
Sepulangnya keluarga Daffin dan pamit, Aileen juga kali ini, mengambil cuti selama satu minggu, karena ia mengurus Bizard parfum terkenal, ia sedang merekrut
karyawan yang bermasalah, dan menggantinya.
Aileen pun mengubah struktur bisnis pemasaran agar omset kembali naik. Ia pun meminta Danu, untuk mencarikan model agar promosinya berhasil, ide Aileen dalam bisnis memang tak diragukan.
"Kak gimana, apa enak jadi bos atau sekretaris tuan tampan kemarin?" tutur Alexi meledek, Aileen melempar gumpalan kertas pada adiknya itu.
"Jangan meledek atau kakak ga bantu kamu dengan kekasih mu itu ya."
"Eh, ancamnya jelek. Jangan merajuk kak! aku bercanda, tapi kalau ketemunya cowo mapan kaya tunangan kakak juga tak masalah aku ikhlas, kan lumayan aku ga sengsara, shoping dan bisa terus jalan bareng temen."
"Dasar bocah kamu."
Namun Alexi tak mau kalah.
"Hyaks, memang aku masih labil, kenapa kakak cepat tunangan, umur kakak bentar lagi tahun depan kepala tiga kan, sudah ga muda. Jadi ayah tepat dong, tanda sayang Kakak Aileen, udah matang itu namanya ka."
Mendengar perkataan adiknya yang menyebalkan. Aileen pun menutup kedua kupingnya, dengan earphone dan berkutat dengan laptop.
Serta arahan pada kandidat karyawan, sementara Alexi membantu yang kecil- kecil saja, misalkan dia akan merekrut yang cantik dan handsome untuk daya tarik. Tapi berbeda Aileen sebaliknya kemampuan, giat dan jujur utama untuk rekrut karyawan fashion di bidang parfum.
Hingga mereka kompak, dan tak sedikit yang memuji jika anak pemilik parfum itu memang cantik, meski Aileen usia matang, namun parasnya memang membuat iri terlebih sang adik, jika mereka berjalan terlihat seperti seumuran.
***
BERBEDA TEMPAT.
Kantor J-geuk Corp.
"Kenapa murung sekali dimeja kantor hari ini bos Daffin? bukankah kemarin sudah halal lancar?" tanya asisten Livi.
Namun Daffin berbicara pada sahabat, sekaligus asisten kepercayaannya itu.
"Livi, bagaimana cara kita memahami pasangan, aku ingin membuat Aileen jatuh cinta padaku, dan tak mengingat tragedi penyekapan itu, karena itu membuatnya kesal jika teringat menatapku?"
Hihihi.
__ADS_1
Livi pun tertawa, ia menatap Daffin yang memang kolot, jika soal cinta, kaku bahkan pasangan pun bosan mendekati karena tak ada romantis.
"Begini saja, kau buatlah Aileen senyaman mungkin. Jadi diri sendiri kau apa adanya saja, aku yakin jika Aileen bukan tipe yang memaksa. Dan harus tahu bos, anda hanya perlu mengingat masa kecilmu dan dia dimana itu adalah kenangan yang manis, bukankah saat itu kamu bertemu Aileen dimasa kecil?"
Daffin menatap Livi, dan berterimakasih akan ide cemerlangnya, ia pun paham apa yang harus ia lakukan kini.
"Baiklah, thanks." menepuk bahu si tomboy, dan beranjak mengambil jas pergi.
Tak lama dari kejauhan, seseorang datang mengetuk pintu ke ruangan Daffin, dengan wajah yang tajam.
Deva, terlihat datang menemui Daffin, ia menanyakan perihal notif ia dengan Aileen, kala itu sebelum Daffin belum sampai luar pintu, membuat Daffin kembali masuk ke ruangannya.
"Kau harus jelaskan perihal ini!" kesal Deva, mendorong Daffin.
Daffin diam, melirik Livi. Ia memberi jawaban dengan tenang. Livi pun membawa Deva, pulang ke rumah.
"Baik satu jam kita bertemu." lirih Deva pergi.
Hingga sampailah di mansion, terlihat kedua orangtua mereka menatap tegang.
Ketika dirumah, papa Alber dan mama menjelaskan mengapa ia memihak Daffin dan buka Deva.
