Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
DAFFIN TAK SABAR


__ADS_3

Menunggu, beberapa waktu. Aileen merasa hidupnya bagai dilema, sebenarnya kekesalan dirinya melihat Daffin di ruangannya.


Harusnya ia bisa menunggu dan mendengar penjelasan, tapi entah kenapa ketika amarah memuncak, Aileen ingin pergi dan bicara pada ayah, untuk tidak perlu melanjutkan pernikahan ini.


Satu jam berlalu, Aileen menatap tiket yang hangus. Aileen masuk ke dalam ruangan seorang diri, entah ruangan siapa membuat Aileen gugup, karena pertama kalinya.


Perasaan gugup tak karuan menyelimuti perasaan Aileen saat ini, benar benar pertama kalinya ia masuk ke dalam ruangan seperti ruangan rahasia, ia mengetuk dinding dengan garis sinar cahaya.


'Apa aku salah lihat ya, sepertinya ruangan ini kedap suara. Tidak akan bisa mendengar apapun di luar sana. Kaca ini tebal sekali, tempat apa ini?'


"Siapa sih orang yang ingin bertemu. Jika tidak terlalu penting. Pria berjas hitam itu harus mengganti rugi!"


Aileen kembali menatap tiket yang hangus. Pertama kalinya ia membuang uang hanya karena kasihan, hampir setengah jam berlalu matanya merasa ngantuk. Aileen menatap jam yang melingkar di tangan. Ponsel nya yang mati sungguh lengkap.


Aileen pun menyandarkan tubuhnya duduk dan menutup wajahnya dengan tangan kanan. Rasa mengantuk itu sangat tidak tertahan, sudah minum dua gelas kedua matanya tak bisa di ajak kompromi.


"Dimana dia?" tanya Daffin pada pengawal.


"Sudah, ada di dalam Pak."


Daffin tersenyum miring, dan meminta seluruh orangnya pergi. Termasuk Livi, untuk menutup pintu rahasia ruangan dengan rapat.


Secara terbuka pintu itu akan tertutup dengan otomatis, dengan menggerakkan telapak tangan Daffin saja dan orang kepercayaannya yaitu Livi, tentunya masih ada unlock khusus suara Daffin buka, barulah pintu itu akan terbuka.


Daffin melangkah dengan cepat, hingga ia masuk kedalam ruangan yang di lapisi kaca. Daffin senyum menatap wanita, tepatnya tunangannya telah duduk dan tertidur. Daffin pun menunduk jongkok menatap Aileen, ia menggeser helaian rambut yang jatuh menutupi kening yang mengenai matanya.


"Maafkan aku, kamu harus tahu yang sebenarnya. Bagus Jika orangku telah lebih dulu menemuimu sayang." mengusap kening helaian rambut Aileen.


Daffin duduk santai, dengan soda kaleng, ia menunggu Aileen terbangun, ia duduk berhadapan dengan memegang kening dan melingkar satu kaki. Dengan kaki yang jelas amat panjang, Aileen tersadar dan menatap pria di hadapannya itu.


"Siapa kamu?"


Daffin pun tersadar jika Aileen telah bangun. Daffin menurunkan satu kaki dan menatap dengan senyuman.


"Sudah bangun sayang?"

__ADS_1


"Daffin, jadi benar kamu yang melakukan semua ini. Aku harus pergi, tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita! Kembalilah dengan sekertaris seksi mu itu!"


Aileen berdiri dan melangkah berjalan. Tapi pintu kaca itu tertutup rapat dan tak bisa ia buka.


Aileen berbalik badan, mendapati Daffin telah berdiri dan maju mendekatinya.


"Sayang, kamu salah paham. Semua tidak seperti yang kamu bayangkan!"


"Tidak seperti yang aku bayangkan, sudahlah Daffin oh .. Aku tidak ingin dengar apapun lagi, aku harap kamu bisa mengerti. Kita akhiri saja semua ini. Aku tidak akan bicara pada ayah dan pasti akan menutupi semuanya!"


Sreth.


