Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Tidak Perhatian


__ADS_3

Selama perjalanan pulang menuju Jakarta, Zeline hanya diam. Ia merapatkan bibirnya tak tak berniat mengeluarkan sepatah kata pun.


Begitupula dengan King yang seperti tak menghiraukan keberadaan Zeline disisinya.


Bahkan saling melirik pun keduanya enggan, aura permusuhan sudah mulai di kobarkan.


Hingga tiba di Rest Area keduanya turun dari mobil, Zeline memilih untuk mencari toilet kemudian memesan kopi di cafe frenchise kopi ternama dari Amerika dengan harga diatas lima puluh ribu rupiah untuk satu cupnya.


Dari tempat duduknya Zeline bisa melihat kearah mobil King yang kini tampak kosong.


Dengan make up tipis dan baju casual, tak ada yang mengenalin Zeline. Ia asyik melamun sambil menikmati kopi favoritnya, sesaat kemudian ia dikejutkan oleh seorang pria bule yang duduk tepat dihadapannya.


Zeline mengedipkan mata berkali-kali sehingga bulu mata panjang dan lentik itu mengibas seperti kipas.


Pria bule itu tersenyum memperlihatkan gigi dan lengsung pipi dengan bulu halus disepanjang rahangnya.


"Hai Zeline.... " sapanya hangat.


"Ka Rangga?" panggilnya tak percaya.


Pria itu mengangguk dengan cepat, Zeline mencondongkan tubuh melewati meja bundar kecil yang memisahkan jarak keduaya lalu meraih leher Rangga dan memeluknya erat.


Rangga terkekeh membalas pelukan Zeline. Tanpa gadis itu sadari, tunangannya sudah mengetatkan rahang melihat adegan mesra tersebut saat akan memasuki mobil.


"Bukannya Kaka sekarang tinggal di California? Sedang apa di disini? Sampai kapan disini? Minggu lalu Ka Ken baru saja pulang kembali ke London" cecarnya dengan bertubi pertanyaan setelah pelukan itu terlepas.


Kedua matanya berbinar dan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Hei.. Hei satu persatu-persatu" dengan logat bulenya Rangga mengangkat tangan didepan dada mengarahkan telepak tangan pada Zeline.


Zeline malah tertawa renyah dibuatnya. Ia masih ingat saat kecil bersama Ken sering membully Rangga karena logatnya.


Rangga merupakan tetangga Zeline, tapi setelah kedua orang tua Rangga bercerai, Daddy Rangga membawanya ke California untuk menjadi penerus perusahaan Daddynya itu. Sedangkan Mommynya memilih menetap di Jakarta bersama Mikaila, adik dari Rangga yang seumuran Zeline.


"Aku baru saja dari Bandung menjenguk Mikaila, dia kini kuliah di Bandung!" menjawab satu pertanyaan Zeline.


"Menjenguk?" Zeline mengernyitkan dahinya.


"Oh Sorry... I mean, mengunjungi" ralatnya.


Zeline terkekeh...


"Ka Rangga belum berubah ya!"


Rangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Pandangan tajam King masih mengarah pada kedua manusia berbeda gender yang tengah asyik berbincang. Bahkan tangan Rangga tak lepas menyentuh jari Zeline diatas meja.


"Aku ada disini selama beberapa minggu ke depan, ada urusan yang harus aku selesaikan disini... Aku memang sudah janjian dengan Ken, tapi sayang aku terlambat datang karena ada beberapa meeting yang harus aku hadiri di California" tambahnya menjawab seluruh pertanyaan Zeline.


Zeline hanya ber Oh ria.


"Kamu dari mana?" tanya Rangga sambil menyeruput kopinya.


"Aku dari rumah Kakek... " jawab nya singkat.


"Bagaimana kabar mereka?"


"Baik... Terimakasih, sudah bertanya" jawab Zeline lagi.


Zeline menatap Rangga dengan intens, masih terbayang diingatannya tentang masa kecil mereka.


"Kenapa? Kamu merindukan pangeran mu ini?" Rangga merentangkan tangannya dengan gestur bersiap bila Zeline memeluknya lagi.


Zeline tertawa terbahak-bahak dan menggelengkan kepalanya, ia Teringat semasa kecil, sangat mengagumi Rangga karena kulit dan rambut juga mata Rangga berbeda dengan kebanyakan orang di negaranya.