"Deva maaf nak, papa tak bermaksud tidak memihakmu. Aileen anak teman karib papa, dia butuh sosok yang kuat bersamanya, jika ia tau tentang dirimu, papa tidak ingin Aileen menerimamu karena sakit, dan masa lalu Aileen berada di dirimu. Jika ia kehilangan kembali, dia akan gila dan hancur. Papa harap kamu mengerti tenanglah."
"Tapi tidak seharusnya kalian tutupi, orang yang Aileen butuhkan aku, bukan Daffin, kami sudah janjian untuk pergi bersama." tutur Deva, sangat kecewa dan emosi, ia menyalahkan Daffin masuk kedalam percintaan nya.
"Daffin, aku benci padamu."
Namun papa Alber dan mama paham, jika sejarah akan terulang. Meski kembar tak identik, tapi perasaan hati mereka satu, jika jatuh cinta mereka akan pada satu wanita yang sama, dan akan berakhir mengalah hanya ada pada diri mereka.
"Aku pastikan Aileen akan memihak ku Daffin."
Namun Daffin, menepis meminta Deva untuk bertahan dua bulan ke depan, karena ia telah bertunangan.
"Kami sudah bertunangan kemarin, dan aku akan membuat Aileen jatuh cinta, dalam waktu dua bulan."
Deva merasa tersayat, meski Daffin memohon jika Aileen ditakdirkan untuknya, merasa tidak percaya jika Aileen adalah gadis masa kecil pertama yang membuatnya tersenyum dan terpisah.
__ADS_1
"Percayalah ka Deva, ada banyak yang tidak diketahui olehmu tentang aku dan Aileen dimasa kecil, beri aku waktu selama dua bulan. Jika aku tak berhasil membuat Aileen jatuh cinta maka aku akan melepaskannya."
Deva tak ingin dengar, ia pun berlalu, ia kecewa dan amat kesal pada seluruh penghuni rumah, rasa sedikit sesak. Tak sedetikpun ia menyalahkan dirinya yang lemah, yang bergantung pada obat sehingga ia tak bisa memperjuangkan kemauannya
"Dasar pria lemah." lirih Deva, pada cermin di kamarnya.
Aku selalu mengalah karena sakit. Selangkah lagi aku mendapatkan Aileen, kini aku bersaing dan semua itu didukung oleh papa. Karena aku lemah, sangat lucu bukan?! seringai Deva menatap cermin.
***
Satu minggu kemudian Aileen telah sampai dan kembali ke kota padat, ia yang tinggal bersama Lani, mereka berpeluk dan bercerita. Bahkan paman dan bibinya, sudah ke paris untuk membangun usaha pabrik ayah, sehingga ia harus menyewa kost bersama Lani sementara waktu.
Aileen mengungkapkan kekesalannya, dan ia dijodohkan dengan pria seperti apa. Lani yang paham sebagai sahabat Aileen. Ia yang masih takut akan menjalin dengan pria lebih serius.
"Sudahlah aku paham padamu Ai, tapi coba tenangkan dirimu! tak ada salahnya kamu mencoba mengenal lebih dalam seorang Daffin bukan?"
"Iya sih, tapi .."
Sehingga mereka habis kan malam bercerita, dan makan bersama. Lani satu -satu nya teman baik Aileen, disaat down ialah yang selalu mendukung dan support untuk hidup lebih baik.
Aileen kini menatap cermin ketika pagi sudah menyinari, ia sarapan bersama dengan Lani.
Lani di ibu kota, punya bisnis. Ia adalah pemilik butik terbesar, di usia muda ia sudah mempunyai bisnis dari keluarga.
"Ai, aku duluan ya hari ini aku harus meeting dan mengurus beberapa pameran."
Aileen pun tersenyum, hingga mereka terpisah. Aileen segera memesan taksi untuk bersiap ke kantor, dimana nafasnya sangat berdebar.
Dan setengah jam kemudian ia memasuki kantor. Langkah demi langkah, Aileen menyusuri kantor. Di sambut oleh Angel dan karyawan lainnya, dengan manis, sehingga mata Aileen membulat sempurna dengan wajah bingung.
"Apa ini, kenapa mereka senyum senyum aneh. Aileen menatap mejanya dengan bucket bunga dan paket kecil, terlihat kertas kecil dari Daffin."
Ehm!
"Duh, ada yang dapat bunga dari big bos loh." kepo Angel, membuat Aileen tercengang.
TBC
__ADS_1