
"Tolong jangan seperti ini, Yo.. Kalau gw begini, apa bedanya gw dengan Ilham? Gw selingkuh...'"
Ian mendongakkan kepalanya menatap Rio. "Dan lo juga gak pantas jadi pebinor hanya untuk wanita seperti gw.."
Keduanya saling bertatapan sejenak. "Maaf.. Maafin gw..." Ujar Rio seraya memeluk tubuh Ian dengan erat.
Rio membawa Ian ke sofa yang berada di living room apartemen nya, "Maafin gw. Gw tau gw lelaki brengsek juga di mata lo.. Tapi....." Rio mengusap wajah nya kasar.
"Gw perlu waktu, Yo. Semua ini gak mudah buat gw laluin. 9 tahun pernikahan itu gak sebentar bahkan beberapa bulan lagi menginjak 10 tahun hehehe.." Ian tersenyum miris.
"Walau lebih banyak hal yang menyakitkan tapi gw gak menampik pasti ada sedikit hal yang membawa suka cita dalam perjalanannya..."
Rio menyandarkan punggung nya ke sofa. "Gw tau itu, Ian. Gw juga menyerahkan semuanya ke lo. Apapun keputusan lo, semoga itu yang terbaik. Gw hanya mau melihat lo bahagia... Kalaupun kebahagiaan lo bukan sama gw, gw bisa apa?".
Rio menoleh pada Ian yang tengah tersenyum simpul seraya menatap jari jemarinya yang saling bertaut.
"Gw sebenarnya udah ambil keputusan terkait pernikahan gw. Tapi gw gak berpikir untuk punya hubungan dengan lelaki lagi dalam waktu dekat setelah semuanya usai... Terlalu menyakitkan.."
Rio menatap Ian dengan mulut terkatup rapat. Pikiran nya bercabang. PR gw berat banget sepertinya buat meyakinkan dia nanti...
Rio menegakkan tubuh nya menghadap ke arah Ian. Matannya menatap lurus pada wanita di sebelahnya itu.
"Gw mau tanya sesuatu boleh?". Ucap Rio.
Ian mengerutkan keningnya. "Sejak kapan lo minta izin buat tanya sesuatu sih?".
Rio tak menjawab. Matanya mengamati wajah Ian dengan seksama seakan berusaha mencari sesuatu.
"Apa sih, Yo? Liatin gw gitu banget!". Omel Ian sambil memalingkan wajahnya.
"Kenapa lo gak pernah bilang kalau lo berkunjung ke psikolog?". ucap Rio akhirnya.
Raut wajah Ian terkejut. "Lo tau dari mana? Apa Rivan ngasih tau lo?".
Raut wajah Rio merengut. "Jadi, Rivan tau?".
Ian mengangguk. "Dia memang tau karena gw yang ngasih tau. Apa lo tau dari dia?".
"Jadi dia tau sedangkan gw gak tau? Gw gak penting banget buat lo ya sampai hal seperti ini lo gak kasih tau gw?".
"Pertanyaan di jawab pertanyaan!". Ucap Ian kesal.
"Kenapa lo gak kasih tau gw?".
__ADS_1
"Karena gak penting juga lo tau!". Ucap Ian.
"Semua hal tentang lo itu penting buat gw, Ian!". Rio kesal karena Ia merasa Ian tidak terbuka dengan kondisi nya.
"Lo tenang aja. Gw belum masuk fase gila kok. Gw masih waras".
Rio merengkuh kedua pundak Ian agar wanita itu menghadap ke arahnya. "Jangan pernah sembunyiin apapun lagi dari gw. Lo paham?".
Ian menepis kedua tangan Rio yang memegang pundaknya. Wanita itu berdiri dan menoleh ke arah Rio yang masih duduk di sofa.
"Gw hanya gak mau terlihat rapuh di mata lo, Yo. Gw masih baik-baik aja. Lo gak perlu kuatir". Ucap Ian lalu melangkah meninggalkan Rio.
6 Bulan Kemudian
Tap.. tap.. tap..
Suara khas dari sepatu hak tinggi bergema di lantai marmer berwarna kecokelatan yang berada di sebuah lobby perusahaan. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang hitam tergerai indah. Tubuhnya yang ramping bak seorang gadis di balut dengan kemeja putih dari bahan chiffon dan di padu dengan midi skirt dari bahan tweed yang berwarna pink pastel begitu pas di lihat oleh setiap mata memandang.
Wanita itu memasuki sebuah lift khusus untuk para eksekutif perusahaan, beberapa orang menyapa nya.
"Banyak pengagum nya nih kayaknya di kantor ya". Ucap seorang pria dari arah belakang.
Wanita itu menoleh ke belakang dan mengulas senyum manis. "Katanya mau WFH aja hari ini? Kok datang ke kantor?".
Wanita yang tak lain adalah Ian, tertawa keras mendengar celotehan Rio yang menurutnya berlebihan.