Daffin dengan kilat merengkuh tubuh Aileen, menempelkan pada dinding kaca sedikit menempel. Menggenggam kedua tangan Aileen dengan cepat, meski Aileen berusaha menolak dan mendorong.


"Apa yang ingin kamu lakukan, menyingkir!"


"Aku hanya ingin kamu tahu, kamu salah paham. Aku bisa berikan banyak bukti."


Daffin membalikan tubuh Aileen, sehingga posisinya berada membelakanginya. Dan memeluk Aileen dengan erat.


"Aileen aku hanya mencintaimu. Tidak ada wanita lain yang aku butuhkan, hanya kamu!"


"Apa yang ingin kamu lakukan disini, ini sudah larut!"


"Cukup diam tak menolak, aku hanya ingin memelukmu. Rindu yang mendalam membuatku tak bisa mengontrolnya!"


"Cih, kamu gila Daffin."


"Tapi aku gila karena kamu!"


Aileen perlahan luluh, ada rasa ketulusan dan kejujuran dari sikap Daffin. Rindu Aileen pun, membiarkan Daffin memeluknya dari belakang. Wajahnya yang bersandar pada bahunya. Membuat Aileen menoleh dan menatap wajah Daffin yang lelah dan sedih.


"Sejujurnya aku kesal, tapi mengapa aku tak bisa marah berlebih padamu."


"Itu artinya, kamu sudah jatuh hati pada asmara kita."

__ADS_1


Selama dua puluh menit. "Apa ada yang terjadi selama aku tak ada?" tanya Aileen.


"Aku gila bekerja, dan hanya memikirkan mu."


Daffin pun menatap wajah Aileen, ia tersenyum hangat dan berkata.


"Ku mohon. Tetaplah tinggal dan jangan pergi meninggalkan apapun, kelak yang terjadi. Hatiku hanya ada ukiran namamu Aileen!"


Heuumph, pria gombal dari mana yang membuat aku terjerat. Situasi ini sungguh kejam, cinta membuat mata menjadi buta, dan hati menjadi gelap.


"Aku ga perduli, aku hanya ingin kamu sayang!"


Aileen pun duduk. Namun Daffin masih menatap dan tersipu menatap wajah kekasih. Bahkan Daffin mengusap pipi dan helaian rambut yang terjatuh, ia selipkan di samping telinga. Wajah Aileen terlihat jelas bercahaya. Ia mendongak wajah nya dan berkata.


"Aku rindu, bolehkan aku menyentuhnya!" Daffin menunjuk pada bibir seksi Aileen.


"Aku..,"


Isyaratnya anggukan, disalah artikan. Aileen mengedipkan mata karena terasa perih. Tapi Daffin tersenyum merasa itu adalah tanda diperbolehkan.


Eum.


Kecupan manis mendarat, Aileen terdiam seribu basa. Ada rasa darah yang mengalir begitu saja, gugup dan tegang seolah cair ketika Daffin menjelajahi bagian indra pengecap yang saling bersentuhan. Aileen terbawa suasana pun ia memejamkan mata, hanyut dan bodohnya malah membiarkan Daffin menjelajahi hingga menerima sentuhan semakin dalam dan amat panas.


Mendapat sambutan, Daffin merebahkan dan memulai dari ritme halus dan semakin cepat, membuat Aileen kesulitan nafas karena begitu lama. Namun dibalik itu semua, Daffin yang tersadar dan hanyut melepas jas nya, ia pun membuka dua kancing, menarik kerah baju Aileen, hingga merengkuh kepala kekasih namun masih saling bersentuhan manisnya bibir yang menyatu. Sehingga Aileen terdiam dan berhenti menatap, ketika Daffin sudah polosan atasan tanpa baju.


"Daffin, jangan lakukan lebih!"


Eum.


Aileen terkejut, ketika mata buas Daffin sudah berubah.


'Resapi dan terima saja, aku tidak akan membuatmu sakit! Aku ingin kita segera sah Aileen.'


"Ta-pi .." terdiam bungkam, Aileen ketika ranumnya sudah ditutup oleh Daffin yang amat buas, seolah belum makan seharian.

__ADS_1


Ah.


TBC.


__ADS_2