Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 112


__ADS_3

"Gw merasa ini juga gak adil buat lo... Lo bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari gw di bandingkan seorang janda dengan 2 anak, Yo". Ian menoleh pada Rio. Tatapan nya menyiratkan sebuah kesedihan dan keraguan.


"Gw gak sampai hati membiarkan lo yang banyak di puja-puja wanita malah memilih untuk menghabiskan sisa hidup lo dengan gw...."


Rio memegang kedua bahu Ian agar wanita itu menghadap ke arah nya. Rio sedikit menundukkan kepala melihat kedua manik mata Ian.


"Gw yang tahu hati gw sendiri, Ian. Gw yang tahu dengan siapa gw akan bahagia. Dan itu hanya dengan lo. Hanya lo wanita yang bisa isi hati gw dari dulu sampai sekarang". Ujar Rio.


Ian menggelengkan kepala nya pelan. "Yoo.. Gw gak sama lagi dengan gw yang dulu".


"People change Ian... Itu wajar. Gw juga berubah. Gw yang dulu bahkan sangat tolol. Gw yang dulu melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan kita berpisah. Dan sekarang gw gak mau mengulangi kesalahan bodoh lagi.. Gw gak mau melepas lo lagi dengan sia-sia".


Ian menatap ke dalam manik mata Rio. Pancaran mata pria itu memancarkan kesungguhan. Ian membuang muka dengan cepat menatap ke sembarang arah.


"Gw takut, Yoo.. Jujur aja gw takut dan belum siap..."


"Lo tau kan kalau gw juga masih rutin pergi konseling ke psikolog. Walau udah jarang kambuh, tapi gw masih suka sesekali nangis dalam tidur tanpa gw sadari. Lo yakin mau jadi-in wanita kurang waras seperti gw untuk jadi istri lo?". Ian terkekeh pelan.


"Gw udah punya anak 2".


"Mereka juga anak-anak gw". Ujar Rio.


"Tubuh gw udah melahirkan dua anak. Pasti udah banyak yang berubah. Di luar sana banyak yang lebih seksi". Ucap Ian lagi.


"Gw gak peduli itu..."


"Dan yang pasti tubuh gw udah tersentuh berulang kali dengan pria lain.." Ian tersenyum tipis seraya menatap Rio.


Rio terdiam. Sorot mata pria itu menusuk tajam menatap Ian.


"Damn it, Ian!". Ujar Rio dan dengan cepat pria itu menarik tubuh Ian ke arahnya.


Rio mencium bibir Ian dengan lembut. Ian menahan dada pria itu dengan kedua tangan nya namun Rio makin memperdalam ciuman di antara mereka.


Ian tak menolak lagi. Ia pasrah dan terbuai dengan ciuman lembut yang memberikan gelenyar aneh ke seluruh tubuh nya. Ian melingkarkan kedua tangan nya ke leher Rio. Pria itu semakin mengeratkan tangan nya yang berada di tengkuk leher Ian dan menarik tubuh Ian semakin erat dengan sisi tangan nya yang lain yang berada di pinggang Ian.


Rio melu*mat, mengulum, mencecap bibir Ian dengan pelan dan sangat lembut. Bukan ciuman penuh nafsu dan tergesa-gesa. Namun ciuman yang menyiratkan kerinduan serta penuh rasa cinta.


Ian melenguh tanpa sadar. Rio menyudahi ciuman di antara mereka. Keduanya saling bertatapan dengan jarak wajah yang amat dekat. Rio menempelkan dahi nya ke dahi Ian. Pria itu tersenyum hangat.

__ADS_1


"See? Bahkan alam bawah sadar lo masih bisa menerima sentuhan dari gw..."


Ian yang masih mengaitkan kedua tangan nya ke leher Rio sontak saja melepaskan diri dan menjauh beberapa langkah dari pria itu. Ia mengusap wajah nya kasar.


"Gw........"


"Gw gak akan memaksa lo... Gw sadar kalau gw juga pria brengsek yang pernah nyakitin hati lo. Gw juga berkontribusi dengan segala luka yang lo alami". Timpal Rio memotong ucapan Ian.


Ian menatap Rio dengan lekat. Raut wajah pria itu menyiratkan kesedihan saat berkata seperti itu pada dirinya.


