
"Brengsek lo!!!". Maki Rio menatap tajam Ilham.
"Lo pikir istri lo serendah itu hah?! Gw benar-benar gak akan biarin Ian kembali dengan lo dan membuang waktu nya lebih sia-sia!".
"Gw gak akan pernah cerai-kan Ian". Ucap Ilham seraya mengusap sisi wajah nya yang terkena pukulan.
Rio melangkah mendekati Ilham. Pancaran matanya benar-benar menampakkan emosi. "Gw akan pastikan dia lepas dari lo. Baik dengan cara halus atau kasar. Lo camkan omongan gw!".
"Bahkan ketika lo di cap sebagai perebut bini orang?". Tanya Ilham.
"Gw gak peduli. Bahkan mungkin gw akan benar-benar merebut dia dari lelaki bajingan seperti lo!". Ujar Rio.
Tak butuh waktu lama Rio melangkah pergi meninggalkan Ilham. Ia segera masuk ke dalam mobil nya.
"Brengseeekkkkk!!!!". Rio berteriak mengeluarkan emosi yang sejak tadi Ia tahan. Ia mengusap wajah nya kasar dan menatap tajam ke depan.
Rio segera menyalakan mesin mobilnya. Satu tempat yang ada di pikiran nya saat ini yaitu Rumah kedua orang tua Ian. Ia perlu bertemu dengan Imran dan berdiskusi mengenai masalah yang di hadapi Ian. Ia meringis tatkala membayangkan kepala nya yang di pukul oleh buku tebal oleh Imran satu minggu yang lalu.
Bahkan kalau gw di lempar brankas besi pun gw rela asal Ian bisa bahagia! Gumam Rio dalam hati.
Rio menginjak pedal gas nya lebih dalam dan mobil pun melaju dengan kencang. Ia memilih melalui jalan bebas hambatan ketika pulang agar cepat sampai ke rumah Imran.
Tepat satu jam waktu yang Ia tempuh dari rumah Ilham menuju rumah Imran. Rio yang baru saja keluar dari mobilnya segera menghampiri Dewi yang berada di teras sedang menyiram deretan pot tanaman hias.
"Kamu datang kok gak bilang-bilang sih..." Sahut Dewi saat Rio menyalami tangan nya.
Rio mengulas senyum. "Aku juga mendadak ehhehhee.. Om Imran ada gak, Tan?".
"Ada tuh di gazebo lagi lihatin Varo berenang. Kamu masuk aja". Ujar Dewi. Rio pun mengangguk dan segera melangkah masuk menuju gazebo.
Di ruang tengah Rio melihat Kai sedang asik memakan ice cream di temani oleh Bik Sum. Kai menyadari kedatangan Rio. Dengan lincah bocah 2 tahun itu berlari menghampiri Rio.
"Om Yo.. Om Yo". Ucap Kai seraya merentangkan kedua tangan nya dengan kepala mendongak ke atas menatap Rio.
Rio membungkukkan tubuh nya dan segera meraih Kai ke dalam gendongan. "Hey little boy".
__ADS_1
Rio menatap Kai dengan tatapan yang sulit di artikan. Pria itu mengecup pipi Kai dan meraih tisu yang berada di atas meja lalu mengelap sisa ice cream yang belepotan.
"Kapan kamu datang?". Terdengara suara Imran dari arah belakang.
Rio membalikkan badan dan melihat Imran yang tengah berjalan mendekat ke arah nya. Rio segera memberikan Kai pada Bik Sum. "Sama Bibi dulu ya. Om ada perlu sama kakek". Ucap Rio yang di sahuti oleh anggukan kepala Kai.
"Aku ada perlu sama, Om".
Imran mengamati raut wajah Rio yang terlihat serius.
"Ke ruang kerja". Imran berucap seraya melangkah menuju ke lantai atas.
Di dalam ruang kerja tanpa membuang waktu, Rio memberitahu Imran bahwa Ia baru saja bertemu dengan Ilham. Ia pun mengutarakan jika pria itu tetap tidak mau menceraikan Ian.
"Layangkan saja gugatan perceraian pada Ilham". Ucap Imran.
"Apakah perlu pengacara?".
"Jika ingin prosesnya lebih cepat dan efisien, memang alangkah lebih baik jika memakai jasa pengacara". Ucap Imran.
