Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
DUKUNGAN PAPA


__ADS_3

Aileen yang segera terbangun akan celah dinding cahaya dijendela, ia menatap perlahan dan memutar mata, ia menempelkan tangannya seperti ada yang menopang. Ia memutar kepala dan menatap wajah pria. Ia mengedipkan berkali kali. Apa dia mimpi kan, melihat dengan jelas ia bangun. Terkejut karena pria kriminal itu sedang memeluknya.


"Ah.. tidak Daffin, kenapa tidur disini?" Aileen menjauhkan diri dengan gugup.


"Kamu sudah bangun hentikan teriakan mu, aku tidak macam -macam hanya saja. Semalam kamu pingsan, dan aku bawa kesini agar nyaman, aku membawamu karena kamu alergi dingin kan?"


"Kenapa bisa tau?"


Daffin pun menjelaskan, lalu ia membuat teh hangat untuk Aileen, yang syok terbangun. Aileen pun segera mengambil ponselnya, dan terlihat pesan paman.


Jam segini apa saya terbangun telat, kenapa tidak ingat jika telah membuka pesan paman. Aileen pun terdiam ia paham, ketidaksadaran Aileen, jika ia lah yang membukanya lebih dulu.


Dua jam berlalu Aileen, diantar oleh Daffin, ia pun bergegas masuk dan mengucapkan terimakasih.


"Ini adalah hari cuti ku, aku akan berangkat ke paris, meski ia berat hati menemui Ayah."


Aileen pamit dengan tersenyum, di dalam hati Daffin akan menemui sang keluarga Aileen, sebelum Deva lebih dulu. Terlihat Aileen memencet nomor mas Deva. Tapi tak ada jawaban dan tidak aktif.


Aileen pamit, ia pun segera pergi dengan hampa. Sementara Daffin hanya menatap diam begitu saja, ketika Aileen pergi dari tempatnya.


***


Sampailah di kediaman Lani. Terkait rumah paman dan bibi Aileen dikunci, pergi ke luar kota.


Dan Aileen berfikir jika mas Deva tak akan membantunya.


"Baiknya, aku tinggalkan pesan saja untuk mas Deva tahu." lirih Aileen, entah bicara pada siapa yang segera bersiap mengemas.


"Ai, hari ini jadi berangkat bertemu ayah kah. Wajahmu pucat lho?" ucap Lani.


Ia menatap teman baiknya itu. Tapi Aileen, memeluk Lani dan menjawab jika ia baik- baik saja.


"Tak apa Lan, kamu tau kan sudah lama aku menginginkan ayah, di perhatikan ayah. Aku juga hanya berkunjung saja, sekaligus kabar Alexi."

__ADS_1


"Baiklah, kabarkan aku jika ada apa- apa ya Ai.


Jangan bohongin aku ya, ingat pesan aku!"


Lani bersedih takut jika, Aileen tak kembali.


Aileen telah sampai di rumah Mas Deva, sebenarnya ia pernah berkunjung. Namun Daffin yang sudah lebih dulu di mansion melihat Deva sedang mandi, ia melihat dari layar cctv, jika Aileen datang ke rumahnya. Daffin segera memberikan kode pada asisten rumah tangga, jika Deva sedang tak ada.


"Tolong bilang, Deva sedang tidak di rumah! jangan biarkan Dia masuk!" ujar Daffin.


"Baik Tuan."


"Apa Deva ga ada di rumah? Saya Aileen teman nya. Bisa saya bertemu menunggu?"


"Maaf nona. Tuan Deva telah pergi baru saja sejam yang lalu. Sepertinya pulang larut."


"Baiklah, bi berikan surat ini Pada Mas Deva! Bilang saja jika saya menunggu di bandara Dua jam lagi."


Aileen pun berlalu tanpa Deva, berharap Deva sudah ke bandara. Andai pun dia tak ada, maka kesimpulannya ia enggan dan menolak.


Waktu boarding tiba, Aileen pun masuk kedalam pesawat seorang diri, ia mengatur nafas dengan baik dan dengan doa, semoga harapannya berjalan baik.


