Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 111


__ADS_3

"Ke apartemen gw dulu kan?". Tanya Rio seraya menoleh ke arah Ian yang sedang meminta mobil nya di antar ke depan lobby pada petugas valet.


"Memang nya lo mau kemana lagi selain ke apartemen?". Tanya Ian yang masih sebal dengan tingkah Rio sebelumnya.


Rio mengulum senyum.


Tak lama kemudian mobil Ian pun datang, petugas valet membantu Ian dan Rio memasukkan barang-barang Rio ke dalam bagasi. Setelah selesai Rio membuka dompet nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru dan memberikan nya kepada petugas valet.


"Simpan untuk mu dan teman yang lain". Ucap Rio saat memberikan tip.


Petugas valet tersebut mengangguk seraya mengucapkan terima kasih.


Ian yang melihat itu lantas segera masuk ke dalam mobil. Namun pintu mobil pun terbuka. Ian mendongakkan kepala nya seraya mengeryitkan dahi.


"Apa?". Tanya Ian.


Rio mengangkat dagu nya seolah memberitahu Ian untuk berpindah tempat.


"Duduk di sebelah. Gw yang nyupir". Ujar Rio.


Ian menghela napas nya dan lantas pindah ke kursi penumpang. Rio pun masuk dan duduk di kursi pengemudi dan segera menjalankan mobil menuju apartemen nya.


Hanya perlu waktu 10 menit mereka sudah sampai ke gedung apartemen Rio. Lagi-lagi karena sebenarnya Rumah kedua orang tua Ian, Apartemen Rio maupun hotel tempat Rio menjalani karantina berada dalam area yang sama satu sama lain.


Rio meminta bantuan pada seorang security untuk membantu nya membawa barang-barang nya dengan trolley bak hotel yang memang di sediakan di dekat deretan loker para penghuni apartemen.


Ian menggesekkan kartu akses dan memindai sidik jari nya pada daun pintu unit apartemen Rio. Rio yang melihat tingkah Ian terus saja mengulum senyum tak henti. Pria itu merasa sangat bahagia karena Ia bisa melihat langsung Ian di hadapan nya setelah beberapa bulan tidak bertemu.


Setelah selesai menurunkan barang-barang Rio, sang security pun pamit hingga tinggal lah Ian dan Rio berdua. Ian melangkah kan kaki nya menuju kulkas dan mengambil sebuah botol air mineral. Ian duduk di meja bar yang terletak di area dapur.


Rio membuka kulkas dan terkejut ketika melihat kulkas nya penuh dengan berbagai makanan dan minuman. Ia menoleh pada Ian dengan raut wajah heran.


"Lo yang isi kulkas gw?". Tanya Rio.


Ian mengedikkan bahu. "Siapa lagi memang nya yang bisa masuk ke sini selain lo dan gw?".

__ADS_1


Rio tersenyum manis. "Thank you..."


"Hmmm.." Ian menggumam.


Ian beranjak dari area pantry dan berjalan menuju ruang tengah meninggal kan Rio yang sedang mengambil blueberry cheesecake dari dalam kulkas. Ian memang sengaja mengisi kulkas pria itu dengan berbagai makanan dan minuman. Selama ini Ia tahu bahwa Rio sering sekali memasan makanan siap saji pagi, siang dan malam. Dapur apartemen pria itu bahkan lebih bersih dari pada dapur pajangan yang berada di toko-toko!


Rio menghampiri Ian dengan membawa dua piring kecil yang masing-masing berisikan sepotong blueberry cheesecake. Pria itu duduk tak jauh dari tempat Ian berada.


Ian mengambil piring kecil yang di berikan oleh Rio dan segera memakan kue tersebut dalam potongan-potongan kecil.


Sejenak hanya tercipta keheningan di antara mereka. Kedua nya sibuk dengan pikiran nya masing-masing. Tak ada yang memulai percakapan sama sekali. Hanya suara dari TV yang menggema di antara mereka.