"Tapi aku sangsi kalau Ian akan setuju, Om".
"Bagaimana om bisa yakin?".
Imran melangkah mendekati jendela dan menatap ke arah luar. "Dia sendiri yang minta saya untuk melayangkan gugatan cerai ke pengadilan".
"Saya tau pernikahan yang Ia jalani kemungkinan kecil bisa terselamatkan. Ia menjalani hubungan yang amat tidak sehat sehingga mengganggu stabilitas mental nya".
Rio terbelalak mendengar penuturan Imran. "Maksudnya bagaimana, Om?".
Imran menoleh pada Rio. "Apa kamu tidak tau kalau Ian melakukan sesi konseling dengan seorang psikolog?".
Raut wajah Rio makin terkejut. "Apa? Psikolog?".
Imran mengangguk dan kembali menatap ke arah luar melalui jendela. "Dia memberitahu saya. Dia selalu menangis di dalam tidurnya dalam beberapa tahun terakhir dan itu dia lakukan tanpa sadar".
__ADS_1
Rio mengusap wajah nya frustasi. Serapuh apa hatinya sampai seperti itu?
Di perjalanan pulang menuju apartemen, pikiran Rio berkelana memikirkan langkah-langkah yang akan di tempuh oleh Ian. Ia tau ini akan sangat panjang prosesnya. Namun Ia sudah bertekad akan terus menemani Ian dalam keadaan apapun.
Tak butuh waktu lama Rio akhirnya telah sampai kembali ke apartemen. Ia melangkah dengan cepat menuju unit milik nya. Mengeluarkan kartu akses dan memindai sidik jari di pintu lalu setelah masuk ke dalam, Ia lantas mencari keberadaan Ian di seluruh penjuru ruang tengah.
"Kok udah pulang sih, Yo?". Terdengar suara Ian dari arah balkon.
Rio menatap Ian dengan pandangan yang sulit di artikan. Manik matanya dengan jelas memancarkan sebuah rasa yang tak mungkin bisa di mengerti oleh siapapun kecuali diri nya sendiri.
Rio menghampiri Ian dan menarik wanita itu ke dalam dekapan nya. Ia memeluk tubuh Ian dengan erat seraya menghirup wangi tubuh Ian dari tengkuk lehernya. Perbuatan Rio tentu saja membuat bulu kuduk Ian meremang. Ian berusaha melepaskan diri dari dekapan Rio namun tak berhasil.
Rio melonggarkan pelukan nya. Ia sedikit menunduk menatap manik mata Ian dengan lekat. Keduanya bertatapan saling melihat satu sama lain.
Mata ini yang selalu memberikan sorot keteduhan dalam setiap tatapannya. Mata ini yang menjadi tempat bersembunyi masa lalu yang menyenangkan sekaligus pahit. Mata ini yang selalu mengeluarkan air mata untuk lelaki yang gak layak untuk di tangisi.. mungkin...termasuk gw
Rio berucap dalam hati.
"Yooo.. Lepasin gw. Lo kenapa sih?". Tanya Ian berusaha melepaskam diri dari dekapan Rio.
"Gw gak peduli kalau saat ini gw di cap pebinor". Ujar Rio.
Belum sempat Ian berkata apapun, Rio mengulum bibir Ian dengan ganas. Pria itu menahan kepala Ian agar tidak.menjauh darinya.
"Yo lepasin gw". Ian berucap saat Ia berhasil memalingkan mukanya.
Rio menghentikan aktifitasnya mencium bibir Ian yang membuatnya candu. Ia menatap Ian yang tengah menatap nya dengan sendu. Air mata terlihat jelas terlihat menggenangi pelupuk matanya.
Ian menunduk. Tangan nya mengusap air mata yang jatuh di pipinya. "Tolong jangan seperti ini, Yo.. Kalau gw begini, apa bedanya gw dengan Ilham? Gw selingkuh...'"
Ian mendongakkan kepalanya menatap Rio. "Dan lo juga gak pantas jadi pebinor hanya untuk wanita seperti gw.."
Keduanya saling bertatapan sejenak. "Maaf.. Maafin gw..." Ujar Rio seraya memeluk tubuh Ian dengan erat.
__ADS_1
.......______________.......
Aku libur besok ya!๐๐