Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 108


__ADS_3

"Kamu sendirian?". Tanya Ian saat dirinya sudah duduk di kursi sebelah Ilham.


Ilham mengangguk. Tatapan mata pria itu terlihat sangat kalut. Ian berusaha untuk tidak peduli. ia menghela napas perlahan dan memalingkan wajah menatap ke sembarang arah dan keduanya hanya diam membisu.


Tak lama terdengar panggilang dari pengeras suara di dalam ruang tunggu. Nama Ian dan Ilham di sebut untuk masuk ke dalam salah satu ruangan. Keduanya bertatapan dan lantas berdiri di ikuti oleh pengacara.


Kini mereka sudah duduk si kursi pesakitan tepat di hadapan hakim dan 2 orang lain nya. Ian menautkan jari jemarinya pertanda gugup. Hatinya tiba-tiba di landa keresahan. Ia berpikir bagaimana jika persidangan berjalan alot? Ia menoleh pada Ilham yang sedang fokus menatap ke arah hakim.


"Ok saya mulai sidang nya". Ucap Hakim lalu berdoa dan mengucap sumpah.


Beberapa pertanyaan di ajukan pada Ian dan Ilham. Seperti biasa hakim pasti mencoba upaya untuk mendamaikan namun jika terdapat case tertentu pasti lah itu beda cerita.


"Di sini tertera harta bersama adalah sebuah mobil MPV dan 1 buah rekening tabungan yang di isi dari dana kalian berdua. Apakah benar?". Tanya Hakim seraya menatap silih berganti pada Ian dan Ilham.


Keduanya mengangguk. "Benar, Yang Mulia".


"Saya paham untuk sebuah rekening tabungan, namun bisa jelaskan pada saya tentang mobil MPV nya. Apakah kalian berdua membeli nya secara patungan?".


Ian menoleh pada Ilham dan beralih pada Hakim. "Jadi sebenarnya mobil itu uang DP nya dari saya, namun yang mencicil bulanan nya adalah Ilham. Dan cicilan tersebut sudah selesai".


"Berapa saudara membayar DP saat itu?". Tanya Hakim.


"100 juta, Yang Mulia". Ucap Ian.


Hakim tersebut mengangguk-anggukkan kepala. Ia terlihat kembali mengamati beberapa berkas perkara milik Ian dan Ilham.


"Di sini tidak tertera tuntutan terkait harta gono gini. Jadi kalian berdua memutuskan untuk merelakan yang sudah ada?".


"Kami berdua sepakat jika rekening tabungan milik berdua akan terus di jalankan untuk keperluan kedua anak kami nanti, dan terkait mobil......"


lham menggantungkan ucapan nya dan menoleh pada Ian.

__ADS_1


"Saya sudah ikhlas dengan uang yang saya keluarkan untuk DP mobil tersebut, Yang Mulia". Timpal Ian menatap Hakim.


Ia memang dari awal tidak memikirkan hal itu. Ia ikhlas dalam membantu Ilham selama hidup dengan nya. Toh jika mobil tersebut Ia perkarakan, bagaimana pria itu akan bekerja? Ian sudah berpikir ke arah itu.


Banyak hal yang di tanyakan kembali oleh Hakim terkait kekerasan verbal yang ternyata termasuk dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Hakim tersebut menanyakan tindakan Ilham yang melakukan hal tersebut pada Ian juga perihal perselingkuhan nya.


Ilham tidak menyangkal apapun. Pria itu mengakui semuanya. Segala bukti yang pengacara Ian siapkan benar-benar menguatkan bahwa semua hal tersebut memang di alami oleh Ian sepanjang 10 tahun pernikahan nya.


"Maka dengan ini saya mengabulkan permohonan saudara untuk bercerai............."


Ian meneteskan air mata ketika mendengar penuturan Hakim Ia tidak lagi mendengar kata-kata selanjutnya yang di ucapkan oleh Hakim. Indera pendengaran nya berdenging, pandangan matanya berkabut karena genangan air mata. Ia mengusap dengan cepat pipi nya yang basah.


Ian menatap Ilham yang ternyata sedang menatap lurus ke arah nya. Ian lantas langsung memalingkan wajah nya tak ingin pria itu menatap nya yang sedang menangis.


Mengapa Ia menangis? Apakah Ia menyesal? Apakah Ia sedih? Apakah Ia kecewa? Atau sebenarnya apakah itu air mata kebahagiaan?


