
"Gw tau yang lagi lo pikirin, Riv". Ian menoleh pada Rivan seraya tersenyum tipis dan Rivan menatap manik mata Ian dengan penuh tanda tanya.
"Apa dulu........ Rio juga selingkuh?". Tanya Rivan dengan hati-hati.
Ian tersenyum seraya menatap ke sebuah lukisan yang tergantung di dinding. "Bukan selingkuh.. Lebih tepat nya dia gak bisa mengendalikan diri nya sendiri saat itu. Mungkin terbawa suasana? Ah.. Entahlah.." Ian mengibaskan tangan nya.
Rivan menatap Ian menunggu penjelasan lebih lanjut. Namun Ian tetap menutup mulutnya.
"Sebanyak apa hal yang lo tutupi dari gw dan yang lain sih sebenarnya? Saat lo putus dari Rio pun kita semua gak tau menau apa masalahnya. Saat lo putuskan nikah dengan Ilham juga begitu.. lo terkesan mendadak. Sekarang 9 tahun usia pernikahan lo yang kelihatan nya baik-baik aja, tiba-tiba lo minggat dari rumah suami lo...".
"Apa lo mengalami KDRT? Apa Ilham pernah mukul lo?". Tanya Rivan lagi seraya menatap Ian.
Ian menggelengkan kepala nya. "Andai aja dia main tangan ke gw mungkin itu lebih baik, Riv..."
"Luka karena pukulan bisa hilang, tapi luka yang bertahun-tahun dia buat untuk gw gak pernah bisa hilang.. Itu kayak udah terpatri di sini.." Ian menunjuk dada nya.
Rivan menghela napas nya pelan. Ia mengambil ponsel nya dan terlihat mengetikkan sesuatu di layar. Tak lama pria itu pun menyimpan kembali ponsel nya di atas meja.
"Kalau boleh gw tebak, sepertinya masalah lo dengan Ilham lebih dari sekedar perselingkuhan dia kan?".
Ian mengangguk. "Jauh sebelum dia berselingkuh, gw dan dia seperti menjalani hubungan yang hampa gak bernyawa".
"Kenapa lo pilih bertahan kalau seperti itu?".
Ian terdiam sejenak dan menghembuskan napas kasar.
"Gw punya Varo, Riv... Dan sekarang ada Kai juga. Ilham selalu berubah-ubah. Terkadang dia bersikap baik ke gw dan itu seperti memberi gw harapan tapi terkadang dia gak segan untuk membentak gw karena hal-hal kecil. Bahkan dia pun gak segan untuk ribut dengan gw depan anak-anak. Teriakan-teriakan yang dia lontarkan ke gw selalu gw ingat..."
"Kekerasan Verbal.. Dia bermain dengan psikis lo, Ian".
Ian mengusap air mata nya yang jatuh di pipi. Ia tidak bisa lagi menahan tangisnya.
"Gw sebenarnya beberapa bulan terakhir selalu berkunjung ke psikolog. Bahkan untuk biaya ke sana pun gw harus kumpulin dulu hehehe". Ian terkekeh walau air mata nya terus saja jatuh.
__ADS_1
"Gw selalu menangis saat tidur, Riv. Rasa sakit yang gw rasa di hati benar-benar nyata walau mata gw tetap terpejam. Hati gw terasa sakit banget.. Gw juga sering merasa diri gw gak berharga. Merasa diri gw gak di inginkan dan gak pantas untuk di cintai..." Lanjut Ian.
Ia akhirnya menangis tersedu-sedu tak lagi menahan nya. Ia memang perlu mengeluarkan segala beban yang di pendamnya. Rivan mendekat ke arah Ian dan memberikan sekotak tisu.
"Udah cukup.. Kalau lo berat untuk cerita lebih banyak lebih baik berhenti di sini. Gw udah tau gambaran pernikahan yang lo jalani seperti apa..." Ucap Rivan.
"Gw harus gimana? Apa yang harus gw lakuin?". Ian menoleh pada Rivan dengan matanya yang memerah karena menangis.
"Lo gak perlu lakuin apa-apa. Saat ini yang lo perlu hanya menenangkan diri lo dulu". Ucap Rivan.