__ADS_1


Dulu Zeline menganggap Rangga adalah seorang pangeran dan ia ingin menjadi seorang tuan putri untuk Rangga. Bahkan di saat ulang tahun ke 10 , Zeline make a wish ingin menikah dengan Rangga sebelum meniup lilin. Dan harapan itu ia ungkapkan dengan lantang didepan semua orang yang ada dipesta ulang tahunnya termasuk Rangga.


"Tentu saja... " jawan Zeline.


Tin... Tiin.... Tiiin....


Bunyi suara klakson mobil sport King menggelegar seperti suara halilintar ditelinga Zeline.


Sontak Zeline mengalihkan pandangannya kearah mobil, kaca mobil itu perlahan terbuka dengan wajah King dan kacamata hitamnya perlahan terlihat seiring menurunnya kaca mobil tersebut.


"Ka Rangga... Nanti kita sambung lagi ngobrolnya, aku duluan ya!" pamit Zeline kemudian mencium pipi Rangga sekilas dan berlalu setengah berlari menghampiri mobil King.


Ia tau King sedang kesal karena sedari tadi mobil sport itu menderukan suara knalpot bisingnya.


Zeline masuk kedalam mobil lalu memasangkan sabuk pengaman, tubuhnya tersentak kebelakang saat King menginjak pedal gasnya.


Seperti seorang pembalap, King mengemudikan mobil dengan kecepatan kencang.


Zeline mengeratkan pegangan pada seatbelt yang menyilang didadanya, nafasnya memburu dan ekspresi panik sudah tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.


"King... Pelan-pelan... " pinta Zeline dengan suara yang rendahnya.


Tapi King menulikan telinga, ia bahkan mempercepat laju mobil sport dengan ribuan tenaga kuda tersebut, ia membelokan stirnya ke kiri lalu kekakanan untuk menyalip kendaraan didepannya, bahkan bahu jalan pun ia lewati demi bisa menyalip kendaraan-kendaraan yang menurutnya lambat itu.


Zeline merasakan sakit dikepalanya, keringat sudah membasahi keningnya, pendingin udara di dalam mobil seolah tidak bekerja dengan baik.


King bahkan bahkan mengerem sesuka hati saat jalanan didepannya terhalang oleh mobil.


"Kiiiiingg.... Awaaaas!!!" teriak Zeline saat mobil itu hampir saja menabrak mobil didepannya.


Seringai King terbit disudut bibir, ia mengerem lalu menambah kembali laju kendaraanya.


"Hiks... Hiks... " terdengar isakan Zeline membuat King melirik gadis itu sekilas.


"King... Berenti, aku mau muntah" ucap Zeline lirih.


King menghembuskan nafas kasar lalu menepikan kendaraannya karena ia tidak ingin Zeline mengotori interior mobilnya yang berharga satu mobil mewah lainnya, dengan muntahan.


Setelah mobil menepi dan kunci itu terbuka, Zeline keluar lalu membungkukan tubuhnya 90 derajat. Semua cairan dan sarapan paginya keluar begitu saja.


King memalingkan wajahnya kearah lain dengan kesal.


Setelah dirasa semua isi perutnya sudah kosong dan tidak ada lagi yang dapat dimuntahkannya, Zeline kembali masuk kedalam mobil.


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di jok mobil dengan lemas, wajahnya sudah pucat pasi.


"Nih minum" dengan kasar King menyodorkan air mineral botol pada Zeline.


Tapi tubuh Zeline terlalu lemas untuk menggapainya, nafas gadis itu masih memburu, jejak keringat dan air mata masih setia menempel di wajah cantiknya.


"King... " panggilnya lirih dengan bibir sedikit terbuka.


Zeline merasakan pandangannya kabur, ia terlalu lemas untuk membuka matanya.


"Zeline... Hey, bangun" King menggoncang tubuh Zeline.


Zeline sudah tidak bisa merasakan tubuhnya, ia masih mendengar sayup-sayup suara King memanggil namanya, hingga pandangannya semakin gelap dan tidak sadarkan diri.


King menepuk-nepuk pipi Zeline masih memanggil namanya, tapi mata cantik itu tak mau terbuka juga.


King meraih tubuh Zeline kedalam pelukannya, pria itu sangat khawatir saat merasakan suhu tubuh Zeline yang dingin tapi keringat tidak berhenti membanjiri keningnya.


King dilanda kekhawatiran yang begitu besar, awalnya ia berpikir bahwa Zeline sedang berakting tapi sekarang ia yakin Zeline sedang pingsan dengan tubuh lemahnya.


