
Dua hari kemudian Ian mendapatkan notifikasi kembali di email Ilham yang berada di ponselnya bahwa pria itu sudah memesan tiket kapal untuk menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak.
Ian menghela napas kasar. Itu artinya kemungkinan dia sampai Jakarta malam hari...
Selama dua hari Ian di rumah kedua orang tuanya pun Ia sama sekali tidak bisa menghubungi pria itu. Ia sudah menelfon dan mengirim pesan layaknya rentenir yang sedang meneror namun hasilnya tetap tidak ada jawaban. Ia sangat kesal. Ilham bisa memegang ponsel untuk melakukan berbagai transaksi yang Ia lihat di email, namun mengapa pria itu tidak bisa mengangkat telfon darinya atau bahkan hanya sekedar mengirimkan pesan? Ian tidak habis pikir dengan tingkah suaminya.
"Ma, ada Om Yoyo baru dateng di luar". Ucap Varo tiba-tiba datang memberitahu Ian.
Ian menoleh pada putra nya yang sudah besar. "Biarin aja.. Nanti juga dia masuk kok.. Kamu udah makan?".
"Udah, Ma. Ma.. Papa kapan pulangnya sih?".
"Kemungkinan malam ini sayang.. Kenapa?". Tanya Ian.
"Memang nya Papa udah hubungin Mama?".
Ian terdiam sejenak. "Iya.." Ucap Ian singkat. Ian terpaksa berbohong pada Varo karena Ia tahu bahwa Varo anak yang sangat kritis. Putra sulungnya itu sangat sensitif dengan segala perubahan yang terjadi di sekitarnya termasuk dengan situasi kedua orang tuanya.
"Ilham pulang hari ini?".
Ian dan Varo menoleh ke belakang dan melihat Rio yang berada tak jauh dari mereka.
Ian mengangguk. "Kayaknya malam ini sampai sih..."
Rio tak menanggapi. Pria itu langsung merangkul Varo layaknya antar lelaki. "Waduh ini anak bujang Om Yoyo.. Kita ke mall yuk mau gak hari ini? Pasti mall sepi sih.."
Mendengar ucapan Rio, Varo lantas menoleh ke arah Ian dengan raut wajah berbinar. "Boleh gak Ma?".
Ian menggelengkan kepalanya. "Gak boleh. Kamu lupa kalau ada les math jam 2 siang?".
__ADS_1
Varo terlihat cemberut.
"Bolos sekali gak apa-apa lah.." Ucap Rio.
"Gak bisa, Yo.. Pelajaran sekolahnya itu makin sulit.. Apalagi Math.. Kayaknya pelajaran anak sekarang materi nya lebih cepat deh di banding kita dulu.. Kayak materi math yang kita pelajarin di kelas 5 malah sekarang tuh udah ada di materi kelas 3".
Rio manggut-manggut paham. Ia melirik Varo yang masih menunjukkan raut wajah cemberut.
"Ya udah pas Varo libur aja atau lagi gak ada jadwal les baru kita ke mall ya.. Lagipula masih sekolah online via zoom kan?".
Varo mengangguk tak membangkang dan pergi meninggalkan Ian dan Rio.
Ian benar-benar mendidik putranya dengan baik seorang diri. Ya benar hanya dirinya yang 80% mendidik putranya sendirian. Kontribusi Ilham selama ini dalam memberikan perannya sebagai seorang ayah sangatlah minim sedari anak-anak mereka masih kecil. Bagi pria itu, pulang ke rumah hanyalah sekedar untuk tidur tanpa repot-repot berinteraksi dan membangun hubungan yang mendalam dengan anak-anaknya. Bahkan pria itu pun tidak suka jika dirinya di ganggu saat sedang asik bermain ponsel.
"Lo jangan keras banget sama anak-anak lo lah, Ian". Sahut Rio.
