffin keluar, di saat Aileen sedang berjongkok mengambil sesuatu, membuat Aileen kaget.
Aileen pun berusaha mundur dan Daffin terbangun menoleh sudah ada Daffin, saat Aileen membalikan tubuhnya. Daffin yang nakal, ia menarik lengan Aileen hingga ia berada di bawah sofa, dan Daffin memeluk diatasnya.
"Kamu mau apa, jangan seperti ini, aku malu aku akan memakai kamar mandi lebih dulu untuk merapihkan alat mandi." tapi Daffin menahannya.
"Baiklah, tapi jawablah pertanyaanku atau tidak akan aku lepaskan."
"Apa yang mau kamu tanyakan?" Daffin pun membalas dan berbisik.
"Maukah kamu menikah denganku, sekembali dari sini. Kita persiapkan pernikahan yang telah ditentukan?"
Mata Aileen membulat, hatinya tak menentu. Bahkan berusaha ingin menghindar namun pegangan erat tubuh Daffin, benar benar lebih kuat darinya.
__ADS_1
"Bisakah kita bicara nanti, mengapa kamu tak sabaran mengajak menikah. Bukankah kita baru beberapa bulan menjalin."
"Aku tidak mau lama menunggu, aku ingin halalkan kamu Aileen."
"Kalau begitu beri aku waktu untuk berfikir Daffin, tidak seperti ini!"
Daffin hanya tertawa jahil. Ia bicara jika akan selalu menunggu kapanpun Aileen siap.
"Maaf Ail, aku hanya ingin tahu ekspresimu saja saat aku mendekat, ku lihat pipi mu selalu merona merah, bukankah itu pertanda jika kamu mulai menyukai ku kan?"
"Dasar Pria kriminal, selalu saja menyabotase dan membohongi wanita." gerutu Aileen.
Ia masuk kedalam kamar mandi. Meski begitu didalam Aileen tersenyum sendiri menatap cermin.
"Hei .. dengar ya gadisku! aku tak pernah membohongi wanita lain, aku hanya kriminal karena jatuh hati terlalu dalam padamu." tutur Daffin, yang berbicara di ujung pintu kamar mandi.
Sehingga Aileen semakin tersenyum ketika mendengar.
Saat Aileen membuka pintu, Daffin sudah di depan, namun kaki Aileen pun kepleset. Daffin kilat menyangga hingga berputar, dimana air keran tersenggol bahu Daffin, membuat mereka berdua mengucur air dari shower.
Byur!
"Maaf, semua basah karena aku." lirih Aileen.
"Ada cara agar kamu aku maafkan."
"Heum. A- apa ..?"
Daffin yang mengeringkan dengan handuk rambut wajah Aileen, begitu pun dirinya. Daffin merengkuh leher Aileen hingga menengkuk.
Aileen hanya bisa diam, bahkan detak jantungnya benar benar seperti terketuk lebih cepat.
Daffin melangkah maju, ketika wajahnya mengeringkan leher Aileen dan rambut belakangnya, dimana ranum Daffin tersentuh jenjang leher putih Aileen. Aileen merasakan geli ketika hembusan hidung mancung Daffin yang menggesek ke arah lurus.
Mendekat .. Aman dekat membuat ranum mereka saling bertemu, dimana tangan mereka saling merengkuh, bahkan pinggang Aileen kini telah menempel hingga Aileen syok ketika sesuatu yang tercetak, terasa dan mungkin sangat big.
Cup. Beberapa saat, mereka berhenti dan saling memeluk saja.
__ADS_1
"Kenapa, kamu mau aku lakukan disini?"
"Tunggulah! Jangan berlebihan, kita belum halal jika lebih jauh."
"Benar, hah. Maafkan aku. Aku benar benar tergoda padamu Ail."
Setelah semua selesai, mereka pun breakfast bersama, Aileen pun menanyakan kabar mas Deva, tapi Daffin hanya berkata Deva baik - baik saja. Namun jika soal hati ia tidak tahu pasti, karena keadaan Deva yang sering masuk rumah sakit.
Aileen merasa galau ketika ingin menerima Daffin, tapi takut akan hati Deva yang sakit. Hingga Aileen pun mengalihkan pembicaraan lain.
"Ayo, Daffin kita harus ke bandara sebentar lagi pesawat landing kan!"
"Oke. Aileen, makasih untuk tadi."
"So-soal apa?"
Cup. Kilat Daffin, mengecup ranum Aileen yang membuatnya lagi lagi malu.
Saat mereka keluar dari hotel. Aileen ingin membuka pintu, tapi dipeluk erat dari
belakang oleh Daffin dengan tiba - tiba.
"Ah."
"Jangan lagi mengabaikan ku, dan meninggalkanku ya Ail! Jika tidak aku akan merampas mu hingga lelah, agar kamu tetap utuh jadi milikku." ucap Daffin, bagai ancaman.
Aileen pun membalik kan badan nya. Lalu menatap Daffin senyum dengan dalam.
Aileen pun menatap wajah pria dihadapannya, mengecup kilat bibir tebal Daffin
"Semoga dengan ini membuatmu tenang Daffin, agar kamu tahu jawabanku."
Lalu Aileen membuka pintu kamar hotel. Daffin paham akan sikap Aileen, hatinya berbunga dan ia pun menggenggam Erat tangan Aileen, begitupun Aileen tak menolaknya.
Hingga mereka tiba di awak pesawat mereka saling menyandar. Daffin meremas kecup tangan wanita hatinya. Kini perjuangannya tak sia sia, ia akan menceritakan sebuah rahasia yang mungkin Aileen akan terkejut dan memujinya, bahkan rencana menikah ingin sekali Daffin percepat tidak perlu menunggu dua minggu.
TBC.
__ADS_1
Sambil tunggu Up, yuks mampir lagi ke temen litersi Author.