Rio menoleh mengamati Ian yang sedang menatap layar TV di hadapan nya dengan serius. Pria itu tahu bahwa Ian sebenar nya tidak sedang menonton. Acara yang di tampilkan channel TV tersebut adalah acara pertandingan volley yang mana Rio sangat tahu bahwa Ian paling tidak suka menonton nya. Ia terus saja mengamati wajah Ian dengan cermat.


"Apa?". Tanya Ian yang merasa terusik karena sadar Rio memperhatikan diri nya terus menerus.


Rio menggelengkan kepala nya pelan. "Gak apa-apa".


Ian menghela napas nya perlahan dan merubah posisi tubuh nya kini menghadap ke arah Rio.


"Heemmm.." Gumam Rio.


"Bokap gw pasti udah ngomong sesuatu kan sama lo?". Tanya Ian.


"Ngomong apa?".


"Yooooo.. Gw serius sekarang nih". Ujar Ian.


"Gw juga serius. Apa yang lo maksud?". Tanya Rio menatap Ian.


Ian menghela napas kasar. Entah Rio tahu atau pura-pura tidak tahu dengan maksud perkataan nya.


"Soal pernikahan..." Ucap Ian pelan.


Rio tersenyum. "Oohh.."

__ADS_1


Ian mengernyitkan dahi seraya menatap heran pada pria yang berada di hadapan nya. "Kok OH aja sih??".


"Gw harus jawab apa harusnya? Kalau soal itu, sebelum bokap lo ngomong ke gw, gw memang udah ada rencana sendiri mau langsung nikahin lo".


Ian melongo mendengar penuturan Rio yang seakan tanpa ada beban sama sekali.


"Kok lo kalau ngomong enteng banget sih? Ini tentang pernikahan, Yo!".


"Lho.. Dari usia kita 20-an gw juga udah ajakin lo nikah terus-terusan dalam berbagai momen kan? Jadi ini bukan hal yang baru buat gw". Ucap Rio.


"Tapi kondisi nya sekarang berbeda, Yo. Gw juga gak sama lagi seperti dulu".


Rio mengamati Ian dengan seksama. "Lo masih sama. Gak ada yang berubah". Ujar Rio.


"Gw tau mungkin ini terlalu cepat buat lo. Dan gak seharusnya omongin pernikahan di saat lo baru bercerai satu minggu yang lalu".


"Kalau lo tau kenapa lo mau aja ikutin bokap gw?!". Tanya Ian.


"Karena gw memang mau serius sama lo, Ian".


Rio menggenggam kedua tangan Ian dengan erat. Manik mata mata nya menatap lekat menatap Ian.


"Gw tau kalau ada luka yang masih belum sembuh. Ada trauma yang sama sekali belum hilang. Ada ketakutan, kegundahan di dalam hati lo. Gw tau itu.. Tapi, kita hadapin sama-sama. Gw mau berada di samping lo saat lo memulihkan diri lo dari luka masa lalu".


Ian menggelengkan kepala nya pelan. Ia menarik kedua tangan nya dari genggaman Rio.


"Sulit untuk gw saat ini untuk percaya dengan sebuah hubungan yang mengikat, Yo". Ujar Ian seraya beranjak berdiri dan menuju balkon apartemen.


Ian berdiri menatap pemandangan Ibu kota di siang hari. Jari jemari nya menggenggam erat pagar besi. Rio mengikutinya dan berdiri tepat di sebelah Ian.


"Gw merasa ini juga gak adil buat lo... Lo bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari gw di bandingkan seorang janda dengan 2 anak, Yo". Ian menoleh pada Rio. Tatapan nya menyiratkan sebuah kesedihan dan keraguan.


"Gw gak sampai hati membiarkan lo yang banyak di puja-puja wanita malah memilih untuk menghabiskan sisa hidup lo dengan gw...." Lanjut Ian seraya bibir nya menyunggingkan senyuman miris.


......_________________......

__ADS_1


Next pas aku pulang ngantor! Ini nyuri2 waktu di sela istirahat nih😆


__ADS_2