
Tiba dalam pekerjaan Aileen dengan hati - hati. Aneh sangat, serasa dirinya merasa terjebak akan perasaan benci menjadi sebaliknya pada bos yang ia anggap kriminal itu.
Tak lama ponsel dari Deva, jika malam ia akan menemuinya sebentar. Sebenarnya Deva mengajaknya ke rooftop, tapi karena kepentingan lain, membuat Deva tak jadi bicara dan hanya berpesan ingin melihat Aileen bahagia, dan baik baik saja
Aileen pun ingin menjawab Ya, tapi ia pun keruangan Daffin untuk meminta izin.
Tok. Tok.
"Boleh aku masuk?" ucap Aileen.
Ia mengetuk pintu, dengan menatap Daffin yang tersenyum ke arahnya, dan di sampingnya ada Livi yang seperti patung.
"Masuk sayang ada apa?"
Mendengar perkataan Daffin.
Livi, yang ada disampingnya, merasa ilfill karena pertama kalinya Daffin, memanggil dengan lembut mesra didepan oranglain, terutama aku asistennya meski sedang bertugas, tapi terkesan aneh dan pertama kalinya dibuat ingin muntah.
"Sa-yang, aku tidak salah mendengar Daffin?"
Livi menatap raut Aileen, yang merona malu,
"Ha, ada baiknya saya pamit, tak ingin mengganggu dua sejoli yang sedang dimabuk asmara." ucap Livi.
Lalu ia berlalu pergi, dan terhenti didekat Aileen dan berkata.
"Kamu buat Daffin seperti ini, apa yang kamu lakukan Aileen?" dengan menoleh ke arah Daffin, tentu saja Aileen tak mengerti.
Sehingga Livi tertawa dan berlalu.
"Dasar teman, asisten tak tahu diri, bisa - bisa nya meledek seorang pimpinan." lalu Daffin, mendekat pada Aileen dan berdiri saling menatap.
"Ada apa, apa kamu rindu aku, sehingga kamu datang?"
Aileen tersenyum dengan malas, ketika di puji jika aku rindu. Lalu Aileen menyodorkan sebuah pesan di ponselnya pada Daffin.
"Apa a-ku di izinkan bertemu, karena aku tidak ingin ada kebohongan, bagaimanapun aku tunangan kamu, jadi tak ingin ada yang disembunyikan. Apalagi semalam Deva datang, tapi sebentar ia sudah berlalu, tak jadi bicara." jelas Aileen.
Daffin pun membaca dengan lama dan akhirnya mengijinkan. Karena Aileen mengakui pertunangan dan cintanya bersemi.
"Baiklah jika ada apa- apa kabari aku, dia Deva, aku tak perlu cemburu karena aku yakin di akhir kamu akan menerimaku dan kamu ditakdirkan untuk menjadi istriku."
__ADS_1
'Daffin kamu benar membuatku jengkel, rasa percaya dirimu terlalu tinggi.' batin Aileen dan ia pun tersenyum mendekat, ke wajah Daffin, ia menatap Daffin dan menaikan kakinya ketika berdiri, tangan kanannya merangkul celah pinggang Daffin, berusaha mengambil suatu benda.
Sehingga Daffin berfikir lebih. Daffin menatap ranum bibir Aileen, dan memejamkan matanya ketika Aileen semakin dekat. Sedang Aileen menatap tertawa kecil, karena pikiran Daffin yang berlebihan dan bercabang.
"Dasar pria bodoh siapa yang ingin mengecup mu? aku hanya ingin mengambil ponsel dibelakang tubuhmu ini. Aku permisi tuan Daffin. Tugas pekerjaanku padat, masih banyak yang harus aku selesaikan, tidak ada waktu untuk bermesraan di kantor!"
Mendengar pujian manis menancap di hati Daffin kala itu, ia pun tertawa kecil.
"Hah wanita ku sudah bisa menggoda, lihat nanti pembalasanku Aileen!"gumam Daffin.
Ia pun tertawa dan duduk, mengingat kejadian semalam rasanya bagaikan candu dan rindu pada Aileen. Daffin tidak sabar akan menunggu empat minggu lagi tepat dua bulan untuk menghalalkannya.
"Aileen, ini revisi data klien siang ini untuk bertemu Tuan Hasa, hanya ada jadwal dihari ini dan belum tahu lagi ia bisa bertemu."
"Baiklah. Angel terimakasih selanjutnya biar aku selesaikan. Terimakasih dan sore ini aku minta laporan keuangan, karena pak Daffin memintanya!"
Selepas Angel pergi, Aileen pun menatap form klien nya itu, lalu ia segera menghubunginya.