Apa gw bisa menjalankan hubungan lagi dalam waktu dekat ini? Apa gw bisa mempercayai seorang pria lagi setelah bertahun-tahun mengalami banyak pengalaman yang tidak menyenangkan? dan..... apakah pria di hadapan gw ini gak akan menyakiti hati gw lagi?


Ian bertanya-tanya dalam hati seraya manik matanya tak lepas menatap Rio. Ia menghela napasnya pelan.


"Kasih gw waktu satu minggu untuk memikirkan semuanya, Yo. Apa lo bisa menunggu?". Sahut Ian akhirnya.


Rio mengangguk seraya mengulas senyum. "Tentu. Gw udah menunggu lo 10 tahun lamanya, nambah satu minggu sama sekali gak masalah..."


"Kalau gitu tunggu gw 2 tahun lagi..." Ujar Ian asal.


Rio melongo mendengar ucapan Ian. "Lo gak serius kan?". Raut wajah nya terlihat gusar.


"Lo kan udah nunggu gw selama 10.tahun. Hanya nambah waktu 2 tahun lagi gak susah kan?". Ucap Ian seraya menahan tawa. Sungguh Raut wajah gusar Rio benar-benar menggelitik hatinya.


"Why?". Tanya Ian seraya melipat kedua tangan di dada.


Rio menggaruk tengkuk leher nya dan melirik ke arah Ian.


"Gw bosan 10 tahun hanya main dengan sabun, Ian..." Gumam Rio pelan.


Ian terdiam. Otak nya beberapa detik mencerna maksud perkataan Rio. Entah memang pikiran nya juga kotor atau memang Ia pintar, Ia tahu apa maksud dari pria itu.


"YOYOOOOOO!!!!! MESUM BANGET LO GILAAA!!!". Ujar Ian seraya memukul bahu pria itu berulang kali dengan cukup keras.


Rio tertawa keras seraya menghindari pukulan Ian yang tak henti-henti.


Malam Hari


Setelah selesai makan malam bersama dengan keluarga nya dan menyiapkan kedua anaknya untuk pergi tidur, Ian memutuskan untuk bersantai di gazebo. Ia membawa sebuah laptop di tangan nya.

__ADS_1


Ian membuka laptop nya dan mengeluarkan sebuah usb berwarna merah yang berada di kantong piyama nya.


Flashback


"Lo lihat ini...."


Ian menatap sebuah usb yang berada di tangan Rio.


"Apa ini?"


"Itu usb lah..."


"Maksud gw, untuk apa lo ngasih gw usb ini?"


"Lo lihat aja apa isi di usb itu...."


Flashback Off.


Ya. Rio yang memberikan usb berwarna merah itu pada Ian dan kini Ia penasaran dengan isi dari usb tersebut.


Ian mengerutkan kening nya ketika membuka folder usb tersebut. Hanya ada 1 folder di dalam usb tersebut dan isi nya hanya seluruh foto diri nya.


Ian melihat satu per satu foto diri nya. Foto sejak Ia masih remaja, kuliah, bekerja semua ada di sana. Dan semua foto tersebut terlihat di ambil secara candid.


Ian membeku seketika ketika Ia menangkap beberapa foto diri nya saat sedang melakukan akad nikah dengan Ilham.


Bahkan dia memiliki foto ini?


Foto nya yang sedang memegang buku nikah bersampingan dengan Ilham dan tersenyum ke arah kamera.


Ian terus menscroll down foto-foto lain nya. Tanpa sadar air mata jatuh di pipi nya. Ian mengusapnya dengan cepat. Ian menyadari bahwa dalam kurun waktu 10 tahun ini, Rio tidak pernah lepas memperhatikan diri nya. Walau pria itu berada di beda benua dengan diri nya sekalipun, pria itu tetap memantau nya.


Ddrrr... ddrrrtt


Ponsel Ian bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Ian meraih ponsel nya dan membuka pesan tersebut.


"Apa lo udah lihat isi usb itu? Gw gak pernah berhenti memikirkan lo sedetik pun sejak kita berpisah..."


Ian tanpa sadar menangis membaca pesan yang masuk dari Rio. Ia bahkan tak tahu mengapa Ia menangis. Apakah itu karena terharu? Entah lah...

__ADS_1


......____________......


Good Night!😘


__ADS_2