"Gw gak keras. Gw hanya mengajarkan mereka disiplin sejak dini. Dua anak gw itu lelaki. Gw harus mendidik mereka dengan benar. Supaya mereka jadi pribadi yang bertanggung jawab dan bisa memilah mana prioritas dan mana yang tidak".
"By the way, Ilham memang nya udah hubungin lo? atau lo yang berhasil hubungin dia?".
Ian tersenyum kecut. "Gw lihat dari email lagi.. Dia sama sekali gak angkat telfon atau kirim pesan ke gw. Semua aktiiftas hotel atau apa, gw tau dari email nya".
Rio mendesah pelan. "Jujur aja gw bingung mau menanggapi seperti apa. Lo terlihat baik-baik aja. Menjalani kehidupan seperti biasa. Tapi gw gak pernah tau apa yang terjadi lebih dalam.."
Ian menoleh ke arah Rio yang melangkah mengambil air mineral di dalam kulkas. Matanya mengamati setiap pergerakan kecil dari pria itu. Rio meneguk air mineral sampai habis setengah botolnya.
"Tapi... mau sampai kapan lo berada di dalam hubungan yang gak sehat?". Ucap Rio seraya menaruh botol air mineral nya tepat di depan Ian.
Ian mengedikkan bahunya. "Memangnya hubungan gw dan dia gak sehat ya?".
__ADS_1
Rio menatap intens manik mata Ian. Kedua tangan pria itu bersedekap di dada.
"Kalau menurut gw iya gak sehat. Lo dan dia adalah suami istri Ian.. which is your relationship tuh lebih dalam dari pada sekedar pacaran. Orang pacaran aja kayaknya masih lebih bagus interaksinya gw rasa sih kalau di bandingin dengan interaksi lo dan Ilham".
Mendengar penuturan Rio, Ian tersenyum kecut. Mau bagaimana lagi? Sejak awal gw sudah salah langkah..
"Walaupun gw masih punya rasa dengan lo, tapi gw berharap yang terbaik untuk lo. Untuk anak-anak lo. Gw tau pernikahan gak hanya sekedar pacaran yang mudah untuk pisah. Banyak hal yang harus di pikirkan. Tapi lo tau? Gw lama-lama bisa gila ngeliat lo yang kadang datang nangis ke apartemen gw atau ngajak gw kebut-kebutan di jalan malam hari dan lo gak pernah menjelaskan apapun ke gw!".
Ian menatap Rio dengan tatapan yang tak bisa di artikan. "Apa mungkin kalau gw kembali ke masa lalu, semua bisa berbeda?".
Rio menggelengkan kepalanya. "Jangan berandai-andai. Kebanyakan orang yang berandai tentang kembali ke masa lalu adalah orang yang mempunyai penyesalan besar di masa sekarang".
"Apa lo sekarang lagi menyesal? Menyesal karena menikah dengan Ilham atau menyesal dengan hal lain?". Lanjut Rio dengan menatap Ian sangat tajam.
Gw menyesal karena apa? Apa karena menikah terlalu cepat dengan Ilham tanpa mengenali lebih dalam karakter pria itu? atau jauh dari itu...?
"Heh! Malah melamun!". Ucap Rio seraya menepuk pundak Ian.
Ian terkekeh menampakkan barisan giginya yang rapih.
"Lo mau brownies gak, Yo? Gw kemarin bikin sama mama. Enak banget lho..." Ian beranjak berdiri melewati Rio dan membuka kulkas yang berada dibelakang pria itu.
Rio yang sadar jika Ian lagi-lagi mengalihkan pembicaraan hanya bisa menghela napas. Manik mata pria itu menatap Ian yang tengah membungkuk mengambil sekotak brownies dari dalam kulkas.
Bikin gw frustasi terus tanpa ngejelasin apapun, lama-lama gw cium lo!
Omel Rio dalam hati seraya menatap Ian yang sedang memotong brownies di sebelahnya.
Hadir๐๐๐
__ADS_1
Kecup hangat dari aku!๐