
Acara benar benar berakhir, di sesi meeting klien besar. Hal itu pun, membuat Livi pergi dengan taksi. Karena Daffin, ingin mengantar Aileen pulang sendiri.
"Sudah masuk lah, minggu depan aku akan membantumu pindah ke apartment milikku, Jika membeli lagi akan pemborosan. Lagi pula bukankah kita akan .. ?" goda Daffin.
"Sudah-sudah kembali pulang, aku lelah, besok masih bisa bertemu Daffin!"
Tapi Daffin, merasa tak rela ia berpisah, sehingga ia pun berlalu karena sudah malam. Ia bagaikan abg yang labil, di dekat Aileen ia merasa tak ingin jauh. Segudang beban berat dikantor merasa ringan. Jika bersama Aileen.
"Baiklah istirahatlah!"
Sehingga berlalu, tak lama di tangga Deva telah menunggu, ia menariknya dan membawa ke lantai paling atas. Aileen pun mengekor dan bingung, perihal penting apa Deva ingin mengatakan sesuatu.
Sementara di parkiran, Daffin kembali karena ponsel Aileen tertinggal di dalam mobilnya. Sehingga ia memutar arah.
Satu jam berlalu, Aileen menangis dan pilu. Sedikit sesak tak percaya.
"Mas Deva, pasti bohong kan, ini tidak benarkan. Tidak mungkin kan itu semua ilusi, kebohongan saja kan?"
Aileen menatap Deva, yang mengeluarkan air mata, Deva pun memberinya bukti, berkas foto dan hasil resume dari rumah sakit yang sama.
Deva kala itu, berusaha meraih tubuh Aileen namun ditolak, namun ia tak bisa membendung, ketika menatap semua bukti di tangannya.
"Aileen, percayalah kamu menyayangi Kay. Aku pun sama. Begitu pertama aku melihatmu, entah seperti lama aku melihat dan merasakan, serta mengenalmu lebih lama. Aku berjanji jika kamu membatalkan pertunangan pada Daffin, aku akan menggantikan dan membuatmu bahagia."
Aileen masih terdiam kaku dengan tangisan, sejarah kelam luka yang membuat ia tak bisa lepas, akan kesedihan. Kini kembali bersedih lagi.
Bahkan kali ini, Aileen terduduk lemas dengan sebuah lembaran ditangannya. Deva pun menatap dan merangkul Aileen dengan perasaan yang tak bisa diungkap, hanya dengan cara ini ia merebut hati Aileen ke pelukannya.
Beda tempat, Daffin membalikan arah mobilnya, karena ada sesuatu yang tertinggal. Ponsel Aileen tak sadar, jatuh dalam kursi mobilnya, hingga ia memarkir dan telah berada ditepi lift, dan ia menekan bel. Namun Lani membukanya.
"Ya, ada apa?"
__ADS_1
"Apa, Aileen ada didalam?"
"Tidak ada, belum pulang." bingung Lani.
"Baiklah, terimakasih."
Lani pun membalas, jika Aileen belum pulang. Daffin pun tersadar akan Deva, lalu Daffin pun berusaha mencarinya.
Hingga Daffin melewati dan masuk di lift, terlihat anak tangga yang terbuka. Daffin menatap gantungan kunci bertulis love paris.
Dengan jelas Daffin mengambilnya, ia pun menatap dan membalikkan gantungan kunci itu, terlihat jelas, nama Aileen dengan tanda tangan yang sama persis.
Tanpa berfikir panjang, Daffin menyusuri anak tangga, hingga tepat di paling atas. Ia pun menyaksikan Aileen yang sedang menangis histeris.
Sesekali Deva ingin memeluknya, namun Aileen terlihat jelas menolak dan menangis berusaha menjauh.
'Apa yang terjadi?'
"Apa yang kamu lakukan Kak? hentikan semua ini!" ucap Daffin.
Daffin yang marah ketika melepaskan tubuh Deva dekat dengan tunangannya. Aileen pun menatap pria dihadapannya. Pria yang membohonginya, dengan berbagai cara untuk mengelabui.
"Aileen, dengarkan aku ingat perkataanku." tutur Deva yang tak ingin kalah.
Karena Daffin memeluknya. Aileen menatap pria yang berstatus tunangannya, ia pun menatap mas Deva yang kini adalah sisa bagian kekasih yang ia sayangi dahulu.
Hingga pertikaian pun semakin panas. Ketika Aileen beradu kata. Deva dan Daffin saling menjelaskan, mengapa Aileen sulit mencerna, ini tidak benar.
"Cukup mas Deva, cukup Daffin! tinggalkan aku sendiri aku butuh waktu."
Aileen memberi berkas hasil donor yang diberikan oleh Deva ke arah Daffin, dan bukti jika Daffin berbohong telah menyabotase. Apalagi menghapus pesan di ponselnya, surat yang dirubah, merasa cara Daffin benar benar licik.
__ADS_1
"Kamu jahat Daffin! Apa kamu bisa jelaskan ini semua padaku. Kamu telah mengetahuinya, tapi kamu tidak memberitahuku. Bagaimana bisa pernikahan dilandasi dengan kebohongan, Hah ?"
Aileen pun berlalu meninggalkan Daffin dan Deva.
"Ail, tunggu kita harus bicara."
Namun saat Aileen berlari, Deva menahan Daffin dan saling beradu bicara.
"Kita harus bicara Daffin, Aileen harusnya milikku, bukan untuk kau." tegas Deva.
Daffin menahan emosi, ia pun memukul wajah sang kakak.
Bug.
"Apa dengan cara seperti ini kamu kembali menghancurkannya Deva?"
Lalu Deva, pun memukul Daffin membalas karena telah menyabotase pertemuan pentingnya dengan Aileen. Mereka berakhir duduk merenung.
"Sampai kapan kita seperti ini Deva, aku telah banyak berkorban dan mengalah, tapi untuk kali ini dia adalah gadis kecil masa lalu ku, meski di tubuhmu ada kenangan Aileen, tapi itu adalah benda yang tidak utuh yang akan semakin sakit, jika Aileen bersamamu." tutur Daffin pergi, ia berlalu meninggalkan Deva sendiri.
Deva pun merenung, mengapa selalu mencintai dengan wanita yang sama. Sakit perih terasa, namun sesak pertengkaran hebat itu.
Daffin pun segera berbalik arah dan menelepon rumah sakit. Sehingga ia tak bisa mengejar keberadaan Aileen, dimana Deva kembali anfal memegang jantungnya.
'Ah, Sial ..' rutug Daffin, ketika harus melihat sang kakak kembali sakit.
TBC.
Sambil Tunggu Up, Aileen. Yuks mampir ke temen litersi Author.
__ADS_1