
Menatap pemandangan area kamar yang seperti pengantin, membuat Aileen terpana begitu saja, bagaimana tidak bosnya itu memesan kamar untuknya, seperti untuk orang yang berbulan madu.
Setelah di rasa lelah, Aileen mandi dan beristirahat. Sejenak ia merebahkan diri, dan dengan secangkir coklat hangat ia ke arah balkon, mencari angin. Lengan kemeja panjang di atas lutut berwarna biru muda menatap arah balkon di sore hari. Aileen pun meregangkan kedua tangannya dan menatap laut tak jauh dihadapannya.
"Pemandangan yang indah, andai jika seperti ini aku rindu ayah yang dulu, aku rindu Alexi dan adikku. Aku rindu bermain di pantai karena mereka aku tidak pernah sepi. Alexi pasti selalu dimanja ayah. Semoga uang transferan yang aku berikan, cukup untuk pengobatan Alexi segera sembuh."
Daffin yang memandang di samping dengan segelas kopi hangat, menatap Aileen yang sedang berbicara sendiri dengan tersenyum, Livi pun menatap bosnya itu dengan penuh tanya.
"Livi, cari tau sisi keluarga Aileen dan keluarga Kay, apa pria itu yang benar mendonorkan nyawa Deva, aku ingin tahu history mereka." ucap Daffin.
"Kamu menyukainya Ya bos? Jujur aku sudah mendapat infonya tapi belum akurat. Sedikit lagi, aku akan sampaikan secepatnya."
"Entahlah Aileen itu terlihat pintar bukan. Wajar jika saya ingin mengetahui sisi karyawan saya dengan detail, itu biasa saja kan?" ucap Daffin, yang tak ingin Livi curiga.
Daffin, pergi begitu saja masuk. Sementara Livi, sebagai kaki tangan ia merasa aneh. Livi memperagakan lekuk tubuh dan bicara atasan sekaligus partner kerjanya.
"Wajar saja dia wanita pintar, tak apa jika mengetahui sisi amat detail karyawannya kan? Kenapa tidak kau jawab suka, Ya saja. Hey, kamu nanya.. kamu bertanya tanya, jika aku suka Aileen." ledek Livi sebal, kala Daffin sudah masuk ke kamarnya, sementara ia akan pergi juga ke tempat lain.
"Dasar pria angkuh, berani jujur apa salahnya. Tak perlu dirimu menutupinya jika kamu menyukai sekretaris mu bos." ucap Livi mengekor, lalu menoleh ke arah tablet untuk pertemuan bisnis yang sudah terjadwal.
Tiba pukul delapan malam, Aileen telah siap dengan gaun senada cream berpadu navy, Aileen jalan menyusuri ruang meeting bersama tuan Daffin yang memakai setelan jas navy bernuansa cream dengan kerah menutupi leher, dengan jamuan penuh mewah ia hadiri pertamakalinya.
Selama beberapa jam berlalu, meeting kaku dan elegan membuat Aileen menarik nafas, setelah semua selesai
"Hah, akhirnya selesai juga." lirih Aileen.
"Apa kamu lelah Aileen?"
Aileen pun menatap bosnya dan menggelengkan kepala, karena bingung harus jawab apa, jika jujur lelah ia pasti di pecat.
"Baiklah, setelah ini kita masih menunggu kejutan di tempat lain." sambar Daffin meminta Aileen mengekor.
Aileen yang sebenarnya sudah mengantuk merasa bosan, ia pun mengambil segelas minuman dan permen agar menghilangkan rasa mengantuknya.
__ADS_1
"Apa masih lama tuan Daffin, bukankah meeting telah selesai?" tanya Aileen. Bahkan ia berbisik sedikit, namun Daffin menjawab.
"Sebentar lagi akan ada teman seangkatan, jadi tunggu disini tanpa banyak bicara!"
"Hah.. maksud anda reunian?"
Livi datang, dia hanya tersenyum, sedang Aileen merasa kesal karena ia bukan bagian, dasar bos kriminal, awas saja nanti jika macam- macam beraninya memperkerjakan seorang bawahan diluar jam kerja. Aku kan bukan bagian dari reunian mereka, untuk apa aku masih disini?! saat Aileen ingin beranjak, tangan Daffin menahan dan membuat tatapan kode agar Aileen duduk di tempatnya.