Pria itu beranjak berdiri dan menghilang di balik sebuah pilar yang menjulang tinggi seakan menahan kokoh nya bangunan rumah mewah tersebut. Tak berapa lama Rivan pun kembali dengan membawa dua buah coke di tangan nya.
"Minum dulu...." Rivan memberikan 1 buah kaleng coke untuk Ian.
"Lo harus tetap semangat, Yan. Mungkin gw paling bego untuk ngehibur orang yang lagi sedih, tapi gw selalu bisa lo andalin. Lo ngerti kan?". Ucap Rivan menatap Ian.
Ian mengangguk seraya tersenyum hangat dan mengusap air mata di wajah nya dengan tisu.
Tiga puluh menit kemudian terdengar suara klakson mobil dari luar rumah Rivan. Ian dan Rivan yang sedang berbincang santai pun saling pandang.
"Bukan mereka yang datang...". Ucap Rivan seraya beranjak dari sofa dan melangkah menuju teras. Ian mengekorinya dari belakang.
Saat di teras rumah mata Ian sontak saja melebar ketika yang di lihat adalah sebuah mobil sedan yang sangat familiar untuk nya.
Ian menepuk pundak Rivan dengan cukup keras. "Lo ngasih tau Rio kalau gw di rumah lo?!". Tanya Ian kesal.
Rivan terkekeh. "Sorry hehehe".
"Ember bocor banget mulut lo!" Sahut Ian dan berbalik badan melangkah masuk ke dalam rumah.
Tak lama Rivan dan Rio pun melenggang masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tengah tempat Ian berada. Ian tak menatap kedua pria itu. Ia masih sangat kesal dengan Rivan yang memberitahukan keberadaan nya pada Rio. Ia juga malu pada Rio karena pasti lah wajah nya sangat semrawut karena habis menangis.
Rio terlihat menatap Ian. Manik mata pria itu memindai penampilan Ian yang terlhat jauh dari kata baik.
__ADS_1
"Ian kenapa?". Tanya Rio menoleh pada Rivan yang duduk di samping nya.
Rivan mengedikkan bahu nya. "Lo tanya aja lah langsung sama orang nya".
Rio kembali menatap Ian yang masih tidak menatap ke arah nya. Ia menghembuskan napas nya perlahan. Rio menerima pesan dari Rivan saat diri nya tengah berada di kantor. Saat Rivan memberi tahu diri nya bahwa Ian sedang berada di rumah nya dan menangis, tanpa pikir panjang Ia langsung pergi menuju rumah Rivan.
"Ian..." Panggil Rio.
"Hmmm.." Sahut Ian tanpa menoleh pada Rio. Mata wanita itu masih setia menatap layar televisi.
Rio menyugar rambut nya. Ah.. sial! Rio memaki dalam hati. Pria itu pun beranjak berdiri dan menoleh pada Rivan. "Gw bawa dulu si Ian sama gw, bro!". Rio pun lantas menarik lembut tangan Ian. "Ayo ikut gw dulu keluar".
Ian mendongakkan kepalanya seraya mengerutkan kening. "Mau kemana? Gw mau di sini".
Rio dengan cepat menggenggam tangan Ian dengan erat dan menarik tubuh Ian untuk berdiri. "Ikut gw".
Ian melempar pandangan pada Rivan berharap pria itu menolongnya namun sialnya Rivan hanya mengedikkan bahu.
"Ikut aja, Yan". Ucap Rivan singkat.
"Tapi anak-anak gw...."
"Nanti gw balik ke rumah lo lagi. Lo tenang aja.. lagipula mereka betah kalau lo tinggal di rumah nyokap bokap lo kan.." Rivan memutus ucapan Ian.
Tak ada alasan apapun lagi yang bisa menahan diri nya untuk tidak mengikuti Rio. Ian menatap Rio. Pria itu menganggukkan kepalanya dengan tangan yang masih menggenggam erat tangannya.
Ian menghela napasnya dan berjalan mengikuti Rio menuju mobilnya. Keduanya pun segera masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana sih, Yo?". Tanya Ian seraya memakai seat belt.
"Nanti juga lo tau..." Ucap Rio misterius.
......___________......
__ADS_1
Next bab secepatnya ya