
Tidak mungkin, apakah hidup Aileen berakhir sad selamanya, apakah ini adalah takdirnya.
Hari di lewati begitu saja, Aileen yang sedang berlari di sekitar halaman rumah menatap sesuatu benda kecil hitam.
"Apa ini ..?"
Aileen menghubungi Ehsan dan menatap benda kecil itu, ia memotret dan mengirimkannya pada Ehsan.
Setelah beberapa saat, mendapat balasan, Ehsan segera menghampiri kediaman Aileen dengan cepat.
'Memang isinya apa sih, kenapa aku ga boleh buka?' batin Aileen.
Aileen berjalan ke kamar, ia mencoba ingin menempelkan pada laptopnya. Tapi ia urungkan karena ia tak bisa membuka tanpa izin dan terlihat ada kode sandi. Kesal Aileen, lalu ia segera meletakkannya di meja rias, bergegas pergi membersihkan diri.
"Ka Aileen .. ih kemana sih?" mendengar percikan air yang tergenang.
Alexi tau jika Aileen berada di kamar mandi. Ia menatap benda kecil itu dan dengan penuh memegangnya, memutarnya berkali kali di jentik tangannya. Merasa penasaran ia ingin membukanya. Alexi coba masukan ke dalam laptop Aileen. Karena ingin tahu isinya.
Tok .. tok, brag..., Alexi pun terkejut.
"Ka Ehsan, kok ke kamar?"
"Itu, flasdisk kakak kan ya, biar kakak ambil, sudah janjian juga temui Aileen disini."
Ehsan masuk, dan meraihnya karena takut dibuka. Tapi Alexi yang jahil ia tersenyum mencoba meninggikan benda itu di ujung tangan nya. Sehingga saling berhadapan dan saling meraih tangan mereka. Hingga dua wajah itu semakin dekat, Alexi yang bahagia menatap wajah Ehsan.
"Hay, kalian sedang apa di kamar kakak?" teriak Aileen kesal.
Ehsan menatap sempurna, ketika Aileen telah keluar dengan piyama handuk, dan melingkar rambutnya. Sehingga semua terdiam.
"Sudah, kalian keluar dulu. Kau Ehsan jika jatuh cinta pada adik ku, awas saja kau menyakiti. Jangan bucin di kamar gadis, kalian semua minggir tunggu di luar!"
Aileen menutup pintu dan berlalu mengganti pakaian, selama dua puluh menit berlalu. Aileen keluar menatap adik dan sahabatnya beradu bicara.
Tak lama mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Kalian, ributin apa sih?"
Aileen keluar menatap adik dan sahabatnya bersadar di tembok celah kamar.
"Adikmu ni Alexi, aku kan udah janjian benda itu milikku. Dia malah mau buka, privasi tahu. Kerjaan penting aku. Kalau coba copot sana sini, rusak gimana?" dalih Ehsan.
Aileen memarahi Alexi, mau tidak mau adiknya memberikan. Meski ia menjelaskan, jika ingin tahu dan aneh sekali kenapa ga boleh di buka.
"Alexi privasi tahu. Lagi pula kakak udah tahu isinya. Ga bagus kamu pasti ilfill!"
Mendengar penjelasan itu, Alexi traveling begidik apa yang ia bayangkan. Dan memberikannya ke tangan telapak Ehsan.
"Nih kak. Sory."
Ketika Alexi berlari, Aileen mengajak Ehsan ke teras halaman. Mereka mengeteh dan berbicara panjang akan bisnis bizard yang terhambat. Ehsan pun menatap diam, panas dingin tak karuan.
"Ail, kamu tadi udah liat semuanya ya. maaf ya!"
Aileen menatap Ehsan.
"Soal isi dari benda kecilku ini!"
Hahaha, Aileen tertawa, ia menjelaskan jika ia belum melihat isinya. Sempat ingin tahu, tapi ia tak pernah bisa untuk membuka tanpa izin.
Bahkan tersambung ada kode sandi, tidak lanjutkan oleh Aileen, hingga Aileen tertawa melihat expresi Ehsan.
"Udahlah Ehsan, aku tahu isinya pasti database penting kerjaan mu, dan wanita pujaan yang kamu bucin dulu kan. Kamu mengejarnya hingga ke belanda. Emang kamu udah sejauh itu ya, sama...,, ?
"Maksud kamu, Viona?" sambar Ehsan.
Ehsan mengangguk.
Syukurlah Aileen berfikir ke arah itu. Ehsan pun tak bisa mengelak dan berbicara panjang. Jika ia tak mempunyai wanita yang ia kejar. Karena dalam hatinya kini, ia ingin mengejar Aileen menumbuhkan masa lalu itu kembali.
Ehsan kok bengong? tanya Aileen.
__ADS_1
"Haah, ga ko cuma .. gini Ail, soal Bizard besok gimana kita ke puncak resort delbora!"
"Heuump .. untuk apa?" tapi balasan Ehsan untuk memotretnya dan sebagian parfum terkenal yang di rilis.
Bahkan ide Ehsan menurut Aileen memang bagus, ia pun mengikutinya. Karena usaha Bizard sudah menjadi bagian yang harus ia tekuni bersama Alexi.
"Kak, aku ikut ya?" sambar Alexi.
"Terus, yang jaga outlet Bizard siapa Al?"
Mau tidak mau, Alexi juga bingung. Jika bukan karena Ayah sakit. Alexi dan Aileen tak mungkin harus berjuang mempertahankan pabrik dan toko yang sudah berkembang puluhan tahun.
Jika tidak ada banyak ratusan karyawan yang bergantung padanya.
"Baiklah, akan aku tunjukan rasa baktiku padamu kakak. Alexi akan sepenuhnya fokus pada Bizard!"
Aileen tersenyum dan memeluk haru sang adik.
Tak lama Ehsan pamit. Dan seperginya Ehsan, kini Aileen telah di kamar. Alexi masuk dan bercerita. Jika ia menyukai Ehsan, seperginya kekasih Alexi yang meninggalkan.
Aileen menatap Ehsan sebagai kakak tertua yang penyayang, dan dewasa membuatnya berwarna.
"Kamu benaran tertarik sama Ehsan dik?"
Alexi mengangguk, Aileen pun memeluknya dan mensuport nya. Jujur Ehsan memang baik tapi, Aileen tak melupakan sisi kelam dan buruk kebiasaan Ehsan menceritakan sisi baik buruknya Ehsan pada Alexi.
"Itu kan, masa lalunya kak. Siapa tahu, sama Alexi dia berubah tidak play."
"Hais, gadis ini bebal sekali." ujar Aileen gusar menatap adiknya telah jatuh cinta.
TBC.
Sambil Tunggu Up, yuks mampir ke temen litersi Author.
__ADS_1