
Di dalam apartemen sempat tercipta keheningan yang cukup lama. Hanya suara tangis Ian yang terdengar sangat pilu mengisi ruang tengah apartemen. Rio beranjak berdiri dan melangkah menuju area dapur. Ia memutuskan untuk membuat secangkir cokelat hangat favorit Ian. Ia yakin cokelat hangat mampu memberikan ketenangan untuk wanita itu karena kandungan trithopan di dalam nya.
Tak lama Rio memberikan secangkir cokelat hangat itu pada Ian. Ian mendongakkan kepala nya seraya menyeka air mata di wajah nya.
"Minum ini dulu supaya lo lebih rileks..." Ucap Rio.
Ian menerima cangkir tersebut dan menyesap nya perlahan. Sekali teguk.. dua kali teguk..
Rio tersenyum samar melihat Ian yang terlihat menikmati minuman favorit nya itu. Rio menghempaskan diri nya kembali ke atas sofa. Ia hanya menatap Ian tanpa sepatah kata apapun.
Ian menaruh cangkir yang berisi cokelat hangat ke atas meja. Ia menarik napas dalam-dalam dan merapihkan rambut serta mengusap wajah nya dengan tisu untuk menyingkirkan jejak-jejak tangisan nya walau tetap saja percuma. Matanya kini benar-benar sembab. Sepertinya Ia perlu mengkompres kelopak matanya dengan sendok dingin atau lap dingin!
"Lo kemana aja selama seminggu ini?". Tanya Ian menatap Rio saat Ia telah merasa lebih baik.
"Gw gak kemana-mana. Ada di apartemen dan pergi ke kantor". Jawab Rio.
"Gw pikir lo pergi ke LA dan gak akan pernah kembali lagi ke sini". Gumam Ian tersenyum tipis.
Rio menggerakkan tubuh nya menghadap ke arah Ian. Kedua tangan nya memegang pundak wanita itu. Mata mereka saling menatap.
"Gw gak akan ngulangin kebodohan yang sama.. Gw gak akan pernah lagi ninggalin lo.. Gak akan pernah". Ucap Rio tegas. Manik mata nya menatap tajam ke arah Ian.
Ian tersenyum tipis. "Gak usah lebay. Suatu hari lo juga bakalan ninggalin gw kalau lo dapat pendamping hidup yang tepat".
Rio kembali menyenderkan punggung nya ke sofa. Ia menatap lampu kristal yang menerangi mereka.
"Gak ada wanita yang tepat di hati gw selain lo. Gw juga gak minat menjalin hubungan dari awal dengan seorang wanita. Harus kenalan, mengenal lebih dalam lagi... Rasanya malas dan melelahkan di usia gw sekarang".
"Kalau begitu pikiran lo, bisa jadi lo hidup sendiri selamanya, Yo". Ujar Ian terkekeh kecil.
"Gw memang lagi mempersiapkan diri gw untuk hidup sendiri. Atau...... gw tunggu janda lo". Ucap Rio menoleh pada Ian seraya tersenyum nakal.
__ADS_1
ian menepuk bahu Rio cukup keras. "Lo sahabat macam.apa doain gw jadi janda?!".
Rio tertawa. "Gw hanya bercanda. Lo tuh perlu ketawa. Gw pusing lihat lo setiap ke apartemen gw pasti nangis terus. Lo pikir apartemen gw kuburan?".
Ian mencebikkan bibirnya. Ia segera beranjak berdiri. "Ya udah kalau lo pusing. Gw pulang aja sekarang!". Ucap nya seraya melangkah.
Namun dengan cekatan Rio menarik Ian hingga terhempas duduk kembali di sofa. Posisi tubuh keduanya tak berjarak. Rio menatap intens manik mata Ian. Keduanya saling bertatapan seakan ada magnet yang saling tarik menarik. Rio perlahan semakin mendekatkan wajah nya ke arah Ian. Ian diam membeku tak berkutik. Posisi mereka saat ini sangatlah tidak aman bagi dua insan manusia berbeda jenis kelamin.
Namun Rio tiba-tiba saja menjauhkan wajah nya dari wajah Ian. Kedua telapak tangan nya menangkup wajah Ian. Manik mata nya menatap lurus pada Ian.
