Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 94


__ADS_3

Malam Hari


Tepat pukul 7 malam Rio mengantarkan Ian kembali ke rumah kedua orang tuanya. Sesaat setelah mobil memasuki halaman rumah, tidak ada dari keduanya baik Rio maupun Ian yang terlihat akan keluar dari mobil. Masing-masing dari mereka masih sibuk dengan pikiran nya sendiri.


"Yo.. Please..." Ucap Ian pelan.


Rio mengusap wajah nya kasar. "Jadi lo tetap bersikeras minta gw untuk tutupin hal ini dari kedua orang tua lo? Sama aja gw bantu laki lo main gila, Ian!".


Ian menggelengkan kepala nya. "Lo hanya bantu gw mengulur waktu untuk memikirkan semuanya. Bukan demi Ilham tapi demi gw.. demi anak-anak gw".


"Tapi nyokap bokap lo berhak tau semuanya. Kenapa sih lo selalu nutupin masalah yang lo alami dari mereka? Bahkan dulu pun lo sampai mohon-mohon ke gw untuk gak beri tahu kehamilan lo. Dan sekarang lo minta gw untuk jangan kasih tau perilaku suami lo!". Cecar Rio kesal. Pria itu tak habis pikir dengan jalan pikiran Ian.


"Gw akan kasih tau semuannya ke bokap nyokap gw. Tapi bukan malam ini juga, Yo. Tolong lah... Seharian ini gw nangis, nangis dan nangis. Rasanya gw gak punya kekuatan buat hadapin segala pertanyaan dari orang tua gw kalau sekarang lo bongkar".


Rio menggenggam kedua tangan Ian yang bergetar. "Ada gw Ian. Gw akan temanin lo".


"Jangan... Gw gak mau lo ikut terseret. Ini masalah rumah tangga gw. Jadi biarkan gw yang selesaikan. Gw gak akan berdiam diri lagi.. Lo bisa pegang perkataan gw. Please?" Ian menatap manik mata Rio dengan tatapan memohon.


Rio menghela napas perlahan. "Sial.. Gw selalu kalah kalau lo kasih tatapan puppy eyes begitu".


Ian tersenyum manis. Tak lama keduanya pun beranjak keluar dari mobil dan melangkah menuju ke dalam rumah. Baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu, sudah terdengar suara tawa menggema dari dalam rumah. Ian tersenyum sekilas. Suara yang di dengarnya adalah suara tawa Varo dan Kai. Ia rindu dengan kedua putra nya.


"Mama! Mama! Mama pulang!". Kai nampak berlari kencang dan memeluk paha Ian dengan erat. Ian segera mengangkat Kai ke dalam gendongan nya dan mencium gemas pipi bocah 2 tahun tersebut.


"Om Yoyo gak di sapa nih?". Ucap Rio menggoda. Kai pun menoleh dan segera merentangkan kedua tangan nya lebar-lebar minta di gendong oleh Rio. Dengan sigap Rio pun mengambil alih Kai dari Ian dan berjalan menghampiri Imran dan Varo yang sedang bermain monopoli.


"Abang Varo memang nya ngerti main monopoli?". Tanya Rio.


Varo mengangguk. "Ngerti dong, Om. Aku udah di ajarin kakek. Lihat nih uang aku banyak dan aku udah beli banyak rumah!". Ucap Varo antusias seraya menunjukkan lembaran uang mainan yang berada di tangan nya.


"Kalian dari mana saja?". Tanya Imran menatap Ian dan Rio silih berganti.


"Aku bawa dia ke pantai, Om. Kasihan baru keluar dari sangkar biar lihat dunia hehee". Sahut Rio terkekeh.

__ADS_1


Imran tersenyum. "Tadi Rivan titipin beberapa tas. Katanya punya kamu semua. Sudah Bik Sum taruh di kamar kamu". Imran beralih menatap Ian.


"Iya, Pa". Sahut Ian singkat walau dalam hati nya sungguh Ia takut. Rivan gak ngomong apa-apa kan ke bokap gw?! Batin Ian bertanya-tanya.


"Bersihkan lah diri kamu dulu". Ucap Imran. Ian lantas mengangguk cepat.


"Apa kalian sudah makan malam?". Tanya Imran lagi seraya menatap Ian dan Rio.


"Belum sih, Om. Tapi aku makan di apartemen aja deh. Aku mau langsung pulang sekarang. Tadi siang aku ninggalin kantor begitu aja. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga". Ucap Rio.


