Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Zeline menatap cermin panjang didepannya, saat ini ia sudah memakai minidress cantik rancangan butik ternama di Eropa. Mini gown itu sengaja Mami Azuri pesan beberapa hari sebelumnya.


Dengan make up tipis yang terlihat sesuai dengan usianya, Zeline terlihat sangat segar dan cantik.


Setelah memasak tadi, Mami Azuri meminta Zeline bersiap dan memberinya kamar tamu untuk tempatnya membersihkan diri dan berganti pakaian.


Gadis itu menatap pantulan dirinya dicermin dari atas hingga bawah, ia memejamkan mata membayangkan seorang pria dari masa lalu pernah memeluk tubuh rampingnya, pria yang tingginya hampir sama dengannya hingga ia bisa membenamkan wajah diceruk leher pria itu dan menghirup wangi wood bercampur musk dari parfum yang menguar dari tubuhnya.


Flashback


"Jangan lupakan aku, oke? Bila libur sekolah tiba, datanglah lagi kemari.... Aku akan membawa mu keliling kota London" ucap pria itu seraya membingkai wajah Zeline lalu mengecup keningnya dalam.


*****


"Ssshhh.... Aaaahhh.... " desah pria itu.


"Apa kau mencintai Zeline?" tanya gadis deNgan tubuh polos sambil meliuk-liukan tubuhnya diatas pria itu.


"Tidak... Aku menyayanginya sebagai adik, teruskan sayang... Lebih kencang" desah pria itu lagi.


Zeline yang melihatnya dari balik pintu, langsung berbalik. Dadanya terasa sesak seperti tertindih batu yang sangat besar.


Buliran bening yang sudah mendesak keluar dari pelupuk mata sudah tidak bisa ia bendung, ia tau perasaan pria itu padanya dan ia pun berusaha untuk tidak mencintainya tapi entah kenapa sakit rasanya melihat adegan vulgar seperti tadi.


Zeline berlari keluar dari rumah pria itu, ia terus berlari dan berlari hingga sampai di rumah Granpa Salim.


Brak!!!


"Zeline?" Ken yang berada diruang tamu sangat terkejut melihat adiknya berlari dengan wajah ketakutan dan jejak air mata diwajah gadis itu.


"Ada apa?" Ken memegang bahu Zeline dengan kedua tangannya.


"Zeline ingin pulang" ucap Zeline dengan gemetar


"Ada apa? Kamu kan baru saja datang!" Ken mengerutkan dahinya.


"Zeline ingin pulang Ka, sekarang!" teriaknya dengan airmata yang mengalir membanjiri pipi.


Ken memeluk adiknya erat.


"Baiklah... Kau akan pulang sekarang juga"


Flashback End


Tok... Tok...


Zeline tersadar dari lamunannya. Ia segera membuka pintu kamar tamu tersebut.


"Zeline... Sudah siap? Semua sudah menunggu diruang tamu" ucap Azalea ramah.


Zeline mengangguk "Ayo... " ajaknya dengan senyum


Zeline menuruni undakan tangga bersama Azalea, entah apa yang keduanya bicarakan hingga terdengar tawa kecil mengiringi langkah kedua gadis cantik itu yang mampu menarik perhatian King dibawah sana.


Mata Matthew dan Ratna pun langsung tertuju pada gadis cantik dengan dress berwarna peach disamping Azalea.


"Ayah... Ibu, perkenalkan ini Zeline calon istri King" Papi Zach memperkenalkan calon mantunya.


Zeline menyalami Matthew dan Ratna dengan sopan.


"Hallo Grandma... Grandpa, saya Zeline"


Grandma Ratna dan Grandpa Matthew saling pandang lalu tersenyum bahagia.


Sekejap itu juga Ratna menarik Zeline dalam pelukannya.


"Zeline tau? Grandma ngefans banget sama Zeline, boleh Grandma minta tanda tangan?" ujar Ratna dengan mata berbinar.


Grandma menggenggam dengan hangat tangan Zeline, kehangatan itu terasa seperti kasih sayang yang tulus merayap hingga hati Zeline.


Zeline tertawa kecil dan tersipu malu mendengar penuturan Grandma, betapa rendah hati sekali wanita yang masih keliatan cantik diusia senjanya ini.


"Pintar kamu ya mencari istri, King?" Grandpa menaikan satu alisnya.


King hanya tersenyum sambil melipat tangannya didada. matanya sesekali mencuri pandang kearah Zeline. Ia akui Zeline sangat cantik dan anggun diusianya yang masih sangat muda.


Biasanya gadis seumur Zeline terlihat pecicilan dan belum mengerti tatakrama apalagi bila memiliki karir yang bagus didunia entertainment, prilakunya pasti seperti seorang Tuan Putri.


Tapi Zeline terlihat mandiri dan elegan. Ya, Zeline merupakan aktris yang pandai berakting didepan maupun dibelakang kamera.


"Ayo kita ke ruang makan, sudah waktunya makan malam" ajak Mami Azuri.

