
Sejujurnya Aileen tak sanggup, maka ia lebih baik memutar arah untuk kembali pulang ke paris.
Aileen yang duduk di taman gedung. Ia meletakan sebuah tangannya ke detak jantungnya. Ada rasa sakit, ia tak ingin kembali jatuh cinta.
Aileen pernah sesak mengalami ditinggal sang kekasih, yang harusnya telah jadi imamnya. Tapi kali ini berbeda hal, bagaimana jika Daffin mengkhianatinya.
Rasa sakit itu seperti jarum yang menusuk di bagian hati. Ia memejamkan mata membayangkan ruangan Daffin tadi dengan seorang sekretaris, siapa yang harus di salahkan, mungkin dasarnya mata keranjang.
"Aku, harus kembali. Tidak perlu berlama disini. Dan mungkin tidak ada yang perlu di jelaskan."
Aileen pun melanjutkan jalan, ia langsung memberhentikan taksi. Tangannya yang gemetar memesan tiket penerbangan. Namun ia pergi ke sebuah hotel untuk mengambil sebuah koper yang ia bawa sebelum berpisah dengan Ehsan yang tugas juga ke beda daerah.
"Lihatlah pilihan Ayah, apa ini yang terbaik untuk Aileen!" gemuruh Aileen menahan bulir air mata.
Di satu sisi, Daffin yang mencoba menghubungi kekasih sulit dan tak terjangkau. Ia memutar ke seluruh gedung namun tak dapat ia temukan juga Aileen.
Tak lama, sebuah meeting penting bagi Daffin. Bahkan demi Aileen ia pun tak memperdulikan. Tapi Livi berkata pertemuan klien penting yang tak bisa ditunda, berpengaruh terhadap reputasi dan finalti akan tidak profesional.
Tak menunggu lama, Daffin kerahkan banyak pengawal, ia menghubungi beberapa anak buah sang ayah! untuk mencari keberadaan Aileen, jika sampai di bandara menahan Aileen beberapa jam. Livi yang syok, saat bosnya berlaga gila, mengerahkan beberapa orang berjas hitam yang tersambung benda kecil ditelinga di seluruh bandara.
"Aku tidak mau dengar, dua jam setelah meeting. Jika kalian tidak menemukan kekasihku. Kalian tanggung akibatnya!"
Gleuk.
Livi menelan sesuatu terasa kering, tiba saja dahaganya menjadi haus. Raut wajah Daffin berubah menjadi tabiat dahulu. Ia pecemburu akut dan bisa melakukan apapun demi wanita yang ia cintai.
"Apa tidak akan menjadi ketakutan nantinya, Jika Aileen tahu sifat asli anda terkuak Daffin!" lirih Livi.
"Aku tidak boleh lemah, aku pastikan dia hanya takut padaku! Takut terpesona." senyum Daffin melirik Livi, untuk segera meeting cepat berakhir.
__ADS_1
Beberapa Jam Kemudian.
Aileen yang menunggu landing penerbangan. Sesekali ia mengusap air mata, tak jauh dari sudut ia menatap keramaian orang berjas hitam.
Tapi Aileen tak memperdulikan dan tidak ingin tahu keramaian disana itu, membuat aksi petugas penerbangan adu debat dengan para pria berjas hitam yang ingin masuk.
Dreeeth.
Dering ponsel Aileen. Ia pun mengangkatnya.
"Ya, ka Ehsan. Aku sebentar lagi landing. Aku tidak jadi datang ke lantai 7, urusanku telah selesai. Tak apa aku sendiri saja!"
Sambungan ponsel masih berlanjut, tak lama petugas receptionis pesawat datang menghampiri keberadaan Aileen dengan sopan.
"Maaf, apa dengan Nona Aileen Maynaka?"
"Ya, saya pak. Ada apa ya?"
"Tapi, saya tidak mengenal nya Pak."
"Tapi mereka bilang mengenal anda nona."
"Dia bukan pekerja saya. Saya enggak kenal mereka pak, usir saja. Jangan jangan orang jahat, atau sekelas mafia lagi."
'Aileen ada apa? Kamu kenapa. Tunggu kak Ehsan disana, jangan pergi kemanapun. Kak Ehsan segera menyusul.'
Terdengar suara kecil dari ponsel Aileen yang masih menyala, Aileen lupa karena berdebat dengan petugas disana. Aileen langsung meletakkan nya di dalam tas, lupa ia matikan.
Perdebatan Aileen dan Pria berjas saling bertolak. Karena ia tak ingin ikut pergi dengan orang yang tak ia kenal.
__ADS_1
"Maaf, anda tidak bisa memaksa saya. Siapa Bos anda?"
"Mohon maaf, kami mohon nona ikutlah, kami tidak menyakiti dan kriminal. Mohon kerjasamanya. Karena nyawa kami dipertaruhkan jika tak membawa nona Aileen, tuan muda meminta anda ikut kami, menunggunya. Sebab menyusul di situasi tidak bisa mengejar yang urgent."
Cih.
Jadi Daffin, Hah. Aileen kesal karena tak mendapat kejelasan. Tapi ia paham akan para pria ini adalah orang suruhan. Bahkan Aileen tak tega, jika mereka kehilangan mata pencaharian karenanya yang keras kepala.
"Hah, baiklah Kau harus mengganti tiket pesawat Ku. Jika kalian membohongi. Kau akan tau akibatnya!"
Aileen meminta maaf pada petugas bandara, tidak memperdulikan tatapan orang lain, maka Aileen masuk dan mengekor, pria berjas hitam disana. Sementara para pria berjaga mengelilingi Aileen yang sedang berjalan melingkar.
Hah.
Aileen sejenak terdiam, dan menatap pada pria itu.
"Kalian. Jalan saja lebih dulu. saya tidak akan kabur! Anak pejabat saja tidak seperti ini di kawal." risih Aileen yang mengomel.
Semua mata pun memandang Aileen, ketika sudah masuk ke dalam mobil.
'Apa dia anak presdir ya?' lirih beberapa orang bicara. Tapi Aileen mengabaikannya dan diam, menutup tirai jendela.
Satu jam berlalu, Aileen menatap tiket yang hangus. Aileen kini masuk ke dalam ruangan seorang diri. Perasaan gugup tak karuan menyelimuti perasaan Aileen saat ini, haruskan dirinya menurut.
'Harusnya aku tidak peduli saja, bahkan kepedulian ku pada orang lain, membuat aku tidak bisa pulang.' kesal Aileen.
TBC.
Yuks mampir juga ke judul.
__ADS_1
# Baby Genius Sang Pilot.
# Pengantar Box Jutawan.