Entahlah Ian tidak bisa menyelami perasaan nya sendiri saat ini. Ia memang merasa hatinya tenang namun ada sisi di mana rasa sakit terasa menghunjam hati nya tatkala Ia melihat Ilham yang saat ini resmi menjadi mantan suami.


Persidangan pun usai dan kedua nya keluar ruangan secara bersama-sama. Pengacara Ian mempersilakan keduanya duduk sementara diri nya pergi untuk melapor hasil persidangan dan mengurus akta cerai.


Ilham mengulurkan tangan nya ke arah Ian.


Ian mengernyit bingung menatap uluran tangan Ilham dan beralih menatap wajah pria itu. Ian dengan ragu menerima uluran tangan Ilham dan kedua nya pun saling berjabat tangan.


"Maafin aku kalau sikap buruk aku menyimpan luka di hati kamu.." Ucap Ilham seraya menatap Ian.


Ian tersenyum tipis.


"Bahagia lah.. Terlepas dari semua hal yang udah kita lewati, aku tetap berharap kamu bahagia. Bahkan kalau bisa, kamu harus lebih bahagia di banding waktu sama aku".


Ilham tiba-tiba menarik Ian ke dalam pelukan nya.

__ADS_1


"Maaf.. Aku baru sadar kalau kamu begitu berharga..."


Ian mendorong Ilham dengan pelan. Manik mata nya menatap Ilham dengan lekat.


"Semua akan terasa berharga saat kita udah kehilangan.."


"Aku gak akan larang kamu untuk bertemu Varo dan Kai. Bagaimanapun mereka adalah anak-anak kamu. Mereka tetap butuh ayah kandung nya. Aku gak akan melarang kamu untuk datang berkunjung ke rumah untuk menjenguk mereka. Atau aku juga gak akan melarang kalau Varo mau nginap di rumah kamu.." Lanjut Ian.


Ilham terlihat menyeka air mata di sudut matanya. "Terima kasih kamu masih berbesar hati..."


"Mengenai nafkah untuk mereka...."


"Seperti yang aku bilang tadi di depan Hakim, mengenai nafkah untuk Varo dan Kai.. Aku gak akan menuntut nominal nya berapa. Sesuai kesanggupan kamu..." Timpal Ian memotong ucapan Ilham.


Tak lama pengacara Ian pun datang menghampiri keduanya setelah mengurus beberapa hal dan memastikan akta cerai dapat keluar dalam 1×24 jam.


Ketiga nya pun lantas turun ke arah parkiran. Ian dan Ilham berpisah di lobby gedung pengadilan agama. Ian hanya menatap punggung pria yang pernah menjadi suaminya selama 10 tahun. Seorang pria yang membuatnya nekat untuk membuang masa muda nya dan mengarungi bahtera rumah tangga sejak usia 22 tahun. Walau Ia tak berpikir jika ternyata di saat usia nya 32 tahun sekarang semua itu harus kandas.


"Pak, terima kasih untuk semua bantuan nya selama ini. Kalau bisa nanti makan malam bersama di rumah ya, Pak". Ujar Ian menatap pengacara nya.


"Sama-sama. Itu sudah tugaa saya dan menjalankan amanat Ayah anda untuk mengawal proses yang anda lalui di pengadilan lebih mudah". Ucap pengacara tersebut seraya tersenyum hangat.


Tak lama Ian pun melangkah menuju mobil nya. Di dalam mobil Ia sempat termenung sejenak. Ia merasa apa yang baru di lalui nya tadi adalah mimpi. Ian menghela napas dengan kasar. Tubuh nya bersandar di kursi pengemudi.


Tatapan nya menatap hampa ke sembarang arah. Ia menyeka sudut mata nya dan menghela napas. Tak ada yang menginginkan perpisahan namun terkadang perpisahan adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari situasi yang buruk. Ia harus berani mengambil langkah walau dalam kondisi terburuk sekalipun.


Ian menjalankan mobil nya menembus jalan raya. Sepanjang perjalanan pikiran nya berlari kemana-mana. Ia tersenyum miris saat menyadari suatu hal.


Harapan Rio benar-benar menjadi kenyataan....


Gw jadi janda sekarang......

__ADS_1


......____________________......


Happy thursday!♥️😘


__ADS_2