__ADS_1


Setelah semuanya mengambil tempat dimeja makan, beberapa Maid menghidangkan makanan yang sudah Zeline masak tadi.


"Ini semua Zeline yang masak loh...," ucap Mami Azuri dengan bangga.


"Oh ya? Betulkah Zeline?" tanya Grandma tidak percaya.


Zeline mengangguk dengan senyum manisnya.


"Dibantuin Mami Azuri" tambah Zeline


"Ngga Bu, ini semua benar-benar Zeline yang masak" sanggah Mami Azuri.


Zeline terlihat membaur dengan keluarga Alterio, keluarga konglomerat itu menyambut Zeline dengan hangat. Ada perasaan tidak enak terselip dalam hati Zeline, bahkan Zeline sudah merasa takut bila menyakiti perasaan anggota keluarga yang telah menerimanya sangat baik ini.


Tapi apakah baik untuknya bila menyakiti perasaan sendiri dengan menerima dengan ikhlas pernikahan ini yang tidak menjamin kebahagiaannya, karena dengan sepak terjang King dengan para wanita bisa jadi hatinya akan terluka lagi seperti dulu saat seseorang dari masa lalunya menghancur leburkan hati dan perasaan yang kini sudah susah payah ia bangun kembali.


"Masakan mu enak sekali, Nak... Siapa yang mengajari mu memasak?" tanya Granpa Matthew setelah meneuguk air mineralnya.


"Mama Rena yang mengajari Zeline memasak, dari kecil Mama selalu mengajak Zeline memasak hingga sekarang bila ada waktu setelah syuting atau pemotretan, Zeline selalu menyempatkan memasak makan malam bersama Mama untuk Papa karena Papa tidak suka makan diluar" tutur Zeline.


"Nanti Mami mau belajar masak dari kamu ya sayang" bisik Mami Azuri yang masih bisa didengar oleh seluruh anggota keluarga di meja itu.


Papi Zach meraih tangan Mami Azuri


"Ga usah Mi... Mami sudah cukup membuat Papi jatuh cinta sama Mami jangan ditambah terus nanti Papi kehabisan cinta untuk Mami" goda Papi Zach.


"Apaaan sih Papiiii" Mami Azuri tersipu malu.


Semuanya tertawa renyah mengakhiri makan malam tersebut.


"King... Antar Zeline pulang ya!" titah Papi Zach.


King mengangguk dengan malas tapi mau tak mau ia harus menuruti keinginan Papinya itu.


Setelah bersalaman dan berpamitan kepada seluruh keluarga Alterio, Zeline masuk kedalam mobil yang sudah berada dihalaman depan rumah mewah Zach.


"Nanti King pulang malam ya, kalian ga usah menunggu King, okey?" ucap King lalu berlari memutari setengah mobilnya kemudian duduk dibalik kemudi.


"Jangan malam-malam King!" teriak Mami Azuri mengalahkan suara deru knalpot mobil King.


Setelah mobil King menghilang dibalik pagar tinggi rumah mewah itu, semuanya masuk kembali kedalam.


King sesekali melirik Zeline.


"Kamu benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini?" tanya King memulai pembicaraan.


Azuri mengangguk yakin.


"Aku akan memperbolehkan mu berkarir setelah kita menikah"


"Bukan masalah itu King" Zeline menghela nafas lalu menyandarkan kepala membuat dirinya rileks.


"Lalu apa? Apa kamu pikir aku tidak pantas untuk mu, hah?" pancing King dengan menaikan satu alisnya.


Zeline menatap King lalu tersenyum.


"Bukan masalah pantas atau tidak pantas King... Kita menikah karena keterpaksaan. Aku tidak mencintai mu begitu pula kamu yang tidak mencintai aku. Apalagi kamu adalah kekasih dari sahabat aku sendiri. Aku sedang menikmati karir ku dan kamu sedang menikmati masa muda dengan hoby kamu bersama wanita-wanita diranjang. Didalam hidup aku, tidak pernah terbesit sedikit pun pikiran untuk menikahi pria playboy, aku berangan-angan memilik suaminya yang baik, penuh pengertian dan setia, tak masalah dia tidak tampan, tak masalah dia tidak kaya raya. Aku hanya ingin hidup bahagia tanpa merasakan sakit hati dikhianati"


Tutur Zeline dengan suara rendah, tidak ada nada mengejek atau merendahkan dalam untaian kalimat yang ia ucapkan tadi.


Zeline hanya mengutarakan apa yang ada dipikiran dan angan-angannya.


King terdiam mencerna kata-kata Zeline tadi, tak ia sangka gadis itu berkali-kali berhasil membuatnya nya bungkam karena harga diri yang membus langit itu perlahan turun dan terhempas berkali-kali ke bumi.


Sepanjang sisa perjalanan, keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing.


Tangan King terulur menyentuh layar datar didepannya, ia menekan nomor bertuliskan nama Jesica.


Dan sambungan telepon pun terdengar seolah King sengaja meloudspeakerkan panggilan itu.


