Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 117


__ADS_3

"Temui Karin..." Ujar Ian saat keduanya tengah duduk bersandar ke headboard ranjang setelah 'bermain' panas.


Rio menoleh ke arah Ian dengan raut wajah terkejut. "Apa? Gw gak salah dengar nih?". Tanya Rio dengan nada tak percaya.


Ian menghadap ke arah Rio seraya menganggukkan kepala. "Lo gak salah dengar. Gw minta lo untuk temui Karin".


"Untuk apa?". Tanya Rio.


"Setidaknya kalian berdua udah menjalani pertunangan selama 2 tahun. Menghabiskan waktu bersama. Apa benar gak ada perasaan walau hanya sedikit untuk dia?". Tanya Ian memastikan.


Rio menggelengkan kepala. "Gak ada sama sekali. Gw hanya menganggap dia teman sama seperti ke Manda atau Eca".


"Jadi buat apa lo minta gw temui dia?".


Ian mengedikkan bahu. "Dia mau pindah ke Melbourne, temui lah walau hanya untuk salam perpisahan. Di mana rasa sopan santun yang lo gembor-gemborkan dulu waktu pacaran sama gw? Seingat gw dulu lo selalu beralasan hanya sekedar menjaga kesopanan kalau menyangkut tentang dia". Ian menyindir halus seraya mencibir.


"Gak mau sopan lagi. Gara-gara sopan gw kehilangan lo". Ujar Rio dengan tatapan serius. "Jadi jangan minta gw untuk ketemu dia".


Ian tersenyum geli melihat raut wajah Rio yang kesal.


***


2 Bulan Kemudian


Hari pernikahan antara Ian dan Rio semakin dekat, keduanya masih melakukan aktifitas seperti biasanya. Gaby dan Gazy, kedua orang tua Rio memilih untuk menetap sementara di Jakarta hingga pesta pernikahan di laksanakan.


Ian yang sedang duduk di sebuah cafe menunggu seseorang, pikiran nya melayang ke beberapa minggu yang lalu ketika Ia dan Gaby berbincang empat mata.


Flashback


"Momi... Apakah momi benar-benar merestui Rio menikahiku? Aku akan mundur jika momi keberatan. Aku tidak mau Rio menikah tanpa restu darimu.. Aku sadar restu orang tua amatlah penting untuk kelanggengan rumah tangga seorang anak, Mom".


"Aku merestui kalian berdua. Dari awal aku selalu setuju putraku bersama dengan kamu. Tidak ada yang perlu kamu kuatirkan".


"Apakah kamu tidak akan menyesal menerimaku sebagai menantu mu? Di luar sana banyak yang lebih baik dari pada aku".


"Bicara apa kamu sayang? Sejak awal kamu lahir ke dunia, kamu adalah putriku. Bahagia putraku adalah bersama mu. Aku mengenal Imran dengan sangat baik, papa mu berhasil mencetak ke empat anaknya menjadi anak-anak yang patut di banggakan".


"Tapi... Masa lalu ku...."

__ADS_1


"Masa lalu mu juga ada campur tangan Rio di dalam nya. Masa lalu mu yang buruk akibat dari putra ku juga. Seharusnya kami para orang tua yang meminta maaf karena kami tidak peka dengan keadaan anak-anak kami".


Flashback Off


Ian menghela napas panjang ketika mengingat kembali percakapan nya dengan Gaby. Lalu kini apa yang perlu Ia pikirkan? Semua keluarga sudah merestui pernikahan dirinya dengan Rio.


"Lama nunggu?". Tanya seseorang seraya menggeser kursi ke belakang.


Ian menoleh dan mendapati Ilham sudah duduk di hadapan nya. Ian menyunggingkan senyum tipis.


"Belum lama..." Ucap Ian.


"Ada apa kamu minta ketemu aku di sini?". Tanya Ilham seraya menatap Ian.


Ian membuka tas nya dan mengambil sebuah kartu undangan. Ia menahan nya sesaat seraya menatap Ilham lalu memberikan kartu tersebut pada pria itu.