"Sepertinya gw memang benar-benar harus hidup sendiri atau nungguin lo". Gumam Rio seraya menatap Ian.
Ian mengerutkan kening. "Hah? Maksud lo gimana?".
Rio menggelengkan kepala nya dengan senyum terukir di bibir. "Urusan lelaki. Lo gak perlu tau".
Karena gw merasakan kembali hasrat gw yang selama bertahun-tahun ini terkubur! Dan hanya lo yang bisa membangkitkan itu!
"Jadi.... sekarang gw boleh tanya sama lo kan? Kenapa tadi lo nangis?". Tanya Rio merubah arah obrolan antara mereka.
Ian menghela napasnya. "Gw tadi ke Bekasi... tapi lo tau lah ujung nya seperti apa..."
"Kalian berdua ribut lagi?".
Ian mengangguk. Rio terlihat mengusap wajah nya. "Sekarang apa yang mau lo lakukan?". Tanya Rio menatap Ian.
Ian mengedikkan bahu nya. "Jujur aja gw bingung harus gimana, Yo..."
"Gw udah berusaha untuk membicarakan semua ini sama dia secara baik-baik. Tapi kita selalu berujung ribut. Dia selalu gak bisa jaga emosi". Ian menatap nanar ke sembarang arah.
"Dia kayak stress. Sedikit aja gw berbicara sama dia, pasti dia langsung membentak gw... Buat seorang istri rasanya bentakan dari suami itu sangat menyakitkan..." Ian tersenyum simpul.
__ADS_1
"Mungkin pertanyaan gw ini konyol, tapi gw pengen menegaskan suatu hal sama lo". Ucap Rio.
Ian menoleh menatap Rio menunggu pria itu melanjutkan ucapan nya.
"Lo sayang dengan dia? Cinta sama dia?".
Ian diam membisu. Ia terlihat berpikir sejenak dan mengulas senyuman di bibir.
"Gw juga gak tau jawaban nya kalau lo nanya begitu ke gw.. Gw hanya merasa senang ketika dia gak berada dalam 1 tempat atau kamar dengan gw, gw dan dia pun jarang ngobrol, jarang menghabiskan waktu berdua, tapi terlepas dari itu semua gw merasa kecewa ketika tau dia selingkuh di belakang gw.. dan gw juga merasa sakit yang asing ketika gw meminta cerai sama dia".
Rio hanya diam mendengarkan Ian bicara mengenai perasaan nya tentang Ilham.
"Apa itu bisa di bilang cinta?". Ian bertanya pada Rio.
Rio menghela napas kasar. "Bagaimanapun lo dan Ilham udah menjalani pernikahan selama 9 tahun. Sedikit banyak pasti ada ikatan antara kalian entah itu ikatan yang kuat atau rapuh".
"Tapi setelah semuanya ini, lo lebih condong mau memilih langkah apa? Gw sebagai orang luar hanya bisa memberi saran dan dukungan. Lo pasti tau resiko yang akan lo dapat ketika lo harus memilih antara bertahan atau melepaskan". Lanjut Rio.
"Gw seperti hilang arah, Yo. Gw mau balik ke belakang gak bisa. Gerak maju pun gw masih merasa semua abu-abu dan gak tau harus melangkah dari mana". Ian menatap Rio seraya tersenyum simpul.
Rio menggenggam kedua tangan Ian. Manik mata nya menatap Ian dengan lekat. "Kalau lo bingung, gw yang akan membawa lo kembali ke tempat seharusnya lo berada. Tapi kalau lo merasa pernikahan lo masih bisa di perbaiki, silakan coba perbaiki... Gw gak akan melarang. Walau gw sebenarnya benar-benar berharap lo jadi janda aja".
Mendengar penuturan Rio, Ian lantas memukul lengan pria itu. "Udah kedua kali nya lo ngedoain gw jadi janda, Yoyo!!!!".
Rio tak menjawab melainkan pria itu tertawa amat keras seraya menghindari pukulan-pukulan Ian selanjutnya yang mungkin akan menghampiri dirinya.
......___________......
Good night!😴
Next bab pagi2an lah yaa😘
__ADS_1