"Hallo sayang" suara Jesica disebrang sana terdengar manja.


"Bisa kita bertemu? Aku merindukan tubuh mu" rayu King


"Bisa banget donk sayang... Kita ketemu dimana?" tanya Jesica lagi.


"Ditempat biasa" jawab King singkat lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


Zeline masih terdiam melihat keluar jendela depan. King melirik sekilas wajah Zeline yang terlihat tenang.


"Apa dia benar-benar tidak menyukai ku sama sekali? " batin King

__ADS_1


"Ya Tuhan, kuatkan aku agar tidak mencintainya selama kita menikah nanti, aku tak ingin merasakan sakit itu lagi" ratap Zeline dalam hati.


Tidak berapa lama keduanya tiba di rumah Zeline, King memarkirkan mobilnya karena ia harus pamit kepada keluarga calon istrinya itu.


"King... Aku ingatkan jangan sampai tercium media setiap kamu menemui atau meniduri wanita lain, aku tak ingin berita yang bisa merugika kita tersebar lagi" Zeline mengucapkan itu tanpa melihat King karena ia tak ingin pria itu tau kesedihan dimatanya.


"Mintalah aku untuk tidak menemui Jesica, Zeline" batin King


Tapi tidak, Zeline tidak akan meminta itu karena ia tidak mencintai King.


Dalam perjalanan tadi, berhasil Zeline lewati tanpa mendapat keisengan dari King.


Keduanya turun dari mobil, King menyapa dan berpamitan pada Papa, Mama dan Ken lalu ia berjalan keluar melewati Zeline dipintu.


Kakinya terhenti saat didepan Zeline, ia meraih tangan Zeline lalu mengecup punggung tangan itu dalam.


"Aku pulang dulu" ucap King dengan senyum smirknya.


"Sial!! King, kau memang selalu membuat aku kesal!" batin Zeline.


Sedangkan Zeline, berusaha untuk terlihat tenang dengan ekspresi datarnya.


King masuk kedalam mobil dan mengemudikannya keluar dari halaman rumah Papa Andra.


"Ma... Pa... Zeline udah makan malam tadi, Zeline kekamar dulu ya!" ucap Zeline seraya mencium pipi Papa dan Mamanya.


Zeline masuk dalam kamar dengan nuansa Peach yang mendominasi.


Ia menjatuhkan tubuh diranjang dengan tengkurap, mencoba memahami perasaannya dan menenangkan emosinya.


Karena setelah mendengar percakapan King dengan Jesica tadi, perasaan Zeline jadi kacau balau. Tidak mungkin ia cemburu tapi ada kesal dalam hati hatinya.


Baru saja ia berbicara serius dengan pria itu sedetik kemudian King meledeknya dengan sengaja menghubungi Jesica.


Entahlah, ia merasa ingin membunuh King saja saat itu.


Tok.. Tok...


Ceklek


"Boleh Kakak masuk?" Suara bass sexy itu membuyarkan lamunannya.


Zeline mendongak dan menoleh kearah pintu.


"Kakak.... Masuk, sini duduk!" Zeline bangkit lalu memposisikan dirinya duduk diranjang berseprai motif tropical itu.


Ken dengan celana tidur panjang dan kaos lengan panjang nya duduk disamping Zeline.


Ia mengusap pipi adiknya lalu menyelipkan rambut yang menutupi wajah Zeline ketelinganya.


"Apa kau mencintai King?" tanya Ken to the point


Zeline menggeleng mantap.


"Lalu kenapa kau mau menikahinya?" tanya Ken lagi.


"Kakak kan tau masalahnya..., "


Ken tersenyum lalu merebahkan dirinya dengan posisi memalang dikasur Zeline.


"Apa kamu ga bisa menolak?" tanya King dengan menatap langit-langit kamar adiknya.


Zeline menggelengkan kepala lemah sambil memainkan tali pengikat guling.


Zeline menggigit bibir lalu sedetik kemudian ia terisak.


Mendengar suara isak tangis adiknya membuat Ken bangkit lalu memeluk tubuh jenjang yang hampir menyamainya itu.


Dibenamkannya wajah adik kesayangannya itu di dadanya yang bidang.


Ken tau adiknya ini tidak pernah bisa mengecewakan siapapun apalagi kedua orang tuanya.


"Berusaha lah mencintainya, buatlah dia bertekuk lutut pada mu!"


"Apa Kakak tau kelakuannya? Hobbynya? Menjijikan Kak! Melakukan sex bebas dengan para wanita" Zeline menangis tersedu.


"Stt... Sstt... " Ken semakin mengeratkan pelukannya.


Ia memejamkan mata membayangkan kelakuan pria itu akan menjadi suami dari adik kesayangannya.


Ken bingung harus berbuat apa, Ken pun tidak punya hak untuk memaksa King mencintai Zeline karena sama hal nya dengan Zeline yang terpaksa melakukan pernikahan ini.

__ADS_1


__ADS_2