Tak lama sudah ada delapan orang datang dengan pasangannya. Sementara Livi menghilang dengan rekan teman lainnya, mereka saling menyapa dan menatap Aileen selaku wanita yang bukan teman angkatan mereka.
"Pak Daffin, saya bisa izin kembali ke kamar?"
"Tidak boleh! jika kau kembali, gaji mu aku pangkas selama setahun 70%."
Deg.
"Hai Daffin, lama kita tak berjumpa. Hey apa dia teman wanita mu. Pacar atau tunangan?" tanya Edo, teman Daffin saat kuliah tiba tiba datang.
"Ya dia adalah Aileen, kekasih dan kami akan segera bertunangan dalam waktu dekat." singkat Daffin.
Sementara Aileen yang ingin bicara jika ia adalah karyawannya, menatap murka pada mata Daffin dengan penuh emosi tertahan.
Daffin merangkul Aileen, meski sedikit menolak ia pasrah. Daffin memperlakukan Aileen juga dengan manis dan menerima makan jamuan dan bersulang.
Tak lama Aileen izin untuk pergi ke toilet karena merasa tak nyaman.
"Nona Aileen anda akan kemana?" ucap Livi.
Livi pun mengekor karena takut jika, Aileen akan meninggalkan acara itu. Tetapi terkejut ketika melihat Aileen pergi ke toilet wanita.
"Hah.. lega aku kira dia akan pergi, bisa tamat aku pada bos." ucap Livi, karena ditanya tak di jawab.
Saat Ailen keluar dan diam di koridor karena malas ke meja, ia berusaha untuk pergi ke kamar, namun saat berbalik sudah ada Daffin dihadapannya.
__ADS_1
"Sa- ya ijin ke kamar pak Daffin!"
"Temani sampai selesai Aileen."
"Tapi ini bukan jam kerja yang tepat bukan?"
"Panggil saya nama, di depan mereka. Kau akan tahu sendiri kenapa saya meminta kamu Aileen. Saya sudah transfer biaya pengobatan adikmu pada ayahmu, selama enam bulan, anggap itu bonus."
Deg.
"Apa .. Anda pikir sa..?" belum menjelaskan seorang wanita datang kehadapan Daffin dan Aileen yang tak jadi berdebat.
"Are you okey? Daffin, apa kalian baik - baik saja." ucap Hera.
Aileen pun menatap wanita anggun itu.
"Kenalkan saya Hera, terlebih kami dan Daffin pernah menjalin hubungan. Sayangnya kita tak beruntung melanjutkan, memang aku yang salah dan tak beruntung, jika kamu adalah wanita Daffin. Selamat ya, meski aku sampai saat ini masih mengharapkan, ta- pi sudahlah itu hanya masa lalu, apa kita akan kembali kemeja reunian Daffin, semua sudah menunggu loh?"
Daffin terpaksa menggenggam tangan Aileen, ketika Hera, lebih dulu jalan.
Aileen meregangkan tangan untuk melepas namun tetap dipaksa, sehingga saat itu Aileen sedikit ingin terjatuh dan disambut oleh tangan Daffin refleks, agar Aileen tidak sampai jatuh ke lantai, kedua wajah mereka menempel ketika Daffin menahan bahu Aileen yang memakai gaun bertali satu, melorot ke samping.
Aileen menatap Daffin dengan dekat! Daffin pun terkesima karena wajahnya menempel bagian pipi pinggir bibir Aileen. Sehingga mereka saling diam terkesima.
Hal itu membuat Hera, nampak kesal melihat pemandangan yang tak ia sukai, di depannya begitu saja.
Aileen sendiri syok, kala wajah bosnya itu menempel miring, menurunkan wajahnya hampir tertuju pada gundukan dibawah milik Aileen yang berisi.
"Saya ga apa apa pak." lirih Aileen menatap malu, ke arah sekitarnya melihat mereka.
'Woh, daebak. Seperti manisnya coklat, hubungan bos dan Aileen begitu pas.' deru batin Livi, yang ikut bahagia kala bosnya, tidak kaku bagai kanebo kering.
TBC.
__ADS_1