
Aileen yang nampak syok ketika wajah Daffin telah dekat, di depan banyak orang. Refleksnya langsung membuat Hera yakin, jika mereka tidak punya hubungan serius.
Aileen mendorong tubuh Daffin, dan menampar pipi bosnya itu. Di sana ada Livi seorang yang melihat, kejadian itu membuat Aileen malu. Meski bukan di depan mata semua teman bosnya itu, tapi ada beberapa waiters, Hera dan Livi orang terdekat Daffin.
"Maaf saya tidak bisa kembali keruangan itu bersama teman anda pak! Saya bukan pesuruh wanita bayaran, yang mudah diancam dan seenaknya diperlakukan." ucap Aileen dan pergi, begitu saja meninggalkan dimana Daffin masih membeku.
"Are you ok, Daffin?"
"I' M Fine. Come back to your desk I'll follow. Hera!"
"Ok." Hera memberi ruang, setelah di minta Daffin, pergi lebih dulu ke meja teman teman lain. Hal itu membuat Hera jadi tahu, jika Daffin putus dari Hera, ia masih betah sendiri. Daffin lakukan seperti tadi pada Aileen itu pun, tidak sengaja. Tidak ada istilah kode pada Aileen sebelumnya, dan memang salahnya juga, karena niat Daffin tidak ingin di bully, jika reunian tadi ia masih sendiri dan belum move on dari Hera.
Daffin terdiam, asisten Livi pun menghampiri, sehingga ia masuk ke ruang bersama teman reuninya, hingga Livi berbicara jika kekasihnya sedang sakit dan beristirahat. Hal itu mewakili Daffin yang kala itu hanya diam, saat di tanya. Dan mungkin saja ingat kata kata Aileen tadi. Sementara Hera, di samping Daffin ia segera senyum dan tahu sosok Daffin.
Hera pun mendekat, duduk di samping Daffin, meski Daffin menggeser tanda menolak. Tapi Hera adalah wanita agresif. Inilah yang tidak diharapkan, hingga acara berlangsung sudah dua jam. Daffin lebih awal, kembali dan pamit berusaha menghampiri Aileen dan menjelaskan permintaan maafnya soal dirinya yang lancang tak memberitahu dari awal soal reunian.
Hera yang berusaha mengejar Daffin, di hadang oleh Livi, untuk meminta ruang Daffin sendiri.
"Bagaimana dengan Aileen?" ucap Daffin.
Tapi Livi, menjelaskan jika ia tak membuka pintu, tapi ia terlihat menangis terdiam lama di depan pintu kamar, dan ketika melihat saya ia masuk dan tak membukanya.
Daffin pun mencoba mengetuk berkali- kali dan menghubungi nomor Aileen di ponselnya, tapi tak ada jawaban.
"Sudahlah biarkan saja dia sendiri, aku akan mencari cara untuk menemuinya, kembalilah Livi."
Seperginya Livi. Daffin merasa bersalah karena telah menyamakan Aileen dengan karyawan lain sebelumnya, yang seperti ini dia tidak akan menolak.
"Maaf aku salah menilaimu."
__ADS_1
Daffin mencoba mengetuk pintu Aileen kembali, setelah dua jam berlalu dengan pakaian santainya.
Aileen yang sedang mengenakan pakaian kimono handuk terusan berwarna putih, selesai berendam akan penatnya. Ia langsung menghampiri dan membuka pintu, terlihat membulat ia canggung untuk membukanya, dan Aileen menutup pintu itu, namun Daffin menahan dengan tangannya.
"Aileen, maaf bisa kita bicara sebentar!"
"Nanti saja pak, sa - ya."
Aileen yang menolak karena pakaiannya yang sedikit terbuka, kimono yang leher terbuka di bagian setengah itu terlihat dan panjang di atas lutut, membuat Aileen tidak nyaman jika bosnya itu masuk ke ruangannya.
"Sebentar saja!" Daffin membuka lebar pintu Aileen, hingga Aileen tersungkur kebelakang sedikit.
"Baiklah silahkan masuk." merapihkan pakaian dengan rapat.
Daffin menutup pintu kamar, sementara Livi sudah melihat bosnya itu hanya menggelengkan kepala, ia menunggu didepan kamar Aileen.
Daffin menjelaskan dengan banyak perkataan maaf, tapi ia merasa tergoda akan tampilan rambut basah dan baju yang menggoda dikenakan Aileen.
"Tunggu sebentar disini pak! saya akan ganti baju dulu."
"Ah! iya saya lupa, maaf." menunduk Daffin, sedikit melirik dan menelan saliva terlihat disana sudah meronta ingin keluar dari sangkarnya.
'Astaga, sabar Daffin. Kenapa melihatnya jadi tergoda.' batin Daffin, ia mulai meluruskan pikiran.
Satu jam berlalu Aileen kembali dan masih terdiam mendengarkan penjelasan.
"Baiklah pas Daffin tidak perlu dibahas, saya yang harusnya minta maaf karena telah menampar anda seorang bos, tapi maaf jangan libatkan, jika memang ada reunian demi kepentingan pribadi. Saya mohon jangan libatkan saya, karena saya tidak menyukainya. Saya tidak berniat menjadi kekasih seorang bos diperusahaan, dan saya tidak berniat untuk mencari pasangan hidup, apalagi sampai menikah. Maaf saya tidak ingin merasakan ditinggalkan kembali!" jelas Aileen membuat Daffin terdiam.
lama memandang Daffin yang terdiam dengan ucapan Aileen. Aileen pun mempersilahkan bosnya untuk keluar dari kamarnya, dan menyudahi semua kejadian tadi.
__ADS_1
Seperginya Daffin, lama ia termenung di balkon, ia menyentuh liontin pemberian Kay! ia berharap agar tak pernah kembali jatuh cinta, dan akan selalu menunggu waktunya tiba sampai bertemu Kay.
"Kay, apa disana kamu melihat ku begitu sepi aku tanpamu." lirih Aileen.
Sementara Daffin dan Aileen memperhatikan nya di samping balkon tak sengaja, mengamati Aileen.
"Livi, apa kamu sudah mencari tau detail tentang Aileen dan kalung itu?"
"Bos! saya rasa trauma disaat kejadian mobil dan motor bersamaan adalah hal penyebab Aileen menyendiri, dan ia tak ingin mencintai seseorang sekalipun. Bahkan saya amati, kalung itu pemberian Kay, mungkin itu kalung seserahan." jelas Livi.
"Jadi hanya karena itu Aileen selalu menghindar, lalu apa Deva sudah tau tentang ini, kamu sudah tau tentang keluarga nya diluar negri?"
Livi menggelengkan kepalanya karena belum mendapat informasi lengkap siapa Aileen, sehingga membuat tanda tanya Daffin penuh penasaran.
Di satu sisi ponsel Aileen berdering.
Kring!
[ Hallo ya, owh mas Deva sudah membaik kah?"
Aileen membalikan badan, dan menatap Daffin juga Livi sedang memperhatikannya dan berbicara.
Aileen dan Livi kilat, memalingkan tubuhnya, berpura - pura tak melihat dan masuk.
Aileen yang sadar diperhatikan, yang sadar memicik sebelah bibir dan segera menjawab panggilan kedalam kamar.
"Kenapa dia terlihat akrab dengan Deva?" tanya Daffin pada Livi.
"Itu diluar pekerjaan saya bos." menertawakan sikap bosnya, yang terlihat cemburu pada Aileen, mengangkat telepon dari Deva.
__ADS_1
TBC.