Setelah jam makan siang, Aileen pun kembali keruangan. Ia pun menunggu Pak Daffin keluar dari ruangannya, yang kedatangan tamu klien untuk memperkuat jaringan It perusahaan mereka. Setelah selesai Aileen menghampiri Daffin di ruangannya.
"Apa kita jadi bertemu dengan tuan Hasa, untuk proyek yang mereka minta, di batam itu pak." Daffin yang terlihat lelah, tersenyum menatap Aileen.
Aileen pun tepat mendekat dan berdiri di samping kursi Daffin, atas perintah kode telunjuk.
"Lebih dekat lagi Ai, tangan ku pegal jadi tidak sampai, kemarilah aku ingin melihatnya!"
Tak lama Aileen mendekat, dan tali kemeja depan ditarik oleh Daffin, sehingga Aileen terjatuh di tubuh Daffin. Ia menopang merangkul tubuh Aileen, dan saling memandang. Bahkan wajah mereka hanya hitungan jengkal saling menatap.
"Daffin aku datang untuk .. Owh tidak baiklah aku keluar. A-ku tidak melihatnya!" ucap Livi, ketika tiba saja masuk ruangan.
Aileen pun membenarkan posisi ia berdiri, dan terdiam malu merapihkan tali kemejanya, yang di tarik sengaja oleh Daffin. Namun Daffin hanya tersenyum kecil.
"Ada apa Livi, kemarilah kau mengganggu saja." tutur Daffin, yang berdiri menghampiri Livi.
"Aku hanya memberi berkas penting ini saja tertinggal, kau ini Daffin, di kantor bisa bisanya, seperti itu?" Livi, sahabat sekaligus si tomboy tangan kanan Daffin, yang terkadang ceplas ceplos memanggil nama.
Aileen pun kesal dan malu, karena alibi seorang Daffn mengerjainya.
Aku wajahku menjadi malu karena sikap bodoh jahilnya.
"Hah, Itu tidak seperti yang kamu bayangkan Livi, aku hanya terjatuh tadi."
__ADS_1
Aileen menjelaskan, namun Livi sudah paham akan lelucon yang dibuat oleh Daffin, karena ia sudah ada lebih dulu saat mereka sebelum bertatap muka.
"Baiklah, segera akan aku bereskan, segera selesaikan pekerjaan mu Livi, karena aku dan Aileen akan bertemu dengan klien tuan Hasa group hore jaya abadi dengan tunanganku!"
"Pyuuh..serunya." lirih Livi menggoda.
Seperginya Aileen dan Daffin, semua mata memandang ketika Daffin berjalan dengan amat cool dan lurus pandangan. Sementara Aileen tersenyum disampingnya padahal rasa kantuknya benar benar tidak tahan, lalu Livi mengekor dari belakang yang akan menyetir, menggantikan supir terkait urgent.
Hingga sampai di dalam mobil, Livi yang menyetir, terlihat Daffin di belakang, memegang tangan Aileen saat itu juga. Pembatas hordeng di dalam mobil, gerik mereka dibelakang tidak akan tahu.
'Apa yang kamu lakukan?" bisik Aileen.
Ssst!
Daffin menyandarkan kepalanya, pada paha Aileen, yang dibatas oleh sebuah map. Hal itu membuat Aileen gila, bahkan terlihat aneh seorang bos bertingkah seperti bocah.
"Apa kamu tidak kepikiran, agar pernikahan kita dipercepat minggu ini?"
Hah?!
Wajah Aileen sedikit pucat, ketika tangannya telah masuk ke dalam kaitan kancing, mengunci Aileen hingga posisinya berubah, Aileen menatap dan dipangku Daffin, ada rasa menggeliat ketika Daffin membuka kaitan baju dan memainkan disana, hal itu membuat Aileen berteriak tapi di tutup tak bisa bersuara, karena Milik Daffin sudah menggesek gesek di bagian inti Aileen.
Arrrgh. Teriak Aileen.
Aileen membuka mata, ia amat terkejut dan menoleh ketika Daffin duduk menunggunya disebelah.
"Kamu sedang apa?" berdegub Aileen.
"Dua puluh menit lagi kita meeting, masih ada waktu untuk kamu cuci muka, kamu ketiduran Aileen. Apa kamu mimpi?" tanya Daffin lembut.
Astaga, bodohnya Aileen tertidur di dalam mobil, dan bermimpi melakukan itu bersama Daffin di dalam mobil.
"Maaf, aku akan bersiap." senyum Aileen, langsung membuka pintu mobil.
Cih, ada apa denhan dia seperti itu?! Lirih Daffin aneh.
TBC.
Sambil Tunggu up, mampir yuk ke temen litersi Author.
__ADS_1