"Baiklah mas Deva. Aku telah mengirim pesan, surat namun tak ada kabar. Sepertinya kamu tak akan membantuku." lirih Aileen. Ia pergi begitu saja, dengan wajah yang sedih.


Kediaman Mansion Deva.


Di satu sisi, kedua orang tua Deva dan Daffin akan berangkat pergi ke luar negeri, papa Alber dan mama Mirtha adalah kedua orangtuanya. Ia telah mengetahui sisi keluarga Aileen di paris. Tak menyangka jika ayah Aileen adalah sahabat baik, dari teman Alber.


"Papa yakin, jika kita melamar Aileen pada temanmu itu, untuk Daffin bukan Deva?" percakapan kedua orangtua privasi.


Mama Mirtha menginginkan Aileen, bersama Deva, namun papa menginginkan bersama Daffin. Karena imun Deva tidak kuat, Aileen membutuhkan Daffin yang tidak pesakit, dan jika ia tau kornea dan jantungnya adalah dari kekasih Aileen dulu, ia akan semakin bersedih dan bersalah.


"Aku tidak ingin Aileen menerima Deva, karena kasihan atau mengingat kenangan lama. Meski papa rasa Aileen lebih akrab dengan Deva. Perlahan ia akan menerima Daffin. Daffin menyukai Aileen mah, hanya saja dia lebih kaku, wajar Daffin terlalu mementingkan perusahaan." jelasnya pada sang istri.

__ADS_1


"Sebaiknya mama siapkan, untuk kita berangkat!" mama Mirtha pun menuruti keputusan suaminya.


Di saat itu, sang mama menuruni anak tangga, hingga dimana ia bertemu Deva.


"Dev, kamu tidak apa -apa mengurus semua ini sendiri. Aku akan mengurus klien pertemuan bersama papa dan mama." tutur Daffin.


"Ya, tak apa. Tidak perlu mengkhawatirkan. Pastikan Lusa kembali, karena aku ada hal yang lebih penting dari ini!"


Livi sebagai asisten tersenyum, ia merasa bersalah karena notif pesan Aileen ia rubah dan sabotase kegiatan Aileen di rekayasa.


'Daffin, kamu membuat ku dalam jurang kematian, aku tak tega pada Deva jika nantinya ia tau.' batin Livi saat itu.


"Aku akan keluar membereskan ponsel ku yang mati, dan kau tau Daffin tadi Aileen ke rumah memberikan aku surat. Katanya akan kembali minggu depan. Aku berfikir hari ini ia mengajak ku tapi isi surat itu ditunda. Jika tidak akan bentrok perusahaan tak ada yang menghandle bukan?"


Gleek Daffin, terdiam sementara. Livi panas dingin. Karena ia lah, surat dan ponsel ia rubah. Agar meluruskan rencana Daffin dan paman Alber berhasil, menuju kediaman Aileen.


Daffin berlalu ke kamar dan memukul kecil pundak Livi, untuk tenang, hatinya bahagia.


karena sepenuh ide nya didukung oleh papa.


"Bagaimana dengan Deva?" tanya papa.


Daffin pun memberi kabar jika semua baik, dan meminta maaf, jika harus membohongi Deva.


"Sudahlah tak perlu risau." Jawab papa Alber menenangkan Daffin.


"Papa dan ayah Aileen sudah berjanji. Jika Aileen kehilangan seperti dahulu, kondisinya akan jauh lebih buruk dari sebelumnya. Perlahan Deva akan mengerti, bukankah kalian jika menyukai wanita selalu dengan satu wanita yang sama. Untuk kali ini, papa minta jangan buat ulah menyakiti wanita!"


"Iya pah! lagi pula bukan Daffin yang menyakiti wanita, tapi dia selingkuh dengan Deva." jelasnya.


"Cepatlah bersiap, sebelum terlambat. Aileen pasti akan lebih dulu di sana, pastikan kau membawa cincinnya!"


TBC.

__ADS_1


Sambil Tunggu Up Yuks Mampir, ke judul temen litersi Author.



__ADS_2