Imran mengangguk paham. Tak lama Rio pun berpamitan dengan Imran. Ian mengantarkan Rio hingga ke teras. Cukup lama pria itu menatap Ian. Manik mata Rio memindai penampilan Ian yang terlihat kusut. Mata yang sedikit bengkak karena banyak menangis. Rambut yang di gelung asal. Rio mengulurkan tangan nya merapihkan anak rambut yang menjuntai berantakan di dahi Ian.


"Seharusnya gw gak boleh begini sama istri orang hehehe.."Ucap Rio seraya terkekeh. "Lo yang kuat ya hadapin semua ini". Rio menatap tajam ke dalam manik mata Ian.


Ian mengangguk. "Pasti, Yo". Bibirnya mengulas senyum. Rio pun berbalik badan dan melangkah menuju mobil nya. Tanpa menoleh ke belakang lagi, pria itu segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Ian.


Baru 5 menit Ia mengendarai mobil nya dan masih berada di dalam kawasan perumahan Ian, Rio menepikan mobil nya di pinggir lapangan basket. Ia menatap kosong ke depan. Jalan perumahan elit tersebut terlihat sepi walau malam belum begitu larut.


Rio mengambil ponsel nya dari dalam tas kecil nya. Ia terlihat serius mencari nomor seseorang di dalam daftar kontak nya. Rio menatap sejenak dan mendial nomor tersebut.


"Bisa ketemuan, Bro?". Ucap Rio tanpa basa basi.


Satu jam kemudian


Rio memasuki pelataran parkir sebuah bar yang terletak di sebuah kawasan hiburan terkenal di Ibu Kota. Rio terdiam sesaat di dalam mobilnya. Manik mata nya hanya menatap ke sebuah pintu yang di jaga oleh dua orang security berseragam hitam.


Rio pun beranjak keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam bar setelah melewati beberapa pemeriksaan di pintu masuk. Dentuman musik cukup memekakkan indera pendengaran nya. Ia memindai sekitar bar dan menemukan sesosok pria yang memang sedang menunggunya.


Rio melangkah mendekati pria tersebut dan menepuk perlahan pundaknya dari belakang. Pria itu pun dengan cepat menoleh.


"Udah lama nunggu?". Tanya Rio seraya duduk di sebelah pria itu.


"Baru 15 menit lah. Ada apa tiba-tiba ngajak gw ketemu di luar, Bro?".

__ADS_1


Rio menatap sejenak mata pria itu dan menghela napas kasar. "Ian kemana?".


Pria itu pun mengerutkan kening nya tak mengerti. "Maksud lo? Kenapa lo tanya Ian? Biasanya lo langsung hubungi dia".


Pria yang tak lain Ilham itu merasa heran. Rio tiba-tiba mengajak nya bertemu di luar dan hanya untuk menanyakan Ian?


"Dia istri lo.. Jadi wajar lah kalau gw tanya dia sama lo. Kecuali kalau dia istri gw, pasti gw gak akan tanya sama lo, Bro". Rio menatap Ilham dengan senyuman tipis.


"Lo ajak gw ketemu hanya untuk nanyain Ian? Memang nya dia gak bisa di hubungi sampai lo harus ajak gw ketemu tiba-tiba kayak gini?". Tanya Ilham masih tak mengerti.


"Iya, Ian kemana?". Ucap Rio singkat.


Ilham terdiam sejenak menatap Rio. "Jam segini dia ada di rumah lah dengan anak-anak, Bro. Mau kemana lagi dia?".


Rio menghela napas nya. Tangan nya mengepal kuat.


"Lo yakin istri lo di rumah?".


Ilham menatap Rio seraya berpikir. "Tunggu.. Kayaknya lo ajak gw ketemuan bukan untuk tanyain istri gw aja kan?".


Rio mengedikkan bahu nya acuh. "Gw hanya mau mengkonfirmasi sesuatu hal sama lo".


Ilham mengerutkan kening nya. "Mengkonfirmasi tentang hal apa?".


Rio menatap tajam pria yang ada di hadapan nya. "Gimana rasanya jalan sama cewek yang lebih muda?".


......______________......


Satu bab dulu malam ini🙏


Rio mengkonfirmasi ke Ilham...


Di sisi lain skrg aku perlu mengkonfirmasi beberapa hal dgn narsum karena aku tidak mau melenceng dari realnya.

__ADS_1


Kecup hangat dariku!😘


__ADS_2