"Lebay lo!". Ucap Ian seraya menatap ke angka yang berada di atas lift.
"Gw serius. Lo harus gw jaga ketat kalau di kantor".
"Mana ada yang berani dekatin gw sih? Semua orang tau lo tuh protektif banget kalau menyangkut tentang gw". Ian terkekeh.
Rio mengulas senyum. "Mereka memang harus tau diri dengan siapa mereka berhadapan kalau mau dekatin lo".
Ting!
Pintu lift pun terbuka. Rio dan Ian melangkah keluar dan mengarah ke ruang kerja yang sangat nyaman dan cukup luas. Keduanya pun segera memulai aktifitas pekerjaan mereka.
Siang hari Ian meminta izin pada Rio untuk bertemu seseorang di cafe yang berjarak 2 gedung dari gedung tempatnya bekerja.
Setelah mendapatkan izin keluar dari Rio, Ian segera pergi menuju cafe tersebut dengan berjalan kaki. Ia memindai ke seluruh penjuru cafe yang belum terlalu ramai. Ia benar-benar mengamati satu per satu orang yang sedang duduk di dalam.
Terlihat seorang pria yang melambaikan tangan ke arahnya. Ian tersenyum walau tak terlihat karena saat ini Ia sedang memakai masker. Ia lalu berjalan menghampiri meja pria tersebut.
__ADS_1
"Maaf telat.." Ucap Ian.
Pria itu mengangguk. "Gak apa. Saya juga baru saja 5 menit duduk di sini".
"Langsung saja ya... Agar kita menghemat waktu".
Ian mengangguk.
Pria tersebut mengeluarkan beberapa berkas dan sebuah map yang bertuliskan "Pengadilan Agama". Ian mengamati gerak gerik pria yang merupakan seorang pengacara yang di tunjuk oleh Imran untuk mendampingi Ian.
"Saya sudah bertemu dengan suami anda. Ia bersikeras tidak ingin menjatuhkan talak. Di sini ada beberapa kendala yang menurut saya akan memberatkan anda tapi tidak akan menjadi rintangan besar".
Ian mendongakkan kepala menatap pengacaranya. "Apa itu, pak?".
"Suami anda tidak lalai menafkahi anda dan kedua anaknya setiap bulan hingga saat ini walau memang nafkah batin sudah sejak lama tidak terjadi. Ia pun tidak pernah memukul anda bukan?"
Ian mengangguk seraya menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Ada beberapa hal yang akan menjadi fokus hakim ketika istri yang menggugat cerai suaminya. Namun saya kira, bukti dari psikolog yang menjelaskan kondisi mental anda dan beberapa bukti perselingkuhan yang di lakukan oleh suami anda juga tak luput kekerasan verbal yang anda alami dalam rentang waktu pernikahan tersebut bisa memberatkan dirinya di depan hakim".
Ian menghela napasnya berat. Sebenarnya kini Ia sudah hidup dengan lebih nyaman. Memang Ia sadari bahwa jika di saat terpuruk yang di butuhkan oleh dirinya adalah support system yang baik dari sekelilingnya dan Ia mendapatkan itu. Namun Ian paham jika dalam melewati semua ini haruslah membuka luka lama nya kembali. Berbagai hal harus Ia ungkap kembali yang selalu berakhir menorehkan luka di hati kembali terbuka.
Satu jam Ian berdiskusi mengenai proses perceraiannya yang mana Ilham tetap bersikeras menolak. Walau Ia sudah tidak tinggal serumah dengan pria itu, namun Ilham tetap memberikan nafkah semampunya untuk dirinya dan kedua anaknya.
Ian melangkah kembali ke kantornya. Sepanjang jalan pikirannya berkelana. Sudah tepat 10 tahun usia pernikahan nya. Usia pernikahan yang harusnya bagi setiap pasangan adalah usia yang sangat matang dan semakin erat satu sama lain. Namun kebalikan dari dirinya. Bahkan dalam beberapa tahun di awal saja pernikahan nya sudah berada dalam kondisi yang kurang baik.
Ian memasuki ruang kerja yang juga ruang kerja Rio. Terlihat pria itu tengah sibuk menatap layar laptop nya. Ian menghampiri Rio dan berdiri di sebelahnya.
"Liatin apa sih? Serius banget". Ucap Ian seraya memandang ke arah layar laptop juga.
Rio menoleh sekilas dan kembali menatap laptop. "Gw lagi milih tanggal yang pas nih buat pulang ke Los Angeles".
Ian terdiam sejenak.
"Apa lo bakal lama di sana?".
Rio menatap Ian. "Kenapa memangnya?".
Ian hanya mengedikkan bahunya dan berjalan menuju meja kerjanya. Rio melirik Ian seraya menyunggingkan senyum di bibir.
Harusnya kan libur yaa tapi aku up 1 bab aja deh🙈
__ADS_1
Kecup hangat dariku and happy weekend!😘