Ia kembali menancapkan gas menuju rumah sakit milik Papi Zach, dalam perjalanan King menghubungi Om Aksa, kakak dari Mami Azuri yang menjadi direktur di rumah sakit itu, memberitahu kondisi Zeline agar Om Aksa bisa menyiapkan segala sesuatunya disana.

__ADS_1


*****


Zeline mengerjap menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu diruangan itu, ruangan dengan dominasi warna putih dan bau menyengat.


Tangannya terangkat memijat pelipis yang dirasanya sangat sakit, ia mencoba bangun tapi lagi kepalanya terasa sakit.


"Sshh.... " desis Zeline saat hendak menyandarkan tubuhnya.


"Mau kemana?" suara bariton sexy itu mengehentikan maksud Zeline.


King melangkah mendekati ranjang dimana Zeline sedang terbaring, ia memencet tombol sehingga ranjang bagian atas terangkat dan Zeline tidak perlu repot-repot bangun untuk hanya sekedar menyandarkan tubuhnya dalam posisi setengah duduk.


"Cukup?" tanya King


Zeline mengangguk.


"Haus... " ucap Zeline lirih.


King menuangkan air didalam gelas kemudian memberikannya sedotan agar Zeline mudah meminumnya.


Ekspresi wajah pria itu terlihat datar dan tidak banyak bicara, ia pun malas walau hanya sekedar menanyakan keadaan Zeline.


"Kenapa aku ada disini?" tanya Zeline


"Kamu pingsan,bikin susah saja!" saut King dengan ketus.


"Gara-gara kamu!" seru Zeline tak kalah ketusnya.


King menautkan alisnya tidak terima. Tapi ia juga tidak ingin berdebat dengan makhluk manis yang kini terbaring lemah itu.


King mendorong meja kecil yang diatasnya terdapat makanan sehat yang disiapkan oleh rumah sakit, pria itu terus mendorongnya hingga ke ranjang Zeline.


"Makanlah... " titah King dengan membuka plastik wraping yang membungkus bagian atas piring dan mangkuk berisi makanan.


"Suapin...," rengek Zeline manja.


Bukannya Zeline ingin bermanja-manja dengan playboy cap kampak itu tapi saat ini tubuhnya benar-benar lemas dan ia pun ingin memberi pelajaran kepada pria itu karena sudah membuatnya mendapatkan serangan panik dan terbaring di rumah sakit ini.


"Minta saja pria di Starbuck itu yang menyuapi mu!" seru King dengan tatapan tajam.


"Heuh?" Zeline tak mengerti apa maksud King dan kenapa ia bisa semarah itu.


"Aku lemes King... Suapin aku ya?" pintanya lagi dengan suara rendah dan mata sayu.


King membuang nafas kasar, ia duduk disisi ranjang tangannya terulur mengambil sendok lalu memotong steak salmon dan menambahkan sedikit nasi tim kemudian menyuapkannya kemulut Zeline.


Sesekali ia menyendokan sup dan menyuapkannya kembali ke mulut Zeline.


King tak henti mengerutkan dahi, wajahnya terlihat seperti terpaksa tapi tangannya tetap memberi perhatian dengan menyuapkan makanan untuk Zeline hingga semua tandas tak bersisa.


Zeline memang sangat lapar setelah semua makanan yang ia muntahkan tadi di jalan tol, belum lagi ia sudah pingsan beberapa jam.


"Orang tua ku sudah tau?" tanya Zeline setelah meneguk habis air mineralnya.


"Belum... Buat apa? Orang tua ku juga tidak tahu, kau hanya pingsan tidak usah membuat semua orang repot! Setelah cairan infus ini habis, kita pulang!"


"Setidaknya beritahu Anin, karena besok aku ada pemotretan, biar Anin merubah jadwal ku!"


"Kau hanya pingsan Zeline! Cukup istirahat, kau sudah bisa beraktifitas lagi besok, bahkan kau sudah bisa main bola selama 90 menit bila perlu" sanggah King.


"Hah... " Zeline menghembuskan nafas kasar.


Memang King tidak ada perhatian-perhatiannya, Zeline yang merasakan tubuhnya sangat lemah tapi pria itu keukeuh seperti mengerti kondisinya saat ini.


Gadis itu memilih untuk memejamkan kembali matanya, ia masih lemas untuk berdebat dengan pria tampan menyebalkan itu.

__ADS_1


__ADS_2