
Aileen telah sampai di kediaman, Ayah dan Ibu. Ia menatap dengan senyuman, bulir kebahagian pada Alexi sang adik pun terpancar, ikut merasakan senang.
"Akhirnya, kakak ku akan sold out!" geming Alexi. Ia senyum bicara dengan membawa satu toples keripik.
"Kamu, ya.. bisa bisa nya. Memang kakak parfum yang dipajang di bizard?" Aileen mengejar Alexi. Sehingga Ayah dan ibu ikut tertawa.
Beberapa saat, malam yang hening Aileen memikirkan rasa takut, gemetar yang ia takutkan akan gagalnya pernikahan. Ia sudah pernah merasakan gagal. Jika kali ini tak sesuai kendali, nasib ku memang ditakdirkan sendiri. Dan Aileen hanya menunggu waktu tiba, bertemu di berbeda dunia, deru batin Aileen.
"Kak, ih.. kakak Aileen....!" teriak Alexi.
"Apa, sih Alexi. kamu ko ngagetin aja?"
"Yah, kakak ga asik deh. Dari tadi aku nyerocos malah ngelamun, emang mikirin apa sih?"
Aileen terdiam, tubuhnya sedikit panas dingin. Pandangan sedikit kabur, dan berkata.
"Hoam..., maaf ya. Kakak mengantuk, ada urusan penting yang harus kakak lakuin malam ini."
"Hah, apaan tuh kak?"
Alexi hanya mendengus nafas panjang. Lagi lagi Aileen meninggalkannya.
"Kakak ga asik, udah mau sold out harus rajin bersama luang waktu dong!" Alexi berdecak gerutu, sementara di anak tangga Aileen tersenyum.
Di kamar, Aileen membuang seluruh kenangan Kay, ia mengusap album dan membawanya ke atap gudang, ia tak ingin membakarnya. Tapi ia hanya menyimpan dan membereskan segalanya di tempat tersembunyi. Dimana tempat itu hanya di kunjungi, ketika tak ingin mengingat berlarut dalam kesedihan.
Menjelang hari pernikahan, Aileen yang masih tak percaya dua hari lagi, sebuah undangan telah siap dan gaun telah terpampang dengan sempurna. Rumah yang telah di hias, ia pun tersenyum masih tak percaya. Aileen menerima notif pesan, jika Daffin dan Keluarga telah sampai di paris dan menginap di hotel berbintang.
Bahkan Aileen amat bahagia, berharap acaranya semakin lancar sampai hari tiba. Meski begitu rindu, ada debaran kepanikan ketika ia bangun tidur. Aileen berlari menuju arah dapur dan meminum tiga gelas air putih dengan cepat.
"Aileen, kamu kenapa sayang?"
"Ibu, gak apa Aileen hanya .. euum bukan masalah kok. Aileen pamit ya bu!"
Namun ibu menggapai tangan Aileen, ia memeluk putrinya.
__ADS_1
"Semua pasti baik- baik saja!"
"Semoga bu, Aileen takut sekali."
Aileen setelah itu tersenyum, ia mempunyai ibu sambung yang luar biasa baik, kesamaan dengan almarhum mendiang ibu Aileen terpancar. Bahkan Aileen menatap di ujung balkon ketika memeluk sang ibu, ia memejamkan mata merasa tak percaya. Aileen seperti melihat asap hitam seperti bentuk tubuh manusia dan pergi begitu saja.
"Aileen, kamu kenapa lagi. Keringat dingin bigini sih, ayo ibu antar ke kamar ya!"
Beberapa Jam kemudian, Aileen masih tak percaya ia mengurung sendirian. Aileen tak menerima panggilan masuk. Jelas Daffin kala itu menghubunginya.
Aileen hanya tidur dibalik selimut tebal dengan rasa khawatir. Hingga menjelang malam rasa takut, panik dan sedih itu seperti ia mengingat akan kehilangan Kay.
Tok ... tok.
Aileen pun dengan gugup membuka pintu kamar. Aileen terkejut akan siapa yang datang semalam ini menemuinya.
"Daffin, kamu kenapa disini?"
"Aku menghubungimu, rasa khawatir diriku sehingga aku meminta ijin pada Ayah Anton, menemui mu!"
"Kenapa, apa aku harus membatalkan pernikahan ini, dia kenapa datang lagi?"
Aileen gontai di atas lantai, ia menutup mata dan kedua telinganya. Sehingga orangtua Daffin dan kedua orangtua Aileen menatap seperti tak ada yang beres.
"Sayang, ada apa. Apa yang terjadi?"
Aileen terdiam, seperti wanita tak sehat ia menatap Daffin dengan tatapan kosong. Daffin pun kembali memeluk Aileen dan menenangkan.
Bibi di bawah, berlari membawa vitamin dan segelas air putih. Daffin pun membantunya dan membuat Aileen tenang.
"Apa Daffin akan jadi menikah dengan wanita Gila seperti Aileen pah?" tanya Elsa ibu Daffin.
"Mah, dia hanya trauma panik. Undangan sudah tersebar. Jangan membuat papa berfikir buruk." balasnya Alber, dengan berbisik.
Kedua orangtua Daffin merasa bimbang. Ia tak menyadari. Jika Aileen sepanik ini, ia pun tak ingin jika perusahaan J group Corp, mempunyai menantu terlihat sehat, tapi gangguan jiwa yang tak di tampakan.
__ADS_1
Bahkan mereka memutar mata untuk kebaikan Daffin, "Mah, papa ada ide. Sehingga tak menyakiti Anton, terlebih Alber sahabatku juga."
"Jika, aku berkata sejujurnya apa kamu akan percaya dengan penglihatan ku Daffin?"
"Aku pasti percaya, apa yang ingin kamu katakan!"
Daffin memeluk Aileen dan berkata.
"Aku mempercayai penuh Aileen, aku mengenalmu dari kita kecil. Sehingga aku selalu memilih, mencari dan menunggumu!" balas Daffin.
Aileen pun menceritakan dengan detail, meski ia tak mempercayai mitos. Tapi setiap perkataan Aileen memang selalu benar akan firasat baik atau sebaliknya.
"Aileen, berjanjilah meski aku tak bisa melihat seperti yang kamu lihat. Tunggu dan selalu cintai aku seumur hidupmu!"
"Daffin, apa maksudmu?"
"Aku selalu mencintaimu, dan selalu ingin hidup dan membutuhkan pendamping hanya kamu seorang Aileen, berjanjilah menungguku!"
Aileen pun tersenyum. Aileen membalas pelukan dengan tangisan bahagia. Bahkan ia menatap Daffin dan saling berjanji.
Pertemuan malam pun berakhir, Aileen kembali tidur dengan tenang.
Menjelang pagi, Aileen yang menyirami anggrek di tepi taman kamar nya. Aileen tersenyum menatap bunga yang ia rawat selalu tumbuh dan mekar. Hadirnya Daffin membuat suasananya jauh lebih tenang. Ada rasa berdebar ketika menatap jam yang melingkar.
"Enam belas jam lagi aku akan menikah. Di tempat tidur itu, bukan lagi seorang diri dan wanita lajang." senyumnya merekah.
"Kak Aileen .. kakak dimana?"
"Ada apa, Alexi ... kenapa teriak sih."
Bragh.
Genangan teko penyiram bunga terjatuh. Aileen menatap pandangan hingga kabur, tubuhnya gontai lemas dan tak percaya, sehingga ia terjatuh dan menutup mata.
"Kak Aileen." teriak Alexi panik melihat Aileen terjatuh.
__ADS_1
TBC.