"Aku hanya mau menyampaikan ini... Terserah kamu mau datang atau tidak. Tapi jika kamu memutuskan datang, bawalah kartu kecil itu dengan mu karena itu akses masuk ke dalam pesta nya".


Ilham menerima kartu yang berwarna cokelat tua dengan tulisan emas. Pria itu termenung melihat kartu tersebut. Tak lama terukir senyum tipis di bibir nya.


"Ternyata kalian benar-benar menikah...." Ucap Ilham tetap melihat kartu.


"Apa kamu sudah tau?". Tanya Ian penasaran.


Raut wajah Ian terkejut bukan main. "Benarkah?"


Bisa-bisanya Rio gak bilang tentang ini ke gw! Omel Ian dalam hati.


"Pria itu benar-benar gerak cepat dan gak memberi aku celah sedikit pun untuk berusaha rujuk sama kamu hehehe". Ilham terkekeh.


"Dia meminta izin ke aku untuk menjadi papa kedua bagi anak-anak kita". Lanjut Ilham seraya menatap Ian dengan lekat.


"Apa respon kamu?". Tanya Ian.


Ilham menyandarkan punggung nya ke kursi. "Aku bisa apa? Dari anak-anak kita lahir, aku gak bisa pungkiri bahwa dia pun menjadi bagian dalam tumbuh kembang Varo dan Kai. Justru mungkin dia yang lebih banyak memberi perhatian sebagai seorang ayah pada mereka di bandingkan dengan aku, papa kandung nya".


Ian tersenyum miris. "Tapi kamu tetap papa kandung mereka. Anak-anak pun menyayangi kamu".


"Dan juga menyayangi Rio...." Sambung Ilham.

__ADS_1


Ian tersenyum seraya menganggukkan kepala.


Ilham mendesah pelan dan menyugar rambutnya kasar. "Penyesalan selalu datang terlambat bukan? Aku menyesal tapi semua jalan untuk rujuk dengan kamu sudah tertutup semua. Dan aku yakin kamu juga tidak akan sudi untuk kembali pada pria seperti aku".


Ian menautkan jari jemari nya di atas meja. Manik mata nya menatap lekat pria di hadapan nya.


"Bisakah kita menutup masa lalu dan kembali lagi sebagai teman? Aku cukup menikmati masa-masa kita berteman. Kamu memberiku banyak pengalaman yang mungkin tidak akan aku dapat kan ketika aku berada dalam lingkungan ku". Ujar Ian lugas.


Bisa kah aku? Ian bertanya dalam hati.


"Jangan memaksakan diri. Aku tau kamu masih trauma tentang apapun yang menyangkut aku. Pelan-pelan saja". Ucap Ilham.


"Bagaimanapun kita perlu menjaga hubungan baik. Ada Varo dan Kai di antara kita berdua".


Ilham mengangguk. "Aku mengerti".


Ilham beranjak berdiri dan mengulurkan tangan nya. Ian menatap uluran tangan pria tersebut seraya ikut berdiri.


"Semoga kamu bahagia dengan pernikahan keduamu. Aku tidak mungkin datang. Tapi aku yakin Rio akan menjaga dan memberikan kamu kebahagiaan berkali-kali lipat di bandingkan dengan ku".


Ian menatap manik mata Ilham yang terlihat sekali memancarkan kesedihan. Ian lalu menerima uluran tangan Ilham dan keduanya berjabat tangan.


Sepeninggal Ilham, Ian pun segera berlalu menuju ke mobil yang Ia parkir tepat di depan Cafe. Ian mengeluarkan ponselnya dan langkahnya terhenti ketika membaca sebuah pesan yang masuk sejak dari tadi.


"Sayang, malam ini teman-teman mau adakan pesta lajang untuk gw. Boleh gw datang?"


Ian menghela napas kasar seraya membanting pintu mobil saat dirinya telah masuk.


Gw lupa kalau calon suami gw memang bujangan!!!!!


......___________________......



Bucin



Bucin 2🤧

__ADS_1


Have a great weekend semua nya ya!


Kecup hangat dari aku untuk